Bahas Pro-Kontra Legalisasi Ganja, UKM Peduli Napza Undip Gelar Diskusi


SEMARANG - UKM Peduli Napza Universitas Diponegoro (Undip) menyelenggarakan acara “NGOPI AROMA GANJA (Ngobrol Pintar Argumen Mahasiswa Akibat Gundah Gulana Legalisasi Ganja)” dengan tema Pesona Mariyuana Pengusik Kedamaian Negara (31/8/2019). Acara diskusi ini membahas mengenai pro kontra legalisasi ganja di Indonesia. Yang perlahan mulai memudar akan tetapi masih menjadi topik hangat di masyarakat.

Acara dimulai pukul 08.45 di Ruang Teater Perencanaan Wilayah Kota Universitas Diponegoro (Undip) dengan menghadirkan empat narasumber yang expert pada bidang kenarkobaan, hukum, kesehatan serta Lingkar Ganja Nusantara. Narasumber tersebut adalah Susanto,S.H., MM. (Kepala Bidang Pemberantasan dan Pemberdayaan Masyarakat BNNP Jawa Tengah), Leony Sondang Suryani, S.H. (Juara Lomba Debat Konstitusi Nasional tahun 2018), Saebani,S. KM., M. Kes (Dosen Toksikologi Forensik Universitas Diponegoro), dan Yohan Misero, S.H. (Lingkar Ganja Nusantara).

Diskusi ini dipandu oleh moderator Muhammad Khairunaim dengan dihadiri 80-an peserta yang berasal dari berbagai kalangan, baik dari mahasiswa masyarakat umum serta oraginasi-organisasi sosial di daerah Semarang. Bukan hanya itu karena acara ini merupakan satu-satunya acara yang berani mengangkat isu mengenai pro kontra legalisasi ganja, acara ini juga dihadiri mahasiswa dari luar kota yang benar-benar ingin menyaksikan dan berdiskusi dengan ahli pada bidangnya.

Pada sesi pertama ini setiap pembicara memaparkan pandangan mereka mengenai tema yang diangkat dalam acara berdasarkan bidang masing-masing. Moderator memantik jalannya sesi pertama ini dengan meminta penjelasan pada bidang kesehatan. Kemudian moderator melempar pertanyaan mengenai pandangan terhadap isu yang diambil pada acara kepada LGN.

“Charlotte Fiqi seorang anak yang menderita sindrom yang penyembuhannya menggunakan tanaman ganja yang diproduksi menjadi obat bernama charlotte swap. Dalam pelarangan tanaman ganja dalam peredarannya, maka orang akan tetap melakukan penyalagunaan dengan menggunakan ganja sintetis yang jauh lebih berbahaya. Penggunaan ganja di sini dilihat dalam medis yang diIndonesia sendiri tidak diperbolehkan, sedangkan dalam masyarakat ada penyakit yang memang disembuhkan dengan penggunaan tanaman ganja. Thailand serta Korea Selatan sudah melegalkan tanaman ganja namun dengan administrasi dimana masyarakat menggunakan tanaman ganja lewat pemerintah yang mengatur.Negara bagian AS yang menggunakan ganja lebih sedikit dalam overdosis dalam penggunaan opioid dibandingkan negara yang melarang penggunaan ganja dikarenakan penggunaan ganja dan opioid bersamaan membuat kecenderungan overdosis opioid berkurang. Ganja medis sudah ada dipatenkan oleh suatu perusahaan farmasi yang digunakan untuk pasien epilepsi yang mungkin di Indonesia dapat dilaksanakan dalam tahun yang akan datang,” ujar Yohan Misero, S.H. LGN Pusat.


BNN sebagai pencegah penyalahgunaan narkoba juga memberikan pandangannya mengenai tema yang diangkat dalam acara ini.

”Legalisasi ganja, dalam UU nomor 35 tahun 2009 dimana terjaminnya persediaan narkotika untuk medis dan melakukan pemberantasan terhadap penyalahgunaan zat narkotika. Legalisasi ganja dalam UU dimana memasukkan ganja dalam zat narkotika gol 1 yang termasuk kecanduaan golongan tinggi dimana siapapun yang melakukan penyalahgunaan akan di atur sesuai dengan UU pasal 127 dan rehab pasal 54 dan menentukan bentuk rehab dalam pasal 103. Ganja di Indonesia penggunaannya terbesar dari negara lain yang penggunaannya tentu dilarang di Indonesia sesuai hukum yang ada namun jika hal itu dilihat dalam tepat guna dalam kesehatan dan hal itu harus bisa dibuktikan dengan penelitian dan akibat dari penggunaan ganja dalam kesehatan efek yang terjadi dapat di atasi namun hal itu di Indonesia masih terlalu jauh sebelum pelegalan tersebut dapat dilakukan,” ujar Susanto, S.H., M.M. Kepala Bidang Pemberantasan dan Pemberdayaan Masyarakat BNNP Jawa Tengah.

Di sesi pertama ini diakhiri dengan pandangan hukum mengenai isu yang diangkat dalam tema acara ini. Di sesi kedua merupakan sesi diskusi, acara ini memiliki konsep diskusi dua arah dimana peserta juga dilibatkan untuk memberikan argumennya dalam acara ini. Karena kembali lagi acara ini berguna untuk menambah wawasan akademik bagi mahasiswa, dengan berdiskusi pada pakar masing-masing bidangnya.

Jalannya sesi kedua ini santai namun kritis pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan peserta sangat kritis dan menggali apa yang terjadi terhadap Tema ”Pesona Mariyuana Pengusik Kedamaian Negara”. Dengan pembicara yang expert peserta puas terhadap jawaban dari masing-masing pembicara.

Di sesi ketiga acara merupakan sesi tanya jawab, bagi peserta yang ingin menggali lebih dalam terhadap tema yang diangkat dalam acara ini menanyakan langsung dengan pembicara. Acara ditutup dengan Closing statement dari masing-masing pembiacara. Dalam intinya pro kontra legasasi ganja masih harus digodok untuk menghasilkan titik temu yang pasti.

Pembicara yang hadir sangat mengapresiasi acara ini karena merupakan acara pelopor diadakan dimana mempertemukan expert pada bidang hukum, kenarkobaan, kesehatan dan LGN yang membahas isu pro kontra legalisasi ganja.Serta acara ini merupakan acara yang diminati dikarenakan antusiasme pendaftar sangat tinggi bahkan sampai luar kota Semarang.

Ngopi Aroma Ganja?  Bukan Ngopi Biasa.
NOTULEN DAN MATERI DALAM ACARA INI DAPAT DIUNDUH DI