Mahasiswa Undip Sulap Limbah Kulit Nanas Jadi Sampo


Nanas merupakan salah satu buah tropis yang banyak tumbuh di Indonesia. Buah nanas tidak hanya dinikmati dalam bentuk buah saja namun juga berbagai olahan. Pengolahan buah nanas menghasilkan limbah berupa kulit nanas yang selama ini hanya dibuang begitu saja. Namun di tangan orang-orang kreatif, limbah bisa diolah menjadi barang yang dapat digunakan. Sekelompok mahasiswa Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Universitas Diponegoro, yaitu Astrid Noviana, Ayu Munti Nilamsari, Rina Yuniarti, Muhammad Rizqi, dan Khisnun Baani, telah menyulap limbah kulit nanas menjadi sampo.


Berawal dari kunjungan mereka ke Desa Belik, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, yang merupakan salah satu daerah penghasil nanas. Limbah kulit nanas yang dihasilkan dari pengolahan nanas cukup banyak dan hanya dibuang ke kebun dan sungai. Hal ini memprihatinkan karena semakin hari semakin banyak dan berpotensi mencemari lingkungan. Akhirnya tercetuslah ide untuk membuat formulasi sampo kulit nanas yang kemudian dilakukan pelatihan kepada masyarakat Desa Belik.

“Kami awalnya baca-baca penelitian-penelitian tentang buah nanas yang dijadikan sampo, juga informasi komposisi sampo-sampo yang menggunakan ekstrak  dan jus buah nanas. Kami juga membaca penelitian mengenai senyawa pada kulit nanas yang ternyata hampir sama dengan kulit nanas, terdapat enzim bromelin yang bisa digunakan sebagai antiketombe. Bahan pebuatan sampo juga mudah, prosesnya gampang untuk dilakukan, pasti masyarakat mudah mempraktikan. Sekarang baru pelatihan pada kelompok PKK Desa Belik, harapannya dapat meluas ke daerah lain,” ungkap Astrid Noviana selaku ketua kelompok.



Pelatihan pengolahan limbah kulit nanas dilakukan kepada kelompok PKK desa Belik mulai tanggal 8 April 2017 yang juga kemudian dilakukan pelatihan mandiri.

“Pelatihan pengolahan limbah kulit nanas ini menambah keterampilan saya pribadi dan kelompok PKK yang lain. Kelompok PKK akhirnya mempunyai kegiatan mandiri yang produktif. Selain itu, limbah kulit nanas yang dibuang kini semakin berkurang karena kami olah menjadi sampo. Saat ini sampo kulit nanas digunakan keluarga, juga sudah dijual kepada tetangga sekitar Desa Belik. Harapannya selain mengurangi limbah kulit nanas, sampo kulit nanas ini dapat diproduksi secara masal dan dapat diperjualbelikan untuk meningkatkan pendapatan masyarakat desa Belik,” tutur Yunita selaku salah satu anggota PKK.


Pengolahan limbah kulit nanas diharapkan dapat menjadi solusi untuk mengurangi limbah kulit nanas dan dapat dikembangkan di berbagai daerah. Selain itu, sampo kulit nanas berpotensi sebagai usaha bisnis masyarakat sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat.