11 Warna Bendera

Representasi dari 11 fakultas di Undip

Patung Diponegoro (Pangeran Diponegoro)

Icon-nya Kampus Universitas Diponegoro

Tugu Bundaran Kampus Undip Tembalang

Pintu gerbang utama masuk kampus Undip Tembalang

Ruang Terbuka Hijau Kampus Undip

Menuju Kampus Undip yang Asri dan Sejuk untuk Aktivitas Mahasiswa dan Masyarakat Sekitar

Gedung Prof. Soedarto S.H

Pusat Kegiatan Seminar, Workshop, Seni, Verifikasi-Registrasi, dll

Gedung ICT Centre dan Laboratorium Terpadu

Pusat Informasi Dalam dan Luar Negeri, IT, dan Laboratorium Penelitian

Masjid Kampus (Maskam) Undip

Pusat Kegiatan Islam Mahasiswa (Kajian, Wisata Ruhani, Wisata Ilmu, Mentoring, TPQ, Muslimah Training, dll)

Rusunawa Undip

Fasilitas Tempat Tinggal yang disediakan Pihak Kampus Bagi Mahasiswa

SPBU Undip Tembalang

Stasiun Pengisian Bahan Bakar yang Terintegrasi di Dalam Area Kampus. Satu-satunya di Jawa Tengah

Rumah Sakit Nasional Diponegoro (RSND)

Rumah Sakit Universitas Milik Undip Berstandar Nasional. Satu-satunya di Jawa Tengah

'Futsal Indoor Stadium' Undip

Stadion Futsal Kampus Undip Berkelas Internasional. Satu-satunya di Jawa Tengah

Bendungan Waduk Undip

Mega Proyek Pembangunan Waduk Kampus Undip. Satu-satunya di Jawa Tengah

Waduk Undip (Waduk Pendidikan Diponegoro)

Area Konservasi, Wisata Pendidikan dan Penelitian Mahasiswa, Pembangkit Listrik, dll. Satu-satunya di Jawa Tengah

Stadion Sepakbola Undip

Pusat Kegiatan Olahraga Sepakbola di Kompleks Gelora Undip Tembalang, Semarang

Upacara PMB di Stadion Undip

Lebih Dari 50 Ribu Mahasiswa Menimba Ilmu di Kampus Undip

Upacara Penerimaan Mahasiswa Baru di Stadion Sepakbola Undip

Menerima rata-rata 10 Ribu Mahasiswa Baru Tiap Tahun

Widya Puraya

Salah Satu jantung Kampus Undip Tembalang (UPT Perpustakaan, LP2MP, Posko KKN, Lapangan Upacara, dll)

Mahasiswa KKN Undip Lakukan Inovasi Pengolahan Ikan Tongkol


REMBANG - Mahasiswa KKN Undip Tim 1 yang ditempatkan di Desa Sarangmeduro, Kecamatan Sarang, Kabupaten Rembang, melaksanakan program kerja KKN multidisiplin mengenai diversifikasi pangan melalui ikan tongkol (13/2/2019). Bertempat di balai Desa Sarangmeduro, program ini terdiri dari 4 bagian yaitu,

1. Cara pengolahan ikan tongkol dari mentah menjadi abon.
3. Pemberian edukasi mengenai gizi-gizi yang didapat dari ikan tongkol.
4. Edukasi manfaat pemberian merek
5. Strategi marketing

Program ini dipilih berdasarkan survey yang dilakukan pada minggu pertama KKN dilaksanakan. Survey menunjukan bahwa ibu-ibu warga desa Sarangmeduro sebagian besar menganggur. Serta sedikit/ hampir tidak adanya UMKM yang memanfaatkan ikan yang adalah potensi desa Sarangmeduro, mengingat lokasi desa Sarangmeduro adalah di pinggir laut.

Program dilaksanakan dengan melakukan demonstrasi memasak dan memasak bersama terlebih dahulu, dengan tujuan ibu-ibu desa Sarangmeduro dapat memahami fondasi dari program ini yaitu membuat produk abon ikan.

Kemudian dilanjutkan dengan pemberian ilmu-ilmu mengenai gizi dibalik abon ikan. Dengan harapan ibu-ibu desa Sarangmeduro nantinya tidak hanya asal mengolah produk tapi juga memahami alasan mengapa ikan tongkol adalah ikan yang dijadikan barang baku. Step terakhir adalah step penjualan, yaitu manfaat merek dan strategi pemasaran.


Penjelasan manfaat merek dimaksudkan agar ide-ide yang warga desa punya untuk UMKM tidak mudah dicuri pihak lain karena dilindungi oleh hak kekayaan intelektual. Dengan begitu penjualan tidak mudah ditiru okeh orang lain karena akan ada akibat hukumnya. Materi dilanjutkan dengan strategi pemasaran.

Pemahaman mengenai pentingnya mengerti situasi pasar dan media-media yang penting untuk melakukan pemasaran, salah satu contohnya adalah media sosial. Acara pun ditutup dengan foto bersama para peserta,  mahasiswa KKN, serta perangkat desa.


Harapan kami, program kerja multidisiplin ini dapat menjadi manfaat bagi warga desa Sarangmeduro. Agar UMKM desa bisa terwujud dan berkembang dengan baik.

Kreatif, Tim KKN Undip Sulap Enceng Gondok Jadi Pupuk Alternatif


PEKALONGAN - Tim KKN 1 Undip Desa Wonosari Tahun 2019 mengadakan pelatihan pembuatan pupuk kompos cair dari eceng gondok bertempat di Posko KKN tepatnya di Dusun Limbangan Desa Wonosari. Pelatihan ini dihadiri oleh anggota Kelompok Tani Desa Wonosari, Minggu (02/02/2019) pagi.

Pak Jono selaku Ketua Kelompok Tani Desa Wonosari mengaku sangat mendukung kegiatan ini karena dengan menggunakan pupuk kompos cair maka dapat menekan pengeluaran karena selama ini petani di Desa Wonosari cenderung menggunakan pupuk kimia yang terbilang mahal dan jika sering menggunakanya dapat merusak unsur tanah.

Tim KKN 1 Undip Desa Wonosari Tahun 2019 memilih eceng gondok sebagai pupuk kompos cair karena populasi enceng gondok di Desa Wonosari terbilang cukup banyak.


Keberadaan eceng gondok ini tentu akan membawa dampak negatif bagi lingkungan seperti menyebabkan pendangkalan, sebagai habitat vektor penyakit pada manusia, merusak estetika sungai serta hilangnya habitat ikan.


Dengan adanya pelatihan ini diharapkan masyarakat mulai tergerak untuk memanfaatkan enceng gondok sebagai pupuk kompos cair serta memanfaatkan pupuk kompos cair sebagai ladang usaha bisnis.

Mahasiswa KKN Undip Bantu Kegiatan Posyandu Desa Wonosari


PEKALONGAN - Tim 1 KKN Undip Tahun 2019 Desa Wonosari Kecamatan Siwalan, Kabupaten Pekalongan melakukan kegiatan membantu posyandu yang ada di Dusun Tegal Borang Desa Wonosari Kecamatan Siwalan, Kamis (17/01/2019) pagi.

Posyandu adalah suatu wadah dalam melaksanakan kegiatan pemeliharaan kesehatan yang dilakukan oleh, dari, dan untuk masyarakat dibantu oleh tenaga kesehatan. Posyandu melaksanakan lima program kesehatan dasar yakni: keluarga berencana, kesehatan ibu, dan anak, gizi, imunisasi, dan penanggulangan diare.


Sasaran utama yaitu menurunkan angka kematian bayi dan ibu memperbaiki status kesehatan dan gizi balita, serta ibu hamil dan menyusui. Kegiatan posyandu ini diikuti oleh balita dan ibu menyusui yang bertempat di kediaman Ibu Carik Desa Wonosari tepatnya Dusun Tegalborang.

Kegiatan  dengan sasaran balita yang berlangsung di Posyandu yakni penimbangan berat badan balita, kemudian dilakukan pengukuran tinggi badan serta lingkar kepala. Hasil dari pengukuran tersebut kemudian dicatat dan dicocokkan dengan Kartu Menuju Sehat (KMS) untuk mengetahui status pertumbuhan dari balita dari yang berlangsung setiap bulan.


Fungsi pemantauan KMS adalah menindaklanjuti setiap kasus gangguan pertumbuhan. Tindak lanjut hasil pemantauan pertumbuhan biasanya berupa konseling, pemberian makanan tambahan, pemberian suplementasi gizi dan rujukan serta sebagai sarana edukasi kepada ibu balita.


Kegiatan lain yang berlangsung adalah edukasi tentang pemberian ASI eksklusif yang dibawakan oleh petugas kesehatan dari Puskesmas Kecamatan Siwalan.

Optimalkan Potensi Desa, Tim KKN Undip Gelar Pelatihan Pembuatan Souvenir


KENDAL – Mahasiswa KKN Tim 1 Universitas Diponegoro (Undip) Desa Gentinggunung, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Kendal bersama dengan tim dasa wisma (dawis) Dusun Brajan melakukan praktik pembuatan souvenir dari kain perca dan selai nangka. Sosialisasi ini dilakukan bersamaan dengan kegiatan pertemuan mingguan tim dawis Dusun Brajan, Minggu (27/01/2019). Acara diawali dengan sambutan dan kegiatan menabung lalu dilanjutkan dengan sosialisasi dan praktik yang dipandu oleh mahasiswa KKN Tim 1 UNDIP.

Buah tangan yang dibuat dengan bahan dasar kain perca merupakan gantungan kunci berbentuk bunga. Tujuan diadakannya pelatihan ini adalah untuk meningkatkan keterampilan ibu-ibu PKK di Desa Gentinggunung sehingga dapat membuat berbagai kerajinan tangan yang menghasilkan dan meningkatkan perekonomian keluarga. Para peserta pelatihan pun terlihat antusias berpartisipasi dalam membuat gantungan kunci ini. Terlebih lagi bahan yang digunakan murah dan mudah untuk didapatkan.



Gantungan kunci yang dihasilkan juga dikemas dalam plastik dengan label dan dapat dijadikan sebagai souvenir acara pernikahan, khitan, ataupun oleh-oleh Desa Gentinggunung sebagai desa wisata. Desa Gentinggunung pun sudah terdaftar sebagai desa wisata dengan potensi objek wisata Curug Terong yang kini tengah dikembangkan. Selain gantungan kunci, ibu-ibu tim dawis juga diajarkan membuat selain nangka.

Melimpahnya buah nangka dan penanganannya yang kurang baik menjadi perhatian mahasiswa KKN UNDIP. Buah nangka yang dijual biasanya adalah nangka muda yang kemudian diolah menjadi sayur, sedangkan buah nangka matang hanya dijadikan konsumsi pribadi atau bahkan dibiarkan membusuk dan terbuang begitu saja.



Oleh karena itu, mahasiswa KKN UNDIP tergerak untuk meningkatkan nilai tambah buah nangka sebagai salah satu potensi Desa Gentinggunung dengan mengolahnya menjadi selai. Bahan dan cara pembuatannya pun tergolong mudah dan dapat dimodifikasi sesuai kebutuhan. Ibu-ibu peserta pelatihan ikut mencicipi selai nangka yang sudah jadi dan diharapkan dapat termotivasi untuk mencoba membuatnya sendiri.


Ibu-ibu PKK di Desa Gentinggunung sangat bersemangat untuk mempelajari hal-hal baru. Dengan adanya pelatihan pembuatan gantungan kunci dan selai oleh mahasiswa KKN Undip, diharapkan dapat memberikan ide dan motivasi kepada warga Desa Gentinggunung untuk mengembangkannya menjadi sebuah usaha UMKM.           

Olah Limbah Kulit Pisang, Cara Kreatif Tim KKN Undip Berdayakan Masyarakat


GROBOGAN - Bertepatan dengan hari ke-30 KKN Undip, mahasiswa KKN Tim 1 Desa Tambirejo, Kecamatan Toroh, Kabupaten Grobogan menyelenggarakan program multidisiplin berjudul “Pemberdayaan Masyarakat dalam Meningkatkan Nilai Ekonomi Limbah Kulit Pisang di Desa Tambirejo” (5/2/2019).

Program multidisiplin tersebut diselenggarakan pada kegiatan PKK Dusun Sendangsari. Acara bertempat di rumah sekertaris desa dan berlangsung pada 14.30 hingga 16.45 WIB. Jumlah peserta yang hadir mencapai 45 orang. Acara tersebut juga dihadiri oleh Sekertaris Desa Bapak Sarah, Ketua Gapoktan, Kepala Dusun Sendangsari, Kepala Dusun Sanggeh, dan Dosen Pembimbing Lapangan Ibu Dr. Ir. Wiludjeng Roessali, M.Si.

Program multidisiplin tersebut menggabungkan kompetensi mahasiswa yang berasal dari tiga fakultas yaitu : Fakultas Sains dan Matematika (FSM), Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM), dan Fakultas Peternakan dan Pertanian (FPP). Adapun nama-nama yang terlibat adalah Lamik Nabil M (FSM), Nadya Ulfa (FSM), M Kusen (FSM), Narizqa Luthfiana (FSM), Elsa C Hutajulu (FKM), Miftakhul Nur F (FKM), Emawati Fatima (FKM), Eka Ari H (FPP), dan M Satria Mahendra (FPP).

Semua mahasiswa berkolaborasi dalam mengolah limbah kulit pisang menjadi produk pangan (kopi dan nugget) dan produk kecantikan (masker wajah).

Pemilihan pengolahan limbah kulit pisang dilakukan bukan tanpa alasan. Desa Tambirejo merupakan desa yang potensi UMKM makanan, salah satu yang paling banyak adalah sale pisang. UMKM sale pisang terkonsentrasi di Dusun Sendangsari. Jumlahnya ada 26 usaha.

Setelah dilakukan survei pada minggu pertama KKN, diketahui bahwa limbah yang dihasilkan terutama limbah kulit pisang, hanya dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Padahal kulit pisang ternyata mengandung nilai gizi yang bermanfaat bagi manusia juga.


Limbah kulit pisang yang diolah menjadi produk peruntukan manusia tentunya akan meningkatkan nilai ekonomi sekaligus nilai tambah produk. Oleh karena itu, Tim KKN 1 Desa Tambirejo berfokus untuk memberdayakan masyarakat dalam mengolah limbah kulit pisang.

Dalam acara tersebut dipaparkan beberapa materi : 1) Latar belakang pemilihan kulit pisang sebagai program multidisiplin, 2) Kandungan nilai gizi kulit pisang, 3) Manfaat kulit pisang, 4) Tutorial membuat kopi, nugget, dan masker kulit pisang, dan 5) Presentasi hasil olahan.


Acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab kemudian ditutup oleh pengisian kuesioner untuk menilai respon peserta tentang produk yang dihasilkan. Untuk memudahkan pemahaman materi, peserta diberikan booklet dan tutorial disajikan dalam bentuk video.

Dengan Bank Sampah, Tim KKN Undip Bantu Warga Tingkatkan Pendapatan


BATANG - Sampah umumnya akan menjadi sebuah masalah serta tidak memiliki nilai apapun, namun sampah tersebut kini mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat di Desa Kemligi, Kecamatan Wonotunggal, Kabupaten Batang. Sebuah program dijalankan oleh Tim 1 KKN Undip Desa Kemligi untuk mengelola sampah yaitu pembentukan Bank Sampah.

Pembentukan Bank Sampah yang dipelopori oleh Tim 1 KKN Undip in bekerjasama dengan para pengurus BUMDES yang sebelumnya sudah ada di Desa Kemligi. Sistem kerja dari Bank Sampah ini adalah masyarakat melakukan pemilahan sampah yang ada di rumah mereka masing – masing, kemudian sampah yang telah disortir tersebut dibawa ke BUMDES untuk dilakukan penyetoran sekaligus ditimbang oleh para pengurus BUMDES.

Kemudian pengurus BUMDES akan mencatat berat dari masing – masing sampah tersebut serta harga perolehan sesuai dengan tarif yang telah ditetapkan oleh BUMDES yang kemudian akan dicatat sebagai saldo oleh pengurus BUMDES dan dapat dicairkan oleh warga setiap 1 tahun sekali pada saat menjelang hari raya, kemudian pihak BUMDES sendiri akan menyetorkan sampah tersebut ke pihak pengepul sebagai bentuk pendapatan bagi BUMDES.

Bank Sampah ini sendiri diresmikan secara langsung oleh Kepala Desa Kemligi yaitu Bapak Suyanta beserta dengan perwakilan dari pengurus BUMDES dan juga Tim 1 KKN Undip 2019 pada tanggal 12 Februari 2019 di halaman dari BUMDES dengan disaksikan oleh masyarakat serta mengundang anak – anak SD dan PAUD dengan tujuan sebagai pendidikan pentingnya membuang sampah pada tempatnya sejak dini kepada anak – anak.


Tujuan utama didirikannya Bank Sampah ini sebernarnya bukan untuk mencari keuntungan, namun lebih kepada mendidik masyarakat di Desa Kemligi untuk tidak melakukan pembakaran sampah karena hal tersebut dapat menghasilkan polusi udara yang dapat berbahaya bagi pernapasan, oleh karena itu lebih baik sampah tersebut dialihkan ke Bank Sampah agar tidak mencemari lingkungan serta dapat menambah penghasilan bagi masyarakat.


Kemudian untuk sampah organik nya sendiri diolah menjadi pupuk organik bagi tanaman di rumah warga oleh TIM 1 KKN Undip di Desa Kemligi, sehingga permasalahan sampah di Desa Kemligi ini diharapkan mampu teratasi dengan adanya pengelolaan sampah yang tepat baik itu sampah non – organik maupun sampah organik.

Kurangi Sampah, Mahasiswa KKN Undip Sulap Daun Jambu Jadi Sabun


TRETEP - Nglarangan adalah salah satu desa di Kecamatan Tretep yang terletak di perbatasan Kendal. Kebanyakan penduduknya bekerja sebagai petani dan peternak. Jambu adalah salah satu buah yang paling banyak tanam oleh petani di desa Nglarangan. Setelah ditanam, pohon jambu harus menunggu selama 2 tahun untuk menghasilkan buah pertamanya. Namun buah yang pertama harus dibuang untuk mendapatkan buah yang lebih besar.

Setelah berbuah, pohon jambu akan menghasilkan buah dua kali dalam seminggu. Selain di ladang, masyarakat juga menanam buah di sekitar rumahnya.

Pohon buah ini terus tumbuh sedangkan petani akan lebih mudah merawat jika pohonya pendek. Maka dari itu dilakukan pemotongan daun secara rutin untuk membuat pohon tetap pendek. Pemotongan ini membuat daun pohon jambu terbuang di sekiatar ladang dan kediaman warga. Membuat sampah baru bagi desa.

Selain itu, banyaknya buah jambu juga mendatangkan banyaknya lalat buah di desa Nglarangan. Dekatnya kebun jambu dengan kediaman warga membuat lalat buah leluasa terbang ke rumah warga. Adanya lalat buah membuat warga menjadi khawatir makanan mereka akan tercemar. Selama ini warga mencoba menyingkirkan lalat dengan lem lalat yang membuat lalat menempel pada sebuah kertas yang diberi aroma khusus seperti ikan asin.

Dua masalah ini menjadikan Tim KKN 1 Undip tahun 2019 membuat terobosan baru yaitu sabun daun jambu biji dan lilin kopi untuk mengusir lalat. Sabun daun jambu menjadi cara baru untuk warga mengurangi sampah daun jambu biji di desa Nglarangan. Sebelumnya desa telah berupaya mengurangi sampah daun jambu dengan membuatnya menjadi kripik, namun yang bias dijadikan kripik adalah daun yang muda sedangkan daun yang tua ditinggalkan begitu saja.

Sabun daun jambu ini dapat dibuat menggunakan daun jambu biji muda ataupun tua. Cara pembuatannya adalah dengan menghaluskan daun jambu kemudian diambil sarinya. Kemudian campur dengan based soap yang sudah dicairkan. Aduk hingga merata dan masukan minyal esensial bila diperlukan. Masukan dalam cetakan dan tunggu hingga mengeras. Cara tersebut dirasa cukup sederhana untuk dilakukan masyarakat sekitar.

Sedangkan untuk mengusir lalat buah masyarakat dapat menggunakan lilin kopi. Kopi dipilih kerena mempunyai bau khas yang dapat mengusir lalat. Kopi juga merupakan tanaman yang mudah ditemukan di ladang maupun sekitar rumah warga. Cara membuatnya dengan menghaluskan biji kopi kering kemudian dicampur dengan lelehan lilin dan dicetak menggunakan gelas atau dengan cetakan yang mudah dibuka. Tunggu hingga mengeras dan lilin kopi siap digunakan untuk mengusir lalat.

Pelatihan ini dirangkum menjadi satu dalam acara pelatihan dan sosialisasi dari KKN untuk Nglarangan yang diadakan pada rabu, 30 Januari 2019. Acara ini dihadiri oleh kelompok PKK desa Nglarangan. Sosialisasi pertama dilakukan dengan menjelaskan bagaimana lalat dapat mempengaruhi kesehatan dan dilanjutkan dengan demonstrasi pembuatan lilin kopi bersama warga.


Acara selanjutnya dilakukan dengan sosialisasi tentang manfaat daun jambu biji dan demontrasi pembuatan sabun daun jambu biji. Kedua produk ini diharapakan dapat bermanfaat bagi warga baik khususnya secara ekonomis dengan menjadikan kedua produk ini menjadi produk khas desa Nglarangan.

Kenalkan River Cleanup, Cara Unik Mahasiswa KKN Undip Cintai Lingkungan


KARANGRANDU - Membuang sampah pada tempatnya mungkin sesuatu yang mudah bagi setiap orang tetapi kenyataannya masih banyak ditemukan sampah yang berserakan di sembarang tempat. Hal ini dikarenakan rasa kurang kepedulian masyarakat terhadap pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan sekitar. Sampah merupakan ancaman serius bagi masyarakat, karena membuang sampah sembarangan dapat menyebabkan pencemaran lingkungan.

Salah satu masalah di Desa Karangrandu hanya mempunyai satu pembuangan sampah yang di Pasar Sore Karangrandu yang jauh dari jangkauan masyarakat sekitar. Sebab itu, banyak masyarakat membuang sampah di bantaran sungai yang menyebabkan pencemaran lingkungan di daerah sekitar sungai.

Jumat (08/02/2019), mahasiswa KKN Undip bersama warga desa dan anak-anak SMP 1 Pecangaan bersama-sama melakukan River Cleanup. Tujuan kegiatan ini adalah untuk menyadarkan masyarakat akan bahaya membuang sampah di sungai.

Kegiatan River Cleanup ini merupakan kegiatan fisik dari rangkaian program multidisiplin mahasiswa KKN Universitas Diponegoro untuk meningkatkan nilai estetika Desa Karangrandu. Banyaknya sampah di bantaran sungai membuat keadaan desa menjadi kumuh. Oleh karena itu, warga bergotong-royong mengurangi sampah yang ada di bantaran sungai.

Tidak hanya itu, kegiatan River Cleanup dilanjutkan dengan pengecatan jembatan Karangrandu. Sebagai penghubung antara jalan utama dengan desa jembatan Karangrandu memiliki fungsi vital. Namun kurangnya kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan membuat kondisi jembatan menjadi kurang terawat. Banyaknya coretan disekitar jembatan semakin membuat desa Karangrandu tampak kumuh. Oleh karena itu, pengecatan dilakukan untuk menambah nilai estetika desa Karangrandu.


Kegiatan ini mendapat respon baik dari Petingi Desa dan warga. Hal ini terbukti saat kegiatan River Cleanup banyak warga yang ikut bergotong-royong membersihkan kawasan bantaran sungai. Harapannya setelah kegiatan River Cleanup ini warga Desa Karangrandu lebih sadar dan peduli akan kebersihan lingkungan terutama sungai. Sungai yang kotor tentu akan menjadi bencana bagi warga disekitarnya.

Siboja, Pakan Alternatif Karya Tim KKN Undip Tingkatkan Bobot Ternak


TEMANGGUNG – Desa Sigedong, Kecamatan Tretep, Kabupaten Temanggung merupakan daerah pegunungan yang memiliki banyak potensi sumber daya alam. Salah satu potensinya adalah jagung.

Dalam pemberdayaan masyarakat pada kegiatan KKN Undip tahun 2019, Tim KKN Desa Sigedong memanfaatkan potensi jagung sebagai bahan baku pembuatan produk SIBOJA atau Silase Bonggol Jagung (08/02/2019).

Pemberdayaan masyarakat diwujudkan dalam kegiatan pendampingan pembuatan silase (pakan ternak fermentasi) dari bonggol jagung. Pendampingan dilakukan kepada kelompok tani serta warga, terutama yang memiliki hewan ternak.

Bonggol jagung dipilih sebagai bahan baku silase dikarenakan selama ini bonggol jagung hanya digunakan sebagai bahan bakar pendamping kayu. Selain itu, beberapa warga memanfaatkan bonggol jagung sebagai pakan ternak langsung, tetapi tanpa pengolahan terlebih dahulu.

Pengolahan bonggol jagung menjadi silase membuat nilai gizi bonggol jagung sebagai pakan ternak bertambah. Hal ini dikarenakan pembuatan silase yang melalui proses fermentasi akan membuat bonggol jagung lebih mudah dicerna oleh ternak dan juga menambah kandungan protein kasar. Pemberian silase kepada ternak terbukti mampu menaikkan bobot ternak lebih besar daripada pakan ternak biasa.


Pembuatan silase bonggol jagung terbilang cukup mudah. Bahan-bahan yang diperlukan yaitu bonggol jagung, EM­4 peternakan, dedak, gula, garam, dan air. Larutan starter yang terdiri dari EM4 peternakan, gula, garam, dan air dibuat terlebih dahulu. Setelah itu, larutan starter ditambahkan ke bonggol jagung kering yang sudah dicacah.


Proses fermentasi dilakukan selama minimal lima hari di ruang tertutup karena fermentasi bersifat anaerob. Jika hasil fermentasi menghasilkan bau harum seperti tape, hal itu menunjukkan bahwa proses pembuatan silase telah berhasil.

Pemanfaatan Limbah Minyak Jelantah Oleh Mahasiswa KKN Undip


GROBOGAN - Minyak jelantah adalah minyak yang diperoleh dari sisa menggoreng makanan dalam proses memasak. Dengan kata lain, minyak jelantah adalah minyak goreng bekas pakai yang sebenarnya adalah limbah yang mengandung senyawa-senyawa bersifat karsinogenik yang dapat memicu terjadinya kanker. Senyawa karsinogenik ini timbul ketika minyak dipakai atau dipanaskan saat menggoreng. Alasan inilah yang menjadikan masyarakat membuang minyak jelantah hasil rumah tangganya. Jelantah yang dibuang ini akan mencemari lingkungan sekitarnya. Sifat minyak yang tidak bisa bersatu dengan air menyebabkan minyak susah dibersihkan secara menyeluruh.

Hal tersebut membuat seorang mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) Departemen Teknik Kimia bernama Dessy Noor Istiqomah melakukan suatu pelatihan bagi masyarakat khususnya ibu-ibu di Desa Ngarap-arap Kecamatan Ngaringan Kabupaten Grobogan untuk membuat sabun berbahan dasar minyak jelantah. Kegiatan pelatihan diikuti dengan antusias oleh ibu-ibu PKK dari Desa Ngarap-arap. Cara pembuatan yang relatif mudah dan murah menjadikan warga tertarik dan ikut mempraktikan pembuatan sabun bersama. Bahan dan alat yang dibutuhkan antara lain : minyak jelantah, soda api, air, pewangi, wadah stainless steel atau wadah plastik, pengaduk (sendok) stainless steel / plastik, cetakan, lap / tisu, masker dan sarung tangan.


Cara membuat :
1.      Siapkan semua alat dan bahan
2.      Takar semua bahan yang diperlukan
3.      Masukkan soda api ke air. Aduk sampai benar-benar larut lalu biarkan sampai dingin atau sampai suhu ruang.
4.      Masukkan minyak jelantah ke dalam larutan soda api. Aduk sampai mencapai  kekantalan mayones. Cirinya adalah jika sendok diangkat, akan meninggalkan jejak pada adonan
5.      Tuang ke cetakan. Diamkan sampai sabun memadat. Lalu angin-anginkan di tempat berventilasi. Setelah sekitar 3 minggu, sabun bisa digunakan.


Kesulitan dalam pengembangan program ini adalah tidak adanya toko kimia sehingga untuk membeli bahan berupa soda api (NaOH) dan pewangi. Namun, seiring dengan berkembangnya teknologi informasi dan komunikasi, bahan-bahan ini dapat dibeli secara online dan harganya pun masih terjangkau. Setelah dilakukan pelatihan ini, diharapkan dapat terbentuk UMKM sabun jelantah di Desa Ngarap-arap. (Ugie Novitamurtiani, 21/02/2019)

Mahasiswa KKN Undip Sulap Barang Bekas Jadi Oven Praktis


BATANG – Mahasiswa KKN Undip melaksanakan program mono kedua Mohammad Faqih Munandar di Desa Gringgingsari, Kecamatan Wonotunggal yaitu Pembuatan Oven untuk Pengeringan Torakor (Tomat Rasa Kurma), Sabtu, 2 Februari 2019.

Program Faqih (nama panggilan) dari jurusan S1 Fisika - Fakultas Sains dan Matematika (FSM) membuat oven dari magic jar bekas untuk mengeringkan Torakor (Tomat Rasa Kurma) yang merupakan produk unggulan dari Dukuh Gringgingsari yang telah di dukung oleh Bapak Bupati Batang.

Namun kendala dalam pembuatannya adalah dalam proses pengeringan Torakor membutuhkan panas matahari selama 7 hari agar mendapatkan hasil yang maksimal, akibat cuaca yang tidak menentu menjadi penghambat dalam proses pembuatan Torakor. Sehingga tujuan program ini untuk membantu masyarakat dalam proses pengeringan Torakor.

Keunggulan dari Oven ini adalah harga murah, terbuat dari magic jar bekas, memberikan inovasi dalam mengeringkan Torakor serta oven ini dapat diproduksi oleh pemuda pemudi Desa di masa depan.

Bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan oven adalah rice cooker bekas, lempengan stainless steel, besi bekas, papan kayu serta las listrik/gas. Cara membuatnya adalah pertama bongkar rice cooker, kedua ambil lempengan pemanas secara keseluruhan lalu pisahkan sensor-sensor panas, ketiga sisakan relay tegangan, penghubung tegangan, lampu indikator rice cooker dan lempengan pemanas.


Kemudian buatkan rak besi dengan stainless steel sebagai penopang serta besi sebagai rangka dan kaki. Selanjutnya temple pemanas dengan rak besi sebaiknya menggunakan baut agar lebih mudah dalam proses pembersihan.


Lalu buat box kayu, usahakan agar berbentuk kubus yang dapat mengisolasi panas secara maksimal, jangan lupa buatkan dua pintu yaitu pintu memasukkan Torakor dan pintu untuk perawatan alat. Selanjutnya satukan pemanas, rak besi dan box kayu. Relay tegangan dapat digunakan untuk membuat tegangan minimum (mode warm cooking) serta tegangan maksimum (mode cooking).

Mahasiswa KKN Undip Presentasikan Masterplan Objek Wisata Desa Sodong


BATANGDesa Sodong berada pada ketinggian 500 mdpl dan memiliki potensi alami yang belum tergali secara maksimal. Suhu yang rendah dan kelembaban yang tinggi menjadi tempat yang optimal untuk pertumbuhan pohon besar seperti cemara, cengkeh, sengon dll.

Habitat alami pohon tersebut menjadi ladang subur penghasil sumber air alami yang bisa digunakan untuk kebutuhan sehari-hari warga. Sumber air alami yaitu dari aliran Curug Sigandul yang masih jernih dan belum terkontaminasi, dimanfaatkan untuk dibuat pemandian alami warga, pemandian ini diberi nama Sendang Sodong oleh warga sekitar.

Pada tahun 2006, perangkat desa mengusulkan revitalisasi Sendang Sodong untuk memperbaikinya dan menambah fasilitas pendukung untuk menarik pengunjung dari luar Desa Sodong, ini dimaksudkan untuk mendukung Program Desa Wisata. Selain itu, penambahan fasilitas umum ini diharapkan dapat menambah pendapatan desa dari sektor wisata.

Namun, dikarenakan dana yang diterima tidak memenuhi kebutuhan, pembangunan Sendang Sodong terhambat, hanya terdapat satu kolam utama, satu kolam untuk refleksi ikan dan dua kolam tambahan yang masih dalam tahap pembangunan. Bangunan pendukung yang telah dibangun yaitu mushola dan area parkir disebelah Sendang.

Program monodisiplin oleh Fajar Akmal, mahasiswa dari jurusan Teknik Arsitektur yang berjudul Revitalisasi Kolam Pemandian Sendang Desa Sodong dipaparkan di Balai Desa pada 4 Februari 2019, yang dihadiri oleh perangkat desa. Tim serta perangkat desa, yang ikut andil dalam mendiskusikan desain, mengharapkan output agar Sendang menjadi lokasi wisata renang unggulan di wilayah Wonotunggal dan sekitarnya.

Tidak kalah dengan lokasi kolam renang lain, seperti Kolam Renang Bandar Eco Park, Kolam Renang Tirta Abirawa Bandar, dan Waterboom Bina Garut yang semuanya berada di wilayah Kecamatan Bandar, tak jauh dari lokasi Sendang Sodong.



Diantara persaingan kolam renang tersebut, keberadaan Sendang Sodong sebaiknya memiliki keunikan sendiri yang menarik pengunjung. Desain Sendang Sodong merepresentasikan potensi yang ada di Desa Sodong, yaitu yang berlokasi di dataran tinggi dengan kontur naik turun pegunungan yang ditumbuhi pohon besar.


Masa bangunan tambahan yang akan dibangun, merupakan representasi pegunungan, yang akan memberikan pengalaman ruang kepada pengunjung untuk naik dan turun dipenuhi tumbuhan. Di lantai satu masa bangunan tersebut difungsikan untuk area ganti pakaian, area duduk dan kedai penjualan, dan di lantai dua masa bangunan difungsikan sebagai gardu pandang dan area duduk tambahan pengunjung.

Patut Dicoba, Mahasiswa KKN Undip Kreasikan Jajanan Khas Dadirejo


DADIREJO - Siapa yang tidak tahu gemblong? Jajanan desa yang terbuat dari ketan ini memang bercita rasa gurih dan cocok dimakan dengan berbagai cara seperti ditambah gula, dicocol dengan sambal, atau bahkan dimakan langsung tanpa tambahan apa-apa. Mungkin kita sudah merasa biasa jika hanya memakan gemblong dengan cara yang itu-itu saja.

Namun, siapa sangka ditangan pengelola UMKM keripik gemblong di Desa Dadirejo yang sangat inovatif, gemblong yang biasa dimakan secara biasa bisa disulap menjadi sebuah keripik yang nikmat disantap saat kita sedang berada dimanapun dan kapanpun.

TIM I KKN UNDIP Desa Dadirejo berupaya untuk melakukan dan pendampingan terhadap salah satu pengelola UMKM Keripik Gemblong, yaitu Mbak Suci. Mbak Suci adalah salah satu produsen keripik gemblong maupun gemblong  biasa.

Bagaimana cara untuk membuat keripik gemblong, yang pertama bahan utama yang berupa gemblong diiris tipis-tipis sehingga membentuk seperti lembaran, yang kedua gemblong irisan tersebut dijemur selama minimal 2 hari pada saat terik matahari, yang terakhir setelah dijemur gemblong tersebut dapat langsung digoreng dan setelah digoreng keripik gemblong tersebut siap dipackaging dan labelling.

Mahasiswa KKN UNDIP turut membantu program tersebut dalam proses pengurusan perizinan industri rumah tangga (P-IRT) sehingga produk tersebut kelak dapat diterima oleh market dan dapat dipasarkan secara luas, sosialisasi hygiene sanitasi dalam proses produksi sehingga produk yang dihasilkan bersih dari jenis bahan impuritan dengan mengundang dinas kesehatan sebagai instansi terkait, serta pembuatan desain label “Keripik Gemblong JanDa (Jajanan khas Dadirejo).

 

Pada acara expo mahasiswa KKN yang bertajuk "EXPOSED" yang diselenggarakan pada tanggal 10 Februari 2019 mahasiswa KKN UNDIP Desa Dadirejo memamerkan salah satu produk andalannya yaitu Keripik Gemblong JanDa yang banyak menarik perhatian pengunjung expo karena keunikannya dan dengan berbagai varian rasa.


Harga yang dibanderol adalah Rp 15.000 untuk satu bungkusnya. Dan diharapkan untuk kedepannya produk Keripik Gemblong JanDa ini bisa menjadi salah satu oleh-oleh khas Pekalongan dan bisa dikenal oleh masyarakat luas.