SISALAM, Inovasi Mahasiswa Undip Atasi Diare dengan Daun Salam


SEMARANG, KampusUndip.com - Kasus diare terjadi sebanyak 1,7 juta kasus setiap tahunnya dan merupakan penyebab kedua tertinggi kematian anak di bawah usia lima tahun di seluruh dunia. Menurut data dari World Health Organization (WHO) tahun 2006, setiap 1 dari 5 kematian anak di bawah usia lima tahun di seluruh dunia meninggal karena diare dengan jumlah kematian sekitar 760.000 kasus setiap tahun. Penyakit diare masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di negara berkembang seperti di Indonesia, karena morbiditas dan mortalitasnya yang masih tinggi. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 menyatakan, angka prevalensi nasional untuk diare adalah sebesar 3,5%. Beberapa provinsi dilaporkan memiliki prevalensi diare di atas prevalensi nasional dengan prevalensi tertinggi di Papua sebesar 14,7% dan Nusa Tenggara Timur dengan prevalensi 10,9% dan terendah adalah Bangka Belitung dengan prevalensi 3,4%.

Beberapa jenis diare sering disebabkan oleh bakteri salah satunya yaitu bakteri Salmonella thypi, Shigella flexneri dan Escherichia coli. Tanaman telah diketahui merupakan salah satu sumber daya yang sangat penting dalam pengobatan dan upaya mempertahankan kesehatan masyarakat. Salah satunya adalah tanaman daun salam. Tanaman daun salam secara tradisional telah banyak dimanfaatkan masyarakat untuk mengatasi masalah penyakit diare. Kandungan kimia utama tanaman daun salam meliputi saponin, triterpen, flavonoid, tanin, polifenol, alkaloid, dan minyak atsiri yang terdiri dari seskuiterpen, lakton, dan fenol (Sudarsono, 2002). Menurut WHO, 80% penduduk dunia masih bergantung pada pengobatan tradisional termasuk penggunaan obat dari tanaman. Namun penggunaan tanaman daun salam secara terus-menerus sebagai obat diare dapat menyebabkan eksploitasi karena untuk mendapatkan ekstrak tanaman daun salam membutuhkan tanaman dalam jumlah yang banyak.


Oleh karena itu, dilakukan isolasi bakteri endofit tanaman daun salam yang dilakukan oleh tiga mahasiswa UNDIP yaitu Anggistina Wulansari (Biologi/2015), Maulida Aqlinia (Biologi/2015) dan Ema Nuzula Fathmah (Biologi/2014) yang telah bergabung dalam PKM PE dengan Dosen Pembimbing Dr. Drs. Wijanarka M.Si dengan judul PKM “Sisalam : Skrining dan Identifikasi Bakteri Endofit Tanaman Daun Salam (Syzygium polyanthum) sebagai Agen Antibakteri Penyebab Penyakit Diare”. Bakteri endofit merupakan mikroorganisme yang secara alami terdapat pada jaringan tanaman dan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap tanaman yang menjadi inangnya. Bakteri endofit yang diisolasi dari tanaman obat dapat menghasilkan senyawa metabolit sekunder yang sama seperti tanaman inangnya. Keuntungan dari isolasi bakteri endofit ini adalah kita tidak perlu menebang tanaman untuk dijadikan simplisia.

Hasil isolasi bakteri endofit tanaman salam (Syzygium polyanthum Weight) pada bagian akar, batang dan daun diperoleh sebanyak 12 isolat bakteri endofit murni yang tumbuh pada medium nutrient agar (NA). Empat isolat bakteri diperoleh dari organ akar dengan kode A1, A2, A3 dan A4. Empat isolat lainnya diperoleh dari organ batang dengan kode B1, B2, B3 dan B4. Selain itu, diperoleh empat isolat dari organ daun dengan kode D1, D2, D3 dan D4. Seluruh isolat tersebut merupakan bakteri basil gram positif.



Hasil uji antagonisme bakteri endofit tanaman daun salam terhadap bakteri penyebab penyakit diare menunjukkan adanya aktivitas antibakteri dari metabolit sekunder bakteri endofit tanaman daun salam. Isolat bakteri D4 potensial menghambat bakteri uji Salmonella typhi ATCC dengan besar zona hambat 8,75 mm yang dapat dikategorikan sedang dan potensial menghambat bakteri uji MRSA dengan besar zona hambat 1,25 mm yang dikategorikan lemah. Isolat bakteri B1 potensial menghambat bakteri uji Shigella flexneri ATCC dengan besar zona hambat 19,5 mm yang dapat dikategorikan kuat dan isolat B2 potensial menghambat bakteri uji Escherichia coli EPEC dengan besar zona hambat 13,5 mm yang dapat dikategorikan kuat pula. 

Berdasarkan hasil uji antagonisme tersebut diambil 6 isolat potensial yang selanjutnya dilakukan uji biokimia untuk mengetahui sifat fisiologis bakteri endofit tanaman daun salam dan hasil uji biokimia tersebut disesuaikan dengan Bergey's Manual of Determinative Bacteriology sehingga dapat disimpulkan bahwa bakteri endofit tanaman daun salam yang telah berhasil diisolasi dan potensial sebagai antibakteri mirip dengan genus Bacillus sp. Hal ini membuktikan bahwa benar metabolit sekunder dari bakteri endofit tanaman daun salam mampu menghambat bakteri uji penyebab diare sehingga dapat digunakan sebagai alternatif obat diare. Penelitian ini merupakan upaya eksplorasi botani tanpa eksploitasi untuk mewujudkan Indonesia sehat.