Utang Indonesia US$ 997 Per Kepala, Menkeu : Masih Sehat


SEMARANG, KampusUndip.com – Menteri Keuangan (Menkeu) RI, Sri Mulyani menjelaskan sejumlah hal berkaitan utang Indonesia saat mengisi kuliah umum di Universitas Diponegoro di Gedung Prof Soedarto SH Kampus Undip Tembalang, Semarang, Kamis (16/2/2017).

Pada kuliah umum bertema “APBN yang Efektif dan Kredibel untuk Membangun Negeri” ini, Sri Mulyani bercerita terkait utang lantaran banyaknya masyarakat yang khawatir akan utang Indonesia.

Menurutnya, jika dibandingkan Gross Domestic Product (GDP), nominal desifit yang ditambal untuk menutupi utang Indonesia masih tergolong sehat.


“Dalam satu dekade terakhir, kita selalu dalam posisi defisit. Rata-rata desifit kita 1,5 dari GDP. Apakah Indonesia suka berhutang? Ya enggak juga!” ujar Menkeu.

Sri Mulyani menyampaikan rincian terkait utang yang ditanggung per kepala di Indonesia dihadapan ribuan peserta yang mayoritas mahasiswa.

“Ya rata-rata (utang) per kepala di Indonesia adalah US$ 997 (Dollar AS),” kata Sri Mulyani

Mendengar nominal tersebut, para peserta tampak kaget sembari tertawa. Sri Mulyani pun tanya balik kepada peserta.

“Ketawanya itu takut atau seneng?” Tanya menteri kelahiran Lampung itu dengan muka serius dalam suasana lucu.

Menkeu mengatakan, posisi utang per kapita Indonesia bisa dibilang lebih rendah jika dibandingkan dengan negara lain.

“Indonesia masih punya modal untuk membuat APBN yang sehat. Utang per kapita Indonesia masih kecil, US$ 997 per kepala. Bandingkan dengan Jepang utang per kapita US$ 85.635. Amerika Serikat setiap kepala US$ 62.000,” terangnya.


Selain itu, posisi utang di Indonesia juga tergolong masih sehat jika membandingkan rasio utang terhadap GDP.

“Bandingkan dengan rasio utang di beberapa negara. Tahun 2016 Indonesia dari 32% menjadi 28%. Jepang, jumlah utang 2,5 kali lipat dari jumlah ekonominya. Di Jepang menghadapi masalah penduduk tua. Indonesia masyarakat masih muda dan utang rendah,” tambahnya.

Sebagai solusi mengatasi utang, Sri Mulyani menekankan supaya warga negara untuk taat membayar pajak. Karena negara selalu pinjam dana dari luar diakibatkan penerimaan negara yang lebih kecil dibandingkan belanja negara. Jika penerimaan lebih besar dari belanja, Sri memastikan pemerintah tidak akan pinjam dana dari luar lagi. (KUC)

- Ringan Mencerdaskan -