Mahasiswa Undip Manfaatkan Lamun Sebagai Pengawet Alami Ikan


Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan saat ini sedang gencar-gencarnya mengajak masyarakat untuk makan ikan. Terutama beberapa twit dari Ibu Susi Pudjiastuti beberapa waktu lalu yang viral di masyarakat, beliau mengancam siapa yang tidak makan ikan maka akan ditenggelamkan.

Hal tersebut bukan tanpa alasan, ikan banyak mengandung asam lemak omega 3, 6, 9, protein, dan banyak lagi yang bermanfaat bagi tubuh. Namun dibalik itu, ternyata ikan merupakan bahan makanan yang mudah rusak atau sering disebut perishable food.
  
Sejumlah mahasiswa Departemen Teknologi Hasil Perikanan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Diponegoro (FPIK Undip) mencoba memanfaatkan Lamun (sejenis rumput yang hidup di dasar laut) sebagai antibakteri yang dapat membunuh bakteri pada ikan. Mereka adalah Nikolaus Eric Pradana, Fath Fadhilah Wardiwira, Luqmanul Hakim, Winne Istianisa, dan Azizatul Nur Imamah.


“Dari apa yang kami pelajari selama kuliah, salah satu penyebab kerusakan ikan karena ada bakteri. Bakteri ini yang bikin ikan cepat busuk,” kata Nikolaus selaku ketua Tim.

“Selama ini kan orang pakai formalin, nah kami coba mencari alternatif pengganti, yaitu lamun sebagai antibakteri,” tambahnya.

Lamun selama ini kurang dimanfaatkan oleh masyarakat. Mereka memanfaatkan Lamun yang berada di perairan Pantai Jepara. Terdapat 3 jenis lamun yang mereka teliti, yaitu Enhalus acoroides, Cymodocea rotundata, dan Thalassia hemprichii. Agar bahan alami dapat digunakan sebagai antibakteri maka harus mengandung zat bioaktif seperti flavonoid, tannin, alkaloid, dan lain-lain.

“Lamun-lamun tersebut sudah kami ekstrak dan uji fitokimia di Laboratorium Mikrobiologi Teknologi Hasil Perikanan Undip, dan ketiga jenis lamun mengandung flavonoid, tannin, dan alkaloid,” Ucap Winne yang merupakan salah satu anggota tim. 

“Hasil uji fitokima tadi menunjukan bahwa lamun ini dapat digunakan sebagai antibakteri pada ikan, dimana bakteri target kami adalah Escherichia coli dan Staphylococcus aureus,” tambah Luqmanul, anggota tim yang lain.


“Penelitian ini masih akan kami lanjutkan dengan melihat seberapa besar zona hambat masing-masing lamun terhadap bakteri, dan nantinya akan kami terapkan pada fillet ikan secara langsung dengan melihat seberapa lama masa simpan fillet ikan yang diberi ekstrak lamun,” tambahnya.

Mereka mengatakan bahwa penelitian ini belum selesai, dan akan melanjutkannya dengan melihat perbedaan masa simpan fillet ikan yang diberi ekstrak lamun dengan fillet ikan yang tidak diberi tambahan apapun.

- Ringan Mencerdaskan -