Mahasiswa Undip Kampanyekan Desa Wisata Kampoeng Jamu Mijen


SEMARANG, KampusUndip.com – Mahasiswa D3 Public Relations Universitas Diponegoro (Undip) turut memperkenalkan desa wisata Kampoeng Jamu di Wonolopo, Mijen (28/4/17).

Kampoeng Jamu adalah salah satu desa para jamu gendong di wilayah Mijen, Semarang. Kampoeng ini berdiri sejak tahun 70-an dan memiliki generasi para peracik jamu tradisional. Desa ini menjadi salah satu distributor tanaman jamu ke pabrik jamu besar, dengan menghasilkan tanaman seperti, Jahe, Temulawak, Temu Mangga, Kunir dan lain-lain.

Agus Naryoso, selaku dosen pembimbing mata kuliah kampanye PR D3 Hubungan Masyarakat Universitas Diponegoro menginginkan kegiatan Kampanye PR ini meningkatkan wisatawan untuk berkunjung ke Kampoeng Jamu, serta membawa produk para jamu gendong Mijen, Semarang Jawa Tengah ketingkat nasional hingga tingkat internasional.


Dinas pertanian Semarang, Jawa Tengah ikut serta memberikan kontribusi dalam kampanye Public Relations kali ini. Dengan mengajak para petani tanaman jamu tradisional meningkatkan kualitas tanaman jahe merah di Kampoeng Jamu. Dinas pertanian ingin membudidayakan pupuk organik untuk memperbanyak agen hayati.

Selain itu diharapkan hasil tanaman jahe merah nantinya menjadi kualitas premium dan efektif dalam percepatan budi daya tumbuhnya tanaman jahe tersebut. Dengan pupuk organik. Sehingga akan lebih banyak jahe yang dihasilkan.

Pengembangan makanan kreatif yang terbuat dari bahan jahe. Chef Afi memberikan demo cara membuat coklat berbahan jahe merah. Makanan kreatif ini akan bisa menjadi ide untuk mengembangkan produk pengolahan jahe yang tidak hanya menjadi jamu. 

Balai pengembang kemasan dan industri kreatif Jawa Tengah juga turut serta untuk mengisi talkshow kampanye ini dan memberikan penyuluhan cara mengemas produk jamu warga Kampoeng Jamu dengan baik. Sehingga nantinya para warga Kampoeng Jamu dapat mengemas dan meningkatkan kualitas kemasan produk jamu mereka sendiri dengan baik. Para jamu gendong antusias untuk bertanya cara mengemas jamu dengan baik dan tahan lama.

Dalam sehari jamu gendong dapat menghasilkan Rp 300.000 sudah temasuk laba. Para jamu gendong sendiri tidak pernah khawatir jika penyakit menjangkit, karena jika penyakit menjangkit, mereka meracik jamu sendiri dan menyembuhkan diri sendiri.

Di setiap rumah warga terdapat botol yang digunakan untuk menaruh botol jamu yang jamu gendong hasilkan, dan masing-masing warga memiliki caranya sendiri untuk menjual jamu masing-masing.



Bu Tukiyem sudah menjadi pewaris seorang jamu gendong sejak dia kecil, jamu yang tumbuk rasanya ebih nikmat dai jamu diblender dengan mesin. Namun jamu tumbuk memerlukan banyak waktu untuk menumbuk, para jamu gendong berharap mendapatkan edukasi setelah mengikuti penyuluhan dari Dinas  Pertanian juga Balai pengembang kemasan dan industri Jawa Tengah.

Pak Kholidi sebagai ketua RT desa Wonolopo ini juga salah satu ketua para jamu gendong dan memperkenalkan desa wisata jamu ini dari tingkat nasional hingga internasional. Pak kholidi berharap dengan adanya kampanye desa wisata Kampoeng Jamu ini dapat mengajak wisatawan berkunjung dan menikmati jamu tradisional para jamu gendong.

Dalam kampanye ini, ketua panitia kampanye D3 Public Relations UNDIP berharap dapat memberikan solusi dapat mengembangkan desa wisata Kampoeng Jamu, dan mengedukasi para jamu gendong serta meningkatkan kualitas dan nilai jual jamu ke pasar Internasional.  Karena jamu Indonesia kini sudah menjadi obat tradisional yang juga terkenal di tingkat dunia. Sehingga Kampoeng Jamu ini akan dikenal tidak hanya tingkat nasional namun dapat tingkat internasional.