11 Warna Bendera

Representasi dari 11 fakultas di Undip

Patung Diponegoro (Pangeran Diponegoro)

Icon-nya Kampus Universitas Diponegoro

Tugu Bundaran Kampus Undip Tembalang

Pintu gerbang utama masuk kampus Undip Tembalang

Ruang Terbuka Hijau Kampus Undip

Menuju Kampus Undip yang Asri dan Sejuk untuk Aktivitas Mahasiswa dan Masyarakat Sekitar

Gedung Prof. Soedarto S.H

Pusat Kegiatan Seminar, Workshop, Seni, Verifikasi-Registrasi, dll

Gedung ICT Centre dan Laboratorium Terpadu

Pusat Informasi Dalam dan Luar Negeri, IT, dan Laboratorium Penelitian

Masjid Kampus (Maskam) Undip

Pusat Kegiatan Islam Mahasiswa (Kajian, Wisata Ruhani, Wisata Ilmu, Mentoring, TPQ, Muslimah Training, dll)

Rusunawa Undip

Fasilitas Tempat Tinggal yang disediakan Pihak Kampus Bagi Mahasiswa

SPBU Undip Tembalang

Stasiun Pengisian Bahan Bakar yang Terintegrasi di Dalam Area Kampus. Satu-satunya di Jawa Tengah

Rumah Sakit Nasional Diponegoro (RSND)

Rumah Sakit Universitas Milik Undip Berstandar Nasional. Satu-satunya di Jawa Tengah

'Futsal Indoor Stadium' Undip

Stadion Futsal Kampus Undip Berkelas Internasional. Satu-satunya di Jawa Tengah

Bendungan Waduk Undip

Mega Proyek Pembangunan Waduk Kampus Undip. Satu-satunya di Jawa Tengah

Waduk Undip (Waduk Pendidikan Diponegoro)

Area Konservasi, Wisata Pendidikan dan Penelitian Mahasiswa, Pembangkit Listrik, dll. Satu-satunya di Jawa Tengah

Stadion Sepakbola Undip

Pusat Kegiatan Olahraga Sepakbola di Kompleks Gelora Undip Tembalang, Semarang

Upacara PMB di Stadion Undip

Lebih Dari 50 Ribu Mahasiswa Menimba Ilmu di Kampus Undip

Upacara Penerimaan Mahasiswa Baru di Stadion Sepakbola Undip

Menerima rata-rata 10 Ribu Mahasiswa Baru Tiap Tahun

Widya Puraya

Salah Satu jantung Kampus Undip Tembalang (UPT Perpustakaan, LP2MP, Posko KKN, Lapangan Upacara, dll)

Manfaatkan Jagung, Mahasiswa Undip Ciptakan Yoghurt Antikanker


SEMARANG - Meningkatnya penyakit degeratif di Indonesia menuntut adanya perkembangan pangan fungsional yang tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan energi juga dapat memberikan efek yang menguntungkan bagi kesehatan salah satunya yoghurt.

Yoghurt merupakan minuman fungsional dari susu yang mengandung vitamin, mineral, protein, lemak serta probiotik yang sangat baik bagi kesehatan pencernaan, mencegah penyakit degeneratif serta menjaga kebugaran tubuh.

Namun kebanyakan yoghurt komersial dihasilkan dari susu sapi yang mempunyai banyak kalori serta mengandung pemanis buatan sehingga tidak bisa dikonsumsi bagi penderita diabetes dan lactose intolerance (tidak mampu mencerna laktosa susu).

Hal inilah yang menginspirasi 3 mahasiswa Teknologi Pangan Universitas Diponegoro (Undip) yaitu Ana Rohana Nuranggreni Wijayanti, Mina Khusania dan Zevira Aldilata Safitri untuk menciptakan minuman fungsional yoghurt nabati, dan dengan bimbingan Ibu Dr. Heni RIzqiati, S. Pt., M.Si. berhasil menciptakan ’Maysghurt Mechi’ yoghurt jagung dengan penambahan buah parijoto.

Melihat kandungan gizi jagung cukup tinggi dan produksinya yang besar di Indonesia membuat salah satu tim peserta PKM ini memilih jagung sebagai bahan utama pembuatan yoghurt nabati. Dan untuk meningkatkan nilai gizi dari yoghurt jagung mereka menambahkan buah parijoto.

Buah parijoto merupakan buah lokal yang banyak ditemui di Gunung Muria, Kudus, buah parijoto sendiri dikenal sebagai buah yang sangat baik bagi ibu hamil, parijoto juga mengandung senyawa antioksidan yang untuk mencegah terbentuknya radikal bebas pada tubuh sehingga dapat mencegah penyakit degeneratif seperti kanker, diabetes dan jantung koroner.

Antioksidan dari parijoto yaitu senyawa flavonoid yang berpotensi sebagai antidiabetes. Flavonoid juga dapat berfungsi sebagai antikanker dan menghambat penyebaran tumor. Antioksidan pada buah parijoto dapat menurunkan kolesterol dalam darah sehingga dapat membantu pencegahan hipertensi dengan penurunan tingkat stress yang disebabkan oleh gangguan akibat dari radikal bebas.

Maysghurt Mechi memiliki rasa asam menyegarkan dengan sedikit rasa jagung yang khas, sehingga cukup disukai oleh panelis.


Maysghurt Mechi merupakan salah satu upaya pengembangan bahan pangan lokal Indonesia, dan dengan sedikit sentuhan teknologi dapat menjadi produk pangan yang bermanfaat untuk masyarakat luas.

“Maysghurt Mechi kami harap dapat menjadi produk minuman fungsional  yang dapat menjadi solusi atas permasalahan penyakit degeneratif di Indonesia serta menjadi pengangkat potensi lokal Indonesia, tutur mereka.

Anggota :
Ana Rohana Nuranggreni Wijayanti
Mina Khusania
Zevira Aldilata Safitri

Pembimbing: Dr. Heni Rizqiati, S. Pt., M.Si.
Teknologi Pangan UNDIP

Box Ozone Maritim Karya Mahasiswa Undip Bantu Nelayan Atasi Kerugian


SEMARANG - Indonesia merupakan negara maritim yang kaya akan hasil perikanan. Indonesia menduduki posisi kedua produsen kedua terbesar di dunia untuk produksi perikanan tangkap beberapa tahun yang lalu.

Tetapi sangat disayangkan tingginya produksi ikan tangkap tidak diimbangi dengan penyimpanan yang baik. Hal ini disebabkan nelayan Indonesia yang masih menggunakan penyimpanan konvensional berupa box ikan yang berbahan dasar gabus.

Box ikan memiliki kelemahan karena tidak dapat menghilangkan mikroorganisme penyebab pembusukan. Selain itu pendingin konvensional menggunakan gas pendingin dimana terkandung gas yang menyumbang penipisan lapisan ozon.

Dengan adanya kondisi tersebut, mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) yang terdiri dari Susilo Hadi (FSM 2017), Wening Septiyani (FKM 2016) dan Annisa Afifah N (FPIK 2016) menuangkan solusinya dengan menciptakan Box Ozone Maritim (BOM).

BOM (Box Ozone Maritim) merupakan alat untuk penyimpanan ikan dengan menggunakan thermoelectric dan ozon serta dilengkapi dengan tenaga surya. Ozone yang dimanfaatkan pada alat ini untuk membunuh bakteri yang dapat mempercepat pembusukan, sedangkan thermoelectric cooler digunakan sebagai pendingin yang ramah lingkungan dan memiliki pengaturan suhu.

Alat ini mudah untuk digunakan karena menggunakan sistem control otomatis serta dapat memanfaatkan tenaga surya yang dapat digunakan untuk para nelayan.

Melalui program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang diikuti, ketiga mahasiswa ini berharap alat tersebut dapat dimanfaatkan secara luas. Sehingga para nelayan tidak lagi banyak kehilangan pendapatan untuk membeli es yang harus diganti berulang kali atau menderita kerugian akibat ikan yang membusuk dan tidak layak jual. 

Mengenal TAB-FEZ3.1, Pupuk Tablet Multifungsi Karya Mahasiswa Undip


SEMARANG - Tiga mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) menciptakan formula pupuk TAB-FEZ3.1 (Tablet Bio-Organomineral Fertilizer 3 in 1). Tim yang beranggotakan Zakiyuddin Ahmad (S1 Agroekoteknologi), Chintya Ramadhani (S1 Agroekoteknologi), Chintia Damayani P. (S1 Agribisnis) menciptakan inovasi ini karena adanya permasalahan yang kompleks di lahan pertanian bawang merah.

Permasalahan yang muncul adalah degradasi lahan dan penyakit layu fussarium. Degradasi lahan mengakibatkan kerusakan ekosistem lahan, sedangkan penyakit layu fussarium dapat menyebabkan penurunan produksi 50% bahkan kegagalan panen. Hal ini diakibatkan oleh penggunaan pupuk dan pestisida anorganik secara tidak berimbang.

TAB-FEZ3.1 merupakan pupuk bioorganomineral berbentuk tablet yang terbuat dari campuran 3 komponen, yaitu bahan organik, mineral dan agensi hayati. Bahan organik berasal dari daun trembesi, komponen mineral berasal dari zeolit dan batuan fosfat serta komponen agen hayati adalah Trichoderma sp.,sekaligus pengendali penyakit layu fussarium pada bawang merah.


Penggunaan TAB-FEZ3.1 dengan dosis 20 ton/ha pada lahan bawang merah bermanfaat untuk meningkatkan jumlah umbi bawang merah hingga 34% dan dapat menanggulangi gagal panen bawang merah.

Tim yang dibimbing langsung oleh Ibu Dr. Ir. Eny Fuskhah, M. Si. ini, berharap pupuk TAB-FEZ3.1 dapat digunakan oleh petani bawang merah, sehingga menekan kerugian akibat penyakit layu fussarium. 

Maitec, Aplikasi Mahasiswa Undip Jamin Hak Konsumen POM Bensin


SEMARANG - Penggunaan transportasi pribadi berupa kendaraan bermotor selalu meningkat setiap tahunnya. Menurut Badan Pusat Statistik, tercatat pada tahun 2017 kendaraan bermotor di Indonesia mencapai 138.556.669 unit dengan dominasi kendaraan bermotor sebanyak 81,5%.  Adapun pada akhir tahun 2018, data menunjukkan bahwa penjualan sepeda motor tumbuh sebesar 18,9%.

Tingginya penggunaan kendaraan bermotor tersebut tentunya mendorong peningkatan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM). Meskipun begitu, menurut data SKK Migas (2015), produksi BBM di Indonesia sudah tidak sebanding dengan angka konsumsinya yang mencapai 1,5 juta barel per hari.

Keterbatasan akan produksi BBM yang tidak seimbang dengan pertumbuhan kendaraan bermotor di Indonesia, kemudian menjadi celah bagi pelaku praktik kecurangan dalam penjualan BBM. Adapun kecurangan tersebut berupa pengurangan takaran dengan memainkan nozzle atau alat pengisi BBM.

Baru-baru ini, pada bulan Juni 2019, petugas dari Kementrian Perdagangan serta Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan berhasil meringkus praktik kecurangan SPBU yang mampu meraup keuntungan hingga Rp1,8 miliyar. Kecurangan tersebut dilakukan dengan mengoplos BBM sekaligus mengurangi takaran dengan memasang alat pengontrol khusus. Kasus tersebut bukan satu-satunya yang menjadi sorotan aparat penegak hukum terkait kecurangan penjualan bensin.

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh petugas UPTD Metrologi Kota Semarang, bahwa kecurangan pengisian BBM tidak hanya berlangsung di SPBU. Menjamurnya pertamini saat ini ternyata tidak diimbangi dengan regulasi yang mengendalikan usaha kecil tersebut. Pertamini yang hadir untuk masyarakat saat ini masih bersifat ilegal dan tidak sesuai standar. Adapun penjualannya juga belum mengantongi izin resmi pemerintah. Oleh karena itu, peluang terjadinya praktik kecurangan lebih besar karena tidak dipantau secara langsung khususnya oleh UPTD Metrologi.

Oleh karenanya, mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) yang beranggotakan Farkhan Atoillah, Aan Aria Nanda dan Azizah Dewi Suryaningsih memberikan inovasi berupa aplikasi pendeteksi kecurangan POM Bensin untuk melindungi konsumen dari praktik nakal yang dilakukan oleh penjual BBM baik di SPBU maupun Pertamini.

Alat pendeteksi kecurangan pengisian bensin tersebut diberi nama MAITEC : Automatic Detection Pencegah Kecurangan Pengisian Bahan Bakar Minyak. Adapun cara kerjanya dilakukan dengan memasang sensor pendeteksi volume bensin yang masuk ke tangki kendaraan yang dilengkapi dengan detektor warna untuk menentukan jenis BBM yang dibeli. Kemudian, pengendara dapat membaca hasil proses data secara langsung pada monitor kecil yang dipasang di atas tangki.

Untuk memastikan data tersebut sesuai, tersedia aplikasi untuk membaca nota pembelian yang dapat membandingkan hasil perhitungan alat dengan angka pada layer monitor mesin pengisi bensin. Upaya tersebut diharapkan dapat melindungi konsumen BBM dengan menjadikan scan nota dan hasil perbandingan sebagai bukti untuk menegakkan hukum kecurangan penjualan bensin yang merugikan masyarakat selama ini.  

Mahasiswa Undip Ciptakan Alat Hidroponik Otomatis Berbasis Arduino


SEMARANG - Salah satu faktor yang mendorong bercocok tanam dengan sistem hidroponik yaitu keterbatasan lahan yang tidak berimbang dengan pertumbuhan penduduk maupun alih fungsi lahan.

Kesibukan juga menjadi alasan sulitnya seseorang  merawat tanaman selama waktu penanaman. Selain itu, beberapa kegiatan cocok tanam juga menggunakan pestisida yang terkadang berlebihan sehingga menyebabkan tananam tercemar pestisida dan menjadi tidak sehat.

Berawal dari masalah - masalah tersebut, maka mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) yang terdiri dari Muhammad Haekal Mufian (S1 Teknik Mesin), Nafi’ Arrizqi (S1 Teknik Elektro), dan Khasbi Reksa Negara (S1 Teknologi Pangan) bersama dengan dosen pendamping, yaitu Bapak Ir. Sulistyo, M.T., Ph.D. menciptakan alternatif alat penanaman hidroponik otomatis, yaitu HIBERNASI (Hidroponik Otomatis Berbasiskan Arduino Terotomatisasi).

Alat ini terhubung dengan lima sensor utama otomatis untuk mengatur suhu, kelembaban, pH, dan ketersediaan air bagi tanaman, sehingga tanaman dapat tumbuh secara optimal dilingkungan. Alat ini juga terhubung dengan aplikasi Android Blynk, sehingga keadaan tanaman dapat dipantau dari jarak jauh secara real time.


Diharapkan dengan adanya alat ini dapat membantu permasalahan keterbatasan lahan pertanian di Indonesia serta memberikan solusi agar tanaman tidak tercemar pestisida pada tanah secara berlebihan.

Nothing, Pemutih Gigi Ramah Lingkungan Karya Mahasiswa Undip


SEMARANG - Permasalahan gigi kuning sering kali terjadi di segala kalangan, mulai dari anak-anak, remaja, hingga dewasa. Hasil survey terhadap 92 responden memberikan hasil bahwa gigi kuning merupakan permasalahan yang paling sering terjadi di kalangan masyrakat. Hal ini disebabkan karena berbagai faktor seperti banyaknya mengkonsumsi makanan-makanan yang mengandung pigmen warna pekat seperti kopi, permen, dll. Selain itu, kandungan nikotin dan tar menyebabkan gigi menjadi kekuningan.

Padahal Era globalisasi menutut setiap orang untuk tampil sempurna setiap hari, salah satu penunjang utama tampilan ialah gigi yang bersih dan putih. Gigi yang bersih, putih, dan tidak berlubang merupakan parameter kesehatan gigi bagi semua kalangan. Menurut pendapat pakar kesehatan dr. Jyoti Sachdeva (2012), untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut sebaiknya menggosok gigi minimal dua kali dalam sehari, yakni setelah makan dan sebelum tidur. Namun pasta gigi yang beredar dipasaran saat ini umumnya mengandung bahan-bahan kimia yang berbahaya bagi kesehatan mukosa mulut. Itulah sebabnya NOTHING hadir dalam inovasi bahan alami pilihan yang aman di gunakan.

Apa Itu NOTHING?
NOTHING merupakan formula nanopartikel karbon aktif alami sebagai produk pemutih gigi antibakteri. NOTHING juga diperkaya dengan ekstrak mint agar membuat hari-harimu lebih fresh dan menyenangkan. Nothing diproduksi menggunakan bahan-bahan pilihan yang halal dan aman digunakan.

3 Aksi Proteksi
1. Power Charcoal : Menyerap kotoran dan memutihkan gigi
2. Natrium Clorida : Mengikis Karang gigi
3. Mint dan orange: sensasi menyegarkan

Kenapa Harus Nanopartikel Karbon Aktif ?
Karbon aktif adalah partikel yang mempunyai daya serap kotoran yang tinggi sehingga mampu membuat gigi menjadi lebih putih menawan. Selain itu, Nanopartikel merupakan ukuran partikel yang paling efektif bagi karbon dalam meningkatkan daya serap kotoran.

Apa sih yang membedakan NOTHING dengan pasta gigiyang digunakan sehari-hari ?
NOTHING terbuat dari bahan  karbon aktif yang terbukti mampu membuat gigi menjadi lebih putih. Selain itu, NOTHING diproduksi dari bahan-bahan pilihan yang tidak menimbulkan efek samping bagi kesehatan mulut. Sementara pasta gigi yang digunakan sehari-hari hanya bermanfaat untuk membersihkan saja tanpa memiliki daya untuk memutihkan gigi. Pasta gigi juga mengandung SLS (Sodium Laury Sulfat) yang menyebabkan efek samping berupa karsinogenik (penyebab kanker) ketika bahan tersebut sering mengenai dinding mukosa mulut.

Keunggulan Produk
Aman
Mengandung bahan-bahan pilihan nonkarsinogenik
Efektif
Ukuran nanopartikel sehingga meningkatkan daya serap kotoran dan bakteri dengan lebih cepat dan efektif
Terjangkau
Harga murah dan terjangkau

NOTHING juga hadir di CFD (Car Free Day) Semarang setiap hari Minggu. Jangan sampai kehabisan ya !!
Ingredient :
Charcoal, Mint essence, Citrus, Aquades, Mineral Clay, Backing Soda dan Natrium Clorida

Diproduksi oleh :
Nothing. Whitening. Semarang, Indonesia

Ig : nothing.whitening
Wa: 0895380996061

Mahasiswa Undip Pecahkan Masalah Kelistrikan Industri dengan Sipinter


SEMARANG - Kecamatan Banyumanik, Semarang merupakan salah satu wilayah yang memiliki banyak usaha kecil menengah hingga besar. Salah satu jenis usaha yang kian menjamur adalah bengkel las yang saat ini berdiri kurang lebih sebanyak 23 unit.

Terlepas dari kemajuan industri tersebut, para pemilik bengkel las seringkali mengeluhkan adanya ketidakstabilan pada jaringan listrik. Hal tersebut dikarenakan peralatan listrik pada bengkel las kebanyakan mengonsumsi daya reaktif yang besar dengan faktor daya rendah.

Akibatnya, peralatan tersebut dapat mengurangi efisiensi daya listrik yang digunakan dan menyebabkan trip secara mendadak. Kondisi ini berlangsung terutama saat proses starting peralatan bengkel las, yaitu ketika lonjakan arus tinggi pada saat menyalakan peralatan listrik pertama kali. Arus yang tinggi tersebut juga nantinya dapat berdampak pada berkurangnya umur peralatan listrik.

Berdasarkan permasalahan tersebut, mahasiswa Universitas Diponegoro, yakni Krismon Budiono (Teknik Elektro 2016), Novita Siti Lestari (Teknik Elektro 2015), Ahmad Didik Setiyadi (Teknik Elekro 2017), Kartika Pertiwi (Teknik Lingkungan 2017), dan Azizah Dewi Suryaningsih (Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota 2017) melalukan inovasi dalam mengembangkan alat untuk memperbaiki kualitas listrik bengkel las yang disebut SIPINTER.

Alat tersebut berfungsi untuk meningkatkan efisiensi konsumsi daya listrik pada bengkel las. Adapun penelitian tersebut sudah dikembangkan melalui kerjasama kemitraan dengan Bengkel Las Listrik Karya Bandung di Pedalangan, Kecamatan Banyumanik, milik Bapak Roni Turimin yang sudah berdiri sejak 2005.



SIPINTER dikembangkan dengan menggunakan rangkaian kapasitor yang dikontrol oleh sebuah mikrokontroler dengan masukan sensor arus dan sensor tegangan. Mikrokontroler ini akan mengatur kapasitor yang terbapai sesuai daya pada beban secara otomatis.

Ketua Tim Krismon Budiono megatakan bahwa “penyebab kualitas listrik buruk karena banyaknya beban induktif yang ada pada lingkunga industri, sehingga menyebabkan turunnya nilai cos phi. Hal tersebut mengakibatkan daya yang terpakai lebih besar dari daya aslinya. Apabila dilihat dari segi ilmu elektronika, maka pemasangan SIPINTER mampu menampah nilai cos phi mencapai ± 15%."


Kerjasama dengan bengkel las yang sudah terjalin diharapkan dapat membantu memecahkan permasalahan yang selama ini dihadapi oleh mitra dalam mengefisiensikan penggunaan energi listrik sekaligus menekan biaya listrik yang digunakan.

Triwago, Pupuk Organik Ramah Lingkungan Karya Mahasiswa Undip


SEMARANG - Tiga mahasiswa Fakultas Peternakan dan Pertanian (FPP) Universitas Diponegoro (Undip), Rissa Tri Ismayanti, Hana Septiaswin dan Bagus Yulianto yang dibimbing oleh dosen pembimbing Dr. Ir. Eny Fuskhah, M.Si. berhasil menciptakan pupuk organik padat berbentuk pelet yang dapat meningkatkan kesuburan tanah dan sebagai upaya perlindungan tanaman.

TRIWAGO ciptaan mereka memiliki beberapa keunggulan yaitu mudah disimpan, mudah didistribusikan, mudah diaplikasikan ke tanaman, campuran komposisi pupuk yang homogen serta mampu melepaskan unsur hara makro dan mikro secara perlahan dan berkelanjutan, sehingga meminimalisir kehilangan unsur hara akibat proses leaching. TRIWAGO ini telah diuji pada tanaman pakcoy yang banyak dibudidayakan di Indonesia.

Pemilihan tanaman pakcoy ini dilatarbelakangi oleh produktivitas pakcoy yang mengalami penurunan selama enam tahun terakhir dikarenakan menurunnya kualitas tanah akibat pemupukan anorganik secara terus menerus dan serangan hama penyakit.

Salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah melakukan pemupukan dan penggunaan pestisida. Penggunaan pupuk dan pestisida yang biasa digunakan adalah pupuk dan pestisida anorganik yang memiliki efek samping tidak ramah lingkungan dan harganya mahal.

Oleh karena itu, pupuk yang dianjurkan adalah pupuk organik dengan memanfaatkan bahan-bahan alami karena dapat memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah serta ramah lingkungan.

TRIWAGO terbuat dari kotoran walet dan eceng gondok yang diperkaya dengan cendawan Trichoderma harzianum. Bahan-bahan tersebut dipilih karena eceng gondok memilki kandungan unsur hara yang potensial untuk dijadikan bahan pembuatan pupuk organik, kotoran walet mengandung unsur hara Nitrogen yang jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan kotoran ternak lainya seperti pupuk kandang sapi, kandang ayam dan pupuk kandang kambing yakni sebesar 11%. Trichoderma dipilih karena dapat mempercepat proses dekomposisi bahan dan sebagai agen hayati pengendalian patogen tanaman.


“Selain karena potensi kandungan hara dalam bahan-bahan tersebut, pertimbangan kami dalam pemilihan bahan tersebut karena eceng gondok merupakan  salah  satu  gulma  air  yang keberadaannya sangat melimpah sehingga menyebabkan terganggunya ekosistem perairan. Disisi lain terdapat kotoran burung walet juga belum maksimal pemanfaatannya oleh para penangkar burung walet khususnya di daerah luar Pulau Jawa” kata Rissa Tri Ismayanti, mahasiswi Argoekoteknologi selaku tim dari penelitian ini.

Berdasarkan Hasil penelitian yang dilakukan, pupuk TRIWAGO memiliki kadar unsur hara yang telah sesuai dengan Standar Kualitas Kompos SNI 19-70302004 dan Standar Permentan No.70/Permentan/SR.140/10/2011. Didapatkan dosis rekomendasi TRIWAGO yang tepat yaitu 150 kg N TRIWAGO/ha yang menunjukkan bahwa dengan perlakuan dosis tersebut mampu memberikan respon setara dengan pemberian pupuk anorganik rekomendasi dan mampu meningkatkan tinggi tanaman sebesar 34%, jumlah daun sebesar 45,79% dan luas daun sebesar 35,98% dibandingkan tanpa menggunakan pupuk.

Pupuk TRIWAGO dapat direkomendasikan pada masyarakat khususnya petani karena ramah lingkungan, kandungan unsur hara yang kompleks, praktis, bahan utama pembuatan pupuk mudah didapatkan dan telah sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh SNI dan Permentan, sehingga memungkinkan untuk  dijual di pasaran.

Mahasiswa Undip Sulap Limbah Kulit Petai Jadi Obat Penyembuh Luka


SEMARANG - Diabetes Mellitus di Indonesia mengalami peningkatan dari 6,9% (2013) menjadi 8,5% (2018). International Diabetes Federation (IDF) Atlas tahun 2017 menunjukkan bahwa Indonesia menduduki peringkat ke-6 dunia dengan jumlah diabetesi sebanyak 10,3 juta jiwa dan diperkirakan 16,7 juta jiwa mengalami diabetes pada tahun 2045 pada usia 20-79 tahun. Salah satu komplikasi DM adalah ulkus diabetik. Luka pada diabetes diketahui memiliki waktu penyembuhan yang lebih lama.

Di sisi lain telah diketahui bahwa kulit petai ternyata memiliki kandungan flavonoid. Flavonoid memiliki manfaat dalam menyembuhkan luka. Kulit petai juga pernah diteliti mampu menurunkan kadar glukosa darah tikus.

Berangkat dari dua hal tersebut, tiga mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Diponegoro (Undip) yang terdiri dari Naura Safinata Ende, Naomi M Sihombing, dan Tangkas Mukti Priguna berinisiatif mengubah limbah kulit petai menjadi krim. Krim ekstrak kulit petai mereka beri nama Krim KUTAI. Bentuk sediaan krim dipilih karena cara penggunaannya yang mudah sehingga cocok diaplikasikan pada luka luar.

Melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) dengan judul “Krim KUTAI (Kulit Petai) sebagai Penyembuh Ulkus Diabetik pada Tikus Wistar (Rattus novergicus)” di bawah bimbingan bu Indah Saraswati, S.Si, M.Sc (Dosen FK Undip) mereka melakukan penelitian selama 1,5 bulan dari mulai pembuatan krim sampai meneliti efek krim tersebut pada tikus.

Tikus yang digunakan dalam penelitian ini selain dibuat luka juga direkayasa menjadi tikus diabetes. Penelitian dilakukan di Laboratorium Hewan Coba Fakultas Kedokteran Univeritas Diponegoro. Mereka adalah salah satu dari 85 tim PKM Penelitian Eksakta yang berjuang untuk PIMNAS 32 dari Kemenristekdikti.

Penelitian ini menganalisis penyembuhan luka dari perubahan panjang luka, leukosit darah tikus dan gambaran histopatologi kulit tikus. Krim dioleskan selama 10 hari. Oleh karena kandungan flavonoid yang ada di kulit petai, krim KUTAI mampu meningkatkan vaskularisasi dan menurunkan oedem. Hal ini dapat dilihat pada tikus yang diolesi krim KUTAI dapat sembuh dalam 8 hari. Sedangkan tikus yang tidak diberi krim KUTAI belum sembuh sampai hari ke-14.

Harapannya selain menerapkan ilmu kedokteran yang telah didapatkan, penelitian ini juga mampu meningkatkan nilai manfaat dari limbah kulit petai yang biasanya hanya dibuang begitu saja. Peneliti berharap krim KUTAI dapat diteliti dan dikembangkan lebih lanjut lagi.

Aurophile, Alat Pencegah Penyelundupan di Pesisir Karya Mahasiswa Undip


SEMARANG - Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dimana 79% wilayahnya merupakan laut dan panjang garis pantai sebesar 99.000 km. Besarnya wilayah pantai Indonesia juga menjadi sebuah tantangan untuk dapat menjaga kedaulatan negara. Pantai yang panjang menjadi ancaman untuk Indonesia terutama dalam sektor keamanan wilayah perairan.

Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Budi Waseso mengatakan sepanjang 2017 BNN bersama Polri dan Bea Cukai telah menangani 43.000 kasus narkoba di Indonesia. Banyaknya praktek penyelundupan membuat patroli perairan digencarkan untuk dapat mengatasi masalah tersebut. Selama ini penyelenggaraan patroli penegakkan hukum, di wilayah perairan pantai masih kurang efektif, hal ini dapat dilihat dari adanya kasus-kasus penyelundupan barang dari luar negeri melalui pelabuhan rakyat.

Berdasarkan permasalahan tersebut melalui program PKM-KC (Program Kreativitas Mahasiswa–Karsa Cipta) tiga mahasiswa Universitas Diponegoro (UNDIP) yang terdiri dari Ardya Pratama (Teknik Mesin 2015), Muhammad Abdul Aziz (Teknik Mesin 2015) dan Deka Setyawan (Teknik Mesin 2017) dengan bimbingan Joga Dharma Setiawan, BSc, MSc, Ph.D merancang sebuah alat Aurophile (Autonomous Micro Amphibious Vehicle) dengan sistem kendali autonomous menggunakan Neural Network dan Image Processing yang merupakan salah satu solusi alternatif dalam mengatasi penyelundupan illegal di wilayah pantai Indonesia.

Aurophile dapat digunakan untuk memantau wilayah pantai Indonesia yang panjang, dengan penggunaan kontrol secara otomatis dan image processing sehingga dapat membuat biaya patroli pantai berkurang. Proses kontrol gerak dilakukan secara autonomous menggunakan sensor sebagai input dan aktuator sebagai output. Untuk kontrol gerak secara autonomous dilakukan pembelajaran mesin secara hirarki dengan bantuan perangkat lunak yang memasukan perintahnya kedalam mikrokontroler.

Pengujian telah dilakukan untuk melatih Aurophile agar dapat bergerak sesuai waypoint  yang telah ditentukan di Software Mission Planner. Dari pengujian tersebut purwarupa aurophile sudah cukup baik dalam pergerakkan mengikuti waypoint yang telah di tentukan dan telah dapat mendeteksi objek berupa wajah.

Tim PKM Undip Ciptakan Anestesi Cacing Sutra dari Limbah Pabrik


SEMARANG - Tren positif dari produksi perikanan budidaya mengalami peningkatan sejak tahun 2009. Peningkatan pertumbuhan terlihat dari sektor budidaya perikanan dengan pertumbuhan 43,76%.

Perikanan budidaya mempunyai nilai strategis dalam perekonomian nasional karena di samping kontribusinya dalam mendukung usaha pemenuhan gizi protein hewani, penyedia lapangan kerja dan meningkatkan sumber pendapatan masyarakat (Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, 2015).

Pakan memiliki peran penting bagi pertumbuhan dan perkembangan ikan. Penggunaan pakan alami seperti cacing sutra (Tubifex sp.) untuk budidaya ikan memiliki beberapa keuntungan selain harganya yang lebih murah dan dapat mengurangi pencemaran kualitas air tambak/kolam. Selain itu, mempunyai kandungan gizi yang lebih lengkap jika dibandingkan dengan pakan buatan (Harahap dan Yusapri, 2015).

Masalah yang dihadapi dalam penjualan cacing sutra adalah proses pendistribusiannya karena mudah busuk.

Oleh karena itu, diperlukan pembiusan selama pengiriman. Pembiusan dengan menggunakan bahan anestesi bertujuan untuk memperpanjang waktu transportasi dengan menekan metabolisme dan aktivitas serta mengurangi resiko kematian (Septiarusli et al., 2012).

Bahan antiseptik dan anestesi yang biasa digunakan dalam bidang kesehatan mengandung senyawa eugenol yang paling tinggi ditemukan pada cengkeh (Maryani et al., 2018).

Cengkeh merupakan bahan utama pembuatan rokok. Hal itu menunjukkan bahwa kemungkinan besar limbah rokok mengandung senyawa eugenol yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar anestesi sehingga meningkatkan nilai ekonomis limbah dan mengurangi pembuangan di lingkungan.

Hal itulah yang mendasari Tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Penelitian Mutia melakukan penelitian lebih lanjut mengenai Anestesi Cacing Sutra (Tubifex sp.) dari Hasil Destilasi Limbah Cair Pabrik Rokok.

Bahan limbah rokok yang digunakan adalah limbah cair clove hasil produksi rokok dari Pabrik PT Djarum Oasis. Limbah tersebut kemudian didestilasi untuk mengambil minyak atsirinya dan dilakukan pengekstrakan minyak atsiri untuk mendapatkan eugenol murninya. Eugenol ini lah yang dijadikan sebagai bahan anestesi untuk cacing sutra.

Uji toksisitas dengan konsentrasi 50.00 ml, 60.00 ml, 72.00 ml, 103.68 ml menunjukkan bahwa pemberian anestesi limbah rokok pada cacing sutra mampu memperpanjang waktu hidup cacing sutra. Sedangkan pada perlakuan kontrol cacing sutra hanya mampu hidup 24 jam.

Setelah perlakuan 96 jam pemberian anestesi dari limbah rokok dibutuhkan penyiponan dengan air tawar selama 5 jam untuk mengembalikan cacing sutra pada kondisi normal. Karakteristik cacing sutra yang telah dilakukan penyiponan setelah pingsan memiliki karakteristik yang sama dengan cacing sutra yang masih segar yaitu berwarna merah cerah, bergerak aktif dan tidak bergerombol.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa pemberian anestesi dari limbah rokok mampu memperpanjang waktu pengiriman cacing sutra selama 96 jam.

Inovasi dari mahasiswa FPIK Undip dengan ketua Mutia Apriliani, anggota Wulandari dan Rika Amelia yang dibimbing oleh Dr. Ir. Pujiono Wahyu Purnomo, M.Si. ini mampu mampu mendukung peningkatan perikanan budidaya air tawar karena kebutuhan pakan alaminya terpenuhi, mampu mengurangi pencemaran di lingkungan dan menambah nilai ekonomis limbah.