11 Warna Bendera

Representasi dari 11 fakultas di Undip

Patung Diponegoro (Pangeran Diponegoro)

Icon-nya Kampus Universitas Diponegoro

Tugu Bundaran Kampus Undip Tembalang

Pintu gerbang utama masuk kampus Undip Tembalang

Ruang Terbuka Hijau Kampus Undip

Menuju Kampus Undip yang Asri dan Sejuk untuk Aktivitas Mahasiswa dan Masyarakat Sekitar

Gedung Prof. Soedarto S.H

Pusat Kegiatan Seminar, Workshop, Seni, Verifikasi-Registrasi, dll

Gedung ICT Centre dan Laboratorium Terpadu

Pusat Informasi Dalam dan Luar Negeri, IT, dan Laboratorium Penelitian

Masjid Kampus (Maskam) Undip

Pusat Kegiatan Islam Mahasiswa (Kajian, Wisata Ruhani, Wisata Ilmu, Mentoring, TPQ, Muslimah Training, dll)

Rusunawa Undip

Fasilitas Tempat Tinggal yang disediakan Pihak Kampus Bagi Mahasiswa

SPBU Undip Tembalang

Stasiun Pengisian Bahan Bakar yang Terintegrasi di Dalam Area Kampus. Satu-satunya di Jawa Tengah

Rumah Sakit Nasional Diponegoro (RSND)

Rumah Sakit Universitas Milik Undip Berstandar Nasional. Satu-satunya di Jawa Tengah

'Futsal Indoor Stadium' Undip

Stadion Futsal Kampus Undip Berkelas Internasional. Satu-satunya di Jawa Tengah

Bendungan Waduk Undip

Mega Proyek Pembangunan Waduk Kampus Undip. Satu-satunya di Jawa Tengah

Waduk Undip (Waduk Pendidikan Diponegoro)

Area Konservasi, Wisata Pendidikan dan Penelitian Mahasiswa, Pembangkit Listrik, dll. Satu-satunya di Jawa Tengah

Stadion Sepakbola Undip

Pusat Kegiatan Olahraga Sepakbola di Kompleks Gelora Undip Tembalang, Semarang

Upacara PMB di Stadion Undip

Lebih Dari 50 Ribu Mahasiswa Menimba Ilmu di Kampus Undip

Upacara Penerimaan Mahasiswa Baru di Stadion Sepakbola Undip

Menerima rata-rata 10 Ribu Mahasiswa Baru Tiap Tahun

Widya Puraya

Salah Satu jantung Kampus Undip Tembalang (UPT Perpustakaan, LP2MP, Posko KKN, Lapangan Upacara, dll)

JIPENSTU, Jilbab Peningkat Stamina Tubuh Karya Mahasiswa Undip


Jilbab selama ini seringkali hanya dilihat dari segi estetikanya saja serta sebagai pemenuhan kewajiban sebagai seorang muslimah. Sehingga seiring berjalannya waktu, terdapat berbagai macam model jilbab dari model jilbab yang dapat dikreasikan sendiri sampai model jilbab simple yang langsung pakai.

Walaupun jilbab yang dapat dikreasikan sendiri mulai menjamur di masyarakat, namun model jilbab simpel langsung pakai sampai sekarang masih digandrungi oleh muslimah di segala macam usia.

Yupss, benar sekali! Model jilbab simpel lebih mudah dipakai dan tidak ribet apalagi bagi kalian yang beraktivitas seharian penuh. Apakah kalian salah satu penggemar setia jilbab  model jilbab simpel langsung pakai?


Kini, tim PKM-K Universitas Diponegoro (Undip) yang beranggotakan 5 orang, yakni Intan Alfina Khoiriyah (Ilmu Kesehatan Masyakarat-2015/Ketua), Aini Nur Furoida (Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan-2015/Anggota), Niko Karuniawan (Ilmu Hukum-2015/Anggota), Erna Erawati (Teknik Informatika-2015/Anggota), Ayu Zahara (Ilmu Hukum-2015/Anggota) mengembangkan kreasi terbaru jilbab JIPENSTU”. JIPENSTU memiliki fungsi  utama yaitu meningkatkan stamina tubuh.

Aktivitas yang padat, apalagi menguras pikiran akan membuat stamina tubuh menurun. Tentu saja nantinya hasil kerja tidak optimal. Bagaimana caranya jilbab meningkatkan stamina tubuh? Hal inilah yang mungkin terlintas dalam pikiran.

Nah, disini kami memodifikasi jilbab yang dilengkapi kantong disisi kanan dan kirinya kemudian di dalamnya akan diisi aromaterapi.




Tak perlu khawatir, gel aromaterapi yang digunakan bukan berasal dari bahan-bahan berbahaya, karena aromaterapi ini sebagian besar terbuat dari karagenan dan essenstial oil yang dibentuk menjadi sebuah gel.

Perbedaan JIPENSTU dengan jilbab biasa yang beredar di pasar yaitu meningkatkan stamina tubuh tanpa obat, menenangkan pikiran, meningkatkan konsentrasi pikiran. Jilbab ini tidak menimbulkan alergi sehingga aman digunakan siapapun.

Tim PKM Undip Temukan Adsorben Logam Pb dari Bulu Ayam


Limbah industri dapat mencemari lingkungan yang menyebabkan penurunan kualitas badan air. Dan jika tidak segera diatasi, maka akan berdampak pada kesehatan manusia yang menggunakan dari badan air yang sudah tercemar. Salah satu limbah industri yaitu logam berat.

Disisi lain, bulu ayam merupakan salah satu limbah yang dihasilkan dari rumah pemotongan unggas (RPU). Bulu ayam yang mengandung keratin dapat menurunkan kualitas tanah karena bulu ayam sulit terdegradasi di lingkungan.

Apabila limbah bulu ayam tidak dikelola dengan baik, maka beban pencemaran lingkungan semakin besar dan berdampak terhadap kesehatan karena penyebaran penyakit akibat limbah bulu ayam.

Oleh karena itu, perlu adanya solusi cerdas dalam mengatasi permasalahan logam berat dan limbah bulu ayam tersebut.

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan solusi pemecahan masalah tersebut, yaitu menggunakan adsorben bulu ayam sebagai alternatif adsorpsi logam berat di perairan. Selain itu, adsorben bulu ayam dapat mengatasi pencemaran lingkungan yang diakibatkan dari limbah bulu ayam itu sendiri dan limbah dari industri yang menghasilkan logam berat, mencegah penyebaran penyakit yang disebabkan oleh paparan logam berat perairan yang berasal dari industri.

Bulu ayam mengandung protein serat atau keratin yaitu : protein kasar (79,88%), lemak kasar (3,77%), dan serat kasar (0,32%).

Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pembuatan adsorben bulu ayam dengan dimodifikasi menggunakan nano zeolite. Pengujian dilakukan dengan uji AAS, FTIR dan SEM. Hasil uji menunjukan bahwa keratin bulu ayam mampu dijadikan sebagai adsorben logam berat Pb karena hasil uji yang positif.

Berdasarkan latar belakang ini, pengujian adsorben bulu ayam sebagai adsorpsi logam berat di perairan diharapkan dapat menjadi produk alternatif ramah lingkungan dengan pemanfaatan limbah bulu ayam.

Mahasiswa Undip Kembangkan JETNET, Jaket Alat Bantu Tunanetra


Tunanetra adalah suatu kondisi penglihatan seseorang yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Kondisi tersebut disebabkan oleh kerusakan pada mata, saraf optik dan atau bagian otak yang mengolah stimulus visual. Penglihatan sangat berpengaruh terhadap kehidupan sehari-hari seseorang, sehingga kebutaan menjadi suatu masalah dan bahkan bisa menjadikan seseorang kesulitan menjalankan aktivitasnya.

Berdasarkan hasil survei nasional tahun 1993-1996, angka kebutaan di Indonesia mencapai 1,5%. Angka ini menempatkan Indonesia pada peringkat pertama di Asia dan nomor dua di dunia setelah negara-negara di Afrika Tengah sekitar Gurun Sahara untuk masalah kebutaan.

Sebagai perbandingan, di Bangladesh, angka kebutaan mencapai 1%, di India 0,7%, di Thailand 0,3%, Jepang dan Amerika Serikat berkisar 0,1% sampai 0,3%. Jika ada 12 penduduk dunia yang buta dalam setiap 1 jam, empat di antaranya berasal dari Asia Tenggara dan dipastikan 1 orang dari Indonesia.

Sampai saat ini mayoritas penyandang tunanetra hanya menggunakan tongkat bantu untuk membantu mereka berjalan. Hal tersebut tentunya kurang efisien dikarenakan kemampuan tongkat yang hanya mampu mengetahui objek yang ada di depan penggunanya, ditambah lagi dengan keharusan dari pengguna tongkat untuk terus mengayunkan tongkatnya berpotensi mengenai hal – hal yang tidak diinginkan.

Berdasarkan permasalahan tersebut muncullah ide kreatif dari mahasiswa Undip untuk mengembangkan alat bantu tunanetra. Gagasan yang berjudul JETNET (Jaket Tunanetra) dengan sensor jarak HC-SR04 dan Gyroscope untuk mendeteksi objek sekitar pengguna yang diketuai oleh Teguh Kurniawan (T. Elektro 2015) dan beranggotakan Krismon Budiono (T. Elektro 2016), Rose Mutiara Suin (T. Elektro 2017), dan Yuni Prihatin Ningtyas (Kesehatan Masyarakat 2015) bersama dosen pembimbing Dr. Aris Triwiyatno, S.T., M.T. tersebut berhasil mendapatkan pendanaan dari Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Republik Indonesia melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) tahun 2017.

Prototipe yang sedang dikembangkan ini terdiri dari dua jenis sensor, yaitu delapan sensor jarak HC-SR04 dan dua sensor sudut Gyroscope yang dikendalikan oleh 2 buah Arduino Uno dan memiliki output berupa suara dari earphone yang tersambung dengan modul MP3 dengan sumber tenaga baterai 7,2 V berkapasitas 1800 mAh. Semua sensor ditanamkan di prototipe JETNET langsung dan untuk sistem kendali serta baterainya dimasukan ke dalam kotak kecil yang diselipkan di belakang celana sehingga sangat praktis dalam pemakaiannya.


JETNET pada dasarnya berfungsi untuk mendeteksi objek sekitar pengguna dengan memanfaatkan kedua jenis sensor tersebut. JETNET dapat mendeteksi objek – objek yang berada di depan, serong kanan, serong kiri, kanan, dan kiri yang berjarak 3 meter, sehingga radius deteksinya mencapai 180ยบ dan juga lubang yang berada di depan penggunanya serta pengguna juga dapat mengetahui elevasi kemiringan jalan. Dengan alat ini, penyandang tunanetra seakan dapat melihat keadaan sekitar yang diinformasikan dengan suara dari earphone yang mengindikasikan adanya objek.

Alat ini memiliki beberapa keunggulan diantaranya (1) Adanya sistem kendali mikrokontroler berupa Arduino Uno. (2) Waktu deteksi yang cepat sekitar 1 detik. (3) Bisa digunakan siapa saja. (4) Praktis dalam penggunaannya. (5) Output berupa suara. (6) Harganya yang ekonomis.

Tim JETNET berharap karyanya dapat diaplikasikan dan berguna bagi penyandang tunanetra yang ada di Indonesia. Sehingga dapat membantu mobilitas pengguna dan mengurangi angka kecelakaan yang dialami penyandang tunanetra.

PEGOLE, Permainan Kreatif Tingkatkan Konsentrasi Anak Dengan ADHD


PEGOLE merupakan permainan yang dapat dijadikan suatu bentuk terapi, digagas oleh tim PKM-PSH (Program Kreativitas Mahasiswa-Penelitian Sosial Humaniora) Universitas Diponegoro (Undip) yang beranggotakan Tiara Herindita Prastanti, Rohmatus Solikhah, Isnaeni Anggun Sari, Sarah Sakinatus Sya’adah, dan Candra. Permainan PEGOLE, singkatan dari Perpaduan Lego Puzzle, bertujuan untuk membantu meningkatkan konsentrasi pada anak dengan ADHD.

Apa itu ADHD? ADHD singkatan dari Attention Deficit Hyperactivity Disorder, merupakan gangguan pada individu yang meliputi sulitnya memusatkan perhatian, hiperaktif, dan impulsivitas. Terdapat perilaku sulit memusatkan perhatian pada anak dengan ADHD dapat berupa tindakan sulit berkonsentrasi, seperti sulit untuk berkomunikasi, gagal menyelesaikan tugas, sulit mengatur aktivitas, menghindari tugas yang memerlukan pemikiran, perhatian mudah teralih.

Anak dengan ADHD di Indonesia itu sendiri mencapai 26,4%, namun prevalensi anak dengan ADHD di seluruh dunia sebesar 3,4%. Memang bukan suatu jumlah yang banyak, karena berdasarkan survey lapangan masih banyak orang tua terkadang tidak mengerti tentang gangguan tersebut bahwa anaknya memiliki gangguan ADHD. Bahkan ada pula orang tua yang terlambat mengetahui anaknya ADHD. Meski dengan prevalensi yang kecil, kita tetap harus memperhatikannya agar tercipta perkembangan anak yang baik.


Tim PKM-PSH melakukan penelitian mengenai Efektivitas PEGOLE (Perpaduan Lego Puzzle) untuk meningkatkan konsentrasi pada anak dengan ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) selama 1 bulan di dua tempat yaitu di Sekolah Anargya dan Pusat Terapi Anargya Semarang.
Pada masing-masing anak akan dihadapkan dengan 5x permainan yang berarti 5 set permainan yang terdiri dari gambar-gambar yang berbeda dan dengan tingkat kesulitan yang berbeda pula. Satu set permainan akan terdiri dari 4 gambar yang masing-masing mengelilingi 4 sisi kubus yang nampak.

Melalui terapi permainan PEGOLE (Perpaduan Lego Puzzle) ini diharapkan konsentrasi pada anak-anak dengan ADHD dapat menjadi lebih baik. Dengan konsentrasi yang membaik diharapkan pula mereka dapat melakukan aktivitasnya, baik aktivitas saat belajar maupun bermain dengan lancar tanpa adanya kendala atau kendala seperti gagal menyelesaikan tugas dan kesulitan dalam mengatur aktivitas, dimana kesulitan tersebut merupakan hasil dari tindakan sulit berkonsentrasi. 

Healthy Games, Metode Kreatif Terapkan Pola Hidup Sehat Usia Dini


Sekolah Dasar Negeri Wonolopo 01 merupakan salah satu sekolah di Semarang yang telah memiliki tempat cuci tangan dilengkapi sabun. Akan tetapi fasilitas tersebut belum dimanfaatkan dengan maksimal.

Berbagai aktivitas dilakukan seperti bermain kelereng dan menanam berbagai pohon atau tanaman hias, tapi setelah itu langsung melakukan aktivitas lain yang bersentuhan langsung dengan makanan dan pembelajaran tanpa cuci tangan. Hal tersebut dapat dilihat bukan hanya di SDN Wonolopo 01, tapi juga di sebagian besar lingkungan sekolah di Indonesia.

Melihat hal tersebut, “Relawan Sehat” dari mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) yang diusung oleh Durotun Maqfiraah (FKM 2014), Ahmad Zaenal Arifin (Sejarah, 2014), Nopi Reknasari (FKM, 2015), Ravi Oktafian (Sejarah, 2016), dan A.A. Wahid (Agribisnis, 2016) membentuk sebuah metode pengenalan perilaku hidup bersih dan sehat yang menggunakan permainan yang menarik.

Metode ini ditujukan untuk siswa-siswa kelas 4 SDN Wonolopo 01 yang berusia 9-12 tahun. Melihat umur anak yang masih dibilang muda atau dapat dikategorikan usia dini, maka akan sulit jika hanya dijelaskan secara verbal.

Dari sinilah muncul ide yang disebut sebagai Healthy Games, yaitu sebuah metode pengenalan perilaku hidup bersih dan sehat menggunakan pranata permainan. Permainan kartu adalah salah satu terobosan yang dilakukan dan dimaksimalkan oleh “Relawan Sehat”.

Program Healthy Games merupakan salah satu bentuk Program Kretivitas Mahasiswa (PKM) Undip bidang Pengabdian Masyarakat. Bentuk program yang aplikasinya bisa digunakan untuk seluruh Sekolah Dasar di seluruh Indonesia.

Menurut Mayke S Tedjasaputra, seorang Psikolog, bermain akan meningkatkan rasa senang dari seorang anak yang akan menjadikan optimalnya pesan yang akan disampaikan dari suatu hal.




Simbol-simbol yang juga membantu anak untuk bisa lebih memahami maksud dan tujuan program atau permainan ini. Maka dari itu dalam kartu tersebut, Relawan Sehat menyelipkan berbagai gambar yang menarik dengan penggambaran ilustrasi perilaku hidup bersih dan sehat.

Tidak hanya bermain, dalam program dan metode yang ditawarkan ini, Relawan Sehat juga mengajarkan bagaimana melestarikan diri dan lingkungan agar terwujudnya kenyamanan yang terbaik. Program terobosan Healthy Games ini memiliki tujuan yang mulia dan dapat bermanfaaat bagi sasaran maupun lingkungan sasaran.

Pertama, para siswa dapat mengerti pentingnya hidup bersih dan sehat dalam kehidupan sehari-hari. Kedua, Setelah mereka tahu pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat, maka meraka sebisa mungkin mampu menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.

Ketiga, dari bisa nantinya diharapkan dapat terbiasa dengan perilaku hidup bersih dan sehat serta menjadikan budaya yang positif. Keempat, menularkan segala apa yang telah didapat pada lingkungan sekitarnya sebagai wujud dari usaha menjadi Agen of Changes.

PILMAPRES Nasional 2017, Wakil Undip Gianina Lolos Ke Final


SEMARANG, KampusUndip.com – Wakil Universitas Diponegoro (Undip) Gianina Dinda Pamungkas berhasil lolos ke babak final ajang Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (PILMAPRES) Nasional tahun 2017 atau juga yang disebut Mawapres.

Gia, sapaan akrab Gianina, berhasil melaju ke tahap akhir PILMAPRES Nasional beserta 16 finalis lainnya dari berbagai perguruan tinggi yang dinyatakan lolos. Pengumuman lolos disampaikan melalui situs resmi pilmapres.ristekdikti.go.id pada Juni 2017.

Usai pengumuman lolos tahap akhir, para finalis kemudian diundang untuk menghadiri babak final yang akan digelar di Surabaya pada 10 – 13 Juli 2017 mendatang.



Gianina Dinda Pamungkas adalah mahasiswi Fakultas Kedokteran angkatan 2014. Ia merupakan Pemenang Juara I Pemilihan Mawapres Undip 2017 program Sarjana.

Sederet penghargaan baik tingkat nasional maupun internasional telah ia raih. Seperti penghargaan internasional yang didapatkan di Negeri Jiran Malaysia dan Taiwan.

Selain Mawapres, Gianina juga meraih penghargaan sebagai mahasiswa terinspiratif perdana di Undip dan pernah menjuarai ajang Muslimah Inspiration Undip (MIU) di kampusnya. (KUC/Foto: YouTube Gianina Dinda Pamungkas)

Chips KUA, Cemilan Sehat dari Kulit Udang ala Mahasiswa Undip


Kulit udang dikenal sebagai limbah yang tidak dapat dikonsumsi lagi. Akan tetapi melalui gagasan inovatif 5 mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip), limbah tersebut dapat diubah menjadi cemilan sehat yang bernilai ekonomi.

Melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Bidang Kewirausahaaan, mahasiswa Undip menciptakan kerupuk sehat dari kulit udang yang lebih dikenal sebagai “Chips KUA”. Tim PKM-K ini diketuai oleh Turmala Dewi (Gizi/2015), dan beranggotakan Anne Azkiya Nursya’bani (Gizi/2015), Lutfiatul Khusna (Gizi/2015), Resti Nanda Pratiwi (Gizi/2015) serta Fahmi Mumtazah (Akuntansi/2015).

“Chips KUA (Kulit Udang Antikolesterol) merupakan inovasi kerupuk yang terbuat dengan bahan baku kulit udang dan diolah dnegan metode sandfrying sehingga bersifat antikolesterol,tutur Turmala.


Siapapun, mulai dari  anak-anak, remaja, hingga lansia dapat mengonsumsi Chips KUA sebagai alternatif jajanan sehat. Selain bersifat antikolesterol, “Chips KUA” memiliki rasa yang gurih, renyah, enak, dan tidak berminyak.

Chips KUA dijual dengan harga yang sangat terjangkau. Setiap kemasannya “Chips KUA” memiliki berat bersih sebnayak 40 gram.

“Saat ini Chips KUA memiliki tiga varian rasa yaitu balado, original, dan rumput laut, tambah Turmala.

Produk kerupuk berbahan dasar kulit udang belum ada di pasaran. Sehingga harapan untuk masa mendatang, produk ini bisa menjangkau pasar yang lebih luas lagi.

Sempat Dinyatakan Hilang, Mahasiswa Undip Dio Akhirnya Ditemukan


SEMARANG, KampusUndip.com – Sempat dinyatakan hilang oleh pihak keluarga, mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (FK Undip), M. Dhiaulhaq alias Dio akhirnya ditemukan.

Dio ditemukan di Yogyakarta sebagaimana berita yang disampaikan Polrestabes Semarang, dalam screenshoot yang disebar di group ROHIS SMAN 1 yang juga diterima oleh KAMPUSUNDIP.COM Rabu (21/6) malam.

Kabar ditemukannya Dio (via group ROHIS SMAN 1)
“Alhamdulillahi robbil alamin. Baru saja mendapt berita dari Resmob polrestabes Semarang yg isinya Mas Moh Dhiaulhaq mhs FK telah ditemukan di jogyakarta dalam keadaan selamat dan sehat. Ybs sedang didampingi oleh AKP Janadi dan sesegera mungkin akan diajak ke Semarang.syukur ya Allah. Was wr wb,” Begitulah pesan yang disebar.

Kabar ditemukannya Dio ini dipastikan valid karena menyertakan foto diri Dio. Dalam foto tersebut, sambil mengenakan kaos putih merah, Dio memang tampak sehat dan tersenyum dengan perangkat laptop disampingnya.

M. Dhiaulhaq alias Dio (Foto: Mahardika)
Sebelumnya, mahasiswa semester 2 tersebut dilaporkan hilang sejak Senin (19/6) oleh pihak keluarga lantaran hilang kontak. Sempat ditemukan mobil yang dikemudikan Dio di Jalan Alteri Yos Sudarso Kalibanteng Semarang, namun tanpa keberadaan Dio.

Dengan ditemukannya Dio ini, usai sudah kekhawatiran yang dirasakan selama hampir 3 hari oleh keluarga. Dan dokter Alex, ayahanda Dio, beserta pihak keluarga bisa berlebaran dengan putranya. (KUC)

Melalui BAYANGKURA, Mahasiswa Undip Budidaya Tanaman Obat Sambil Kenalkan Wayang


Indonesia dikenal mempunyai kekayaan hayati. Salah satunya adalah tanaman obat yang sarat manfaat. Ironisnya masyarakat sekarang lebih percaya untuk mengkonsumsi obat kimia dibandingkan tanaman obat.

Berdasarkan latar belakang tersebut, Tim PKM-K Universitas Diponegoro (Undip) yang diketuai oleh Syahilla Efriana (FKM/2014) dan beranggotakan Deo Reynaldo Alwi (FT/2014), Dinda Fidela Putri (FEB/2014), Yanu Andria Sucianto (FPP/2014), dan Diina Ul Qoyyima (FKM/2015) memberikan solusi yang menarik dengan menciptakan produk “BAYANGKURA”.


BAYANGKURA (Boneka Wayang Hortikultura Biofarmaka) merupakan produk ramah lingkungan yang memanfaatkan serbuk kayu gergaji yang selama ini menjadi sampah sebagai media tanam benih tanaman obat dengan bentuk boneka wayang yang berkemasan menarik dan sarat dengan nilai edukasi.

Pemilihan bentuk wayang bukan tanpa alasan. Diketahui bahwa salah satu mahakarya yang terkenal dari Indonesia yaitu wayang yang telah diakui oleh UNESCO, saat ini semakin hari semakin memudar. Edukasi yang diberikan mengenai cara merawat dan menumbuhkan tanaman obat, manfaat tanaman obat dan ciri-ciri bentuk wayang.

Produk hasil kreativitas mahasiswa Undip ini, menawarkan berbagai varian tanaman obat yang tumbuh meliputi wheatgrass, oregano, parsley, basil Red Leaved dan variasi bentuk boneka yaitu Arjuna dan Srikandi. BAYANGKURA juga bebas dari bahan kimia sehingga aman dari jangkauan anak-anak

.
Boneka wayang ini merupakan alternatif mainan anak-anak untuk pendidikan, melatih kreativitas serta imajinasi. Bagi kaum remaja dan dewasa, produk ini cocok menjadi souvenir yang ramah lingkungan dan mampu memberikan edukasi mengenai cara menaman tanaman obat serta manfaatnya.

Dengan harga terjangkau, nilai, manfaat serta keindahan produk ini dapat didapat melalui akun WA (085799196566), intagram @bayangkura, OA line @aqn7333k, atau www.tokopedia.com/bayangkura.

Mahasiswa Undip Dukung Indonesia Bebas Sampah 2020


Berawal dari kepedulian akan pentingnya menjaga lingkungan, empat mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip), Dewi Sawitri (Psikologi, 2014), Ihdayani Banun Afa (Statistik, 2014), Deni Faisal Zulang Riyadi (Teknik mesin, 2013) dan Tri Yuliyanti (Kimia, 2013) didampingi oleh Dosen Fakultas Psikologi Imam Setyawan S.Psi., M.A membuat sebuah program kegiatan untuk memupuk karakter peduli lingkungan dan pengembangan kreativitas melalui proses pengenalan  sampah yang dimulai sejak dini kepada anak-anak di Tambak Lorok, Semarang.

Kegiatan ini mereka kerjakan sebagai bagian dari Program Kreativitas Mahasiswa di bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-M) yang diberi nama ELSA (Ecolearning Sampah): Edukasi Kreasi Sampah Plastik bagi Anak-anak dalam mewujudkan Indonesia Bebas Sampah 2020, Tambak Lorok, Semarang.

Tambak Lorok merupakan kelurahan yang berlokasi di pesisir Laut Jawa dan dilintasi oleh Kali Banger. Tempat ini terkenal sebagai kampung nelayan semenjak tahun 1950. Menurut Badan Pusat Statistik (2014) volume sampah di kecamatan Semarang Utara mencapai 99,79 ton per hari. Jumlah ini tergolong paling besar dibandingkan wilayah lain di Semarang. Kondisi ini, juga menjadi latar belakang kegiatan TIM ELSA dalam menjalankan pengabdiannya di Tambak Lorok.

Kegiatan yang dilakukan TIM ELSA sejak April 2017 diantaranya pengenalan sampah, edukasi pengelolaan sampah dan penerapan 3R (Reduce, reuse, recycle). Pengenalan sampah dilakukan dengan funlearning melalui video, dongeng interaktif dan games.

Selain itu, diberikan juga buku dan poster sebagai media informasi tambahan untuk mengenalkan sampah lebih dalam lagi. Sedangkan pada penerapan 3R, anak-anak diajak untuk mengurangi pemakaian barang-barang yang menimbulkan sampah, menggunakan kembali barang yang masih dapat digunakan dan mendaur ulang sampah dengan membuat aneka kreasi berbahan dasar sampah plastik seperti, wadah pensil, celengan, mobil-mobilan dan pot bunga. Setiap kegiatan selesai dilakukan, anak- anak juga diajak untuk membersihkan lingkungan sekitar.





Sebagai puncak kegiatan, telah dilaksanakan pemilihan duta elsa, kakak pembimbing elsa dan lomba seputar sampah pada hari Sabtu dan Minggu tanggal 3-4 Mei 2017. Kegiatan ini mendapat apresiasi positif dari masyarakat di Tambak Lorok.

“Adanya kegiatan ELSA ini, tentunya sangat bermanfaat sekali dan menjadikan anak-anak di Tambak Lorok ini menjadi kreatif dalam mengolah sampah, berupa kreasi sampah serta lebih peduli lagi terhadap lingkungan”, ujar mas Udin selaku salah satu warga Tambak Lorok.

Kegiatan peduli terhadap lingkungan ini diharapkan dapat diterapkan oleh masyarakat secara luas untuk menyongsong Indonesia bebas sampah 2020.

DACITA KISS, Solusi Atasi Stres Remaja Akibat Perceraian Orang Tua


DACITA KISS (Dadu Bercerita Konseling Interaktif Sahab Sebaya) merupakan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Universitas Diponegoro (Undip) yang diketuai oleh Haula Fauzianah dan 4 rekan anggotanya, yaitu Dewi Shabrina, Islakhul Amal, Rimbardi Wisnu Aji dan Desy Sumardiyani.

DACITA KISS adalah metode penanggulangan stres pada remaja akibat perceraian orang tua. Keluarga merupakan lingkungan sosial terkecil dalam memberi dasar nilai-nilai kehidupan pada anak. Salah satunya dalam mendidik anak untuk berperilaku menghormati orang tua.



Orang tua diharapkan dapat menyalurkan atau mengajari sikap positif dalam pola pengasuhannya, agar anak bisa membaur dengan lingkungan sekitar dengan baik. Karena sangat pentingnya fungsi orang tua terhadap anak dan banyaknya kasus perceraian yang ada di Semarang, maka muncul inovasi untuk mengembangkan metode konseling terhadap anak korban perceraian ini.

DACITA KISS menggunakan metode konseling dengan sahabat sebaya dan ditambahkan dadu sebagai alat konselingnya. Usia anak yang ditangani dalam metode DACITA KISS ini adalah remaja usia 14-21 tahun.

Melalui Program FILLET, Mahasiswa Undip Ajarkan Budidaya dan Pengolahan Lele


Indonesia sedang mengalami permasalahan dimana tingkat pengangguran lebih tinggi daripada yang memiliki pekerjaan. Di era masa kini sangatlah sulit untuk mencari perkerjaan. Solusi dari permasalahan tersebut yaitu dengan membuka lapangan kerja yang baru atau berwirausaha.

Dalam berwirausaha, alangkah baiknya apabila memanfaatkan kekayaan perikanan yang dimiliki oleh Indonesia. Indonesia memiliki potensi perikanan yang sangat tinggi dan sebagian masyarakatnya kurang menyadari potensi tersebut sehingga akan terbuang sia - sia apabila tidak memanfaatkan potensi perikanan yang ada dengan baik.

FILLET atau biasa disebut dengan Fisheries Learning Education and Traning merupakan program pengabdian dari PKM-M milik Mahasiswa Departemen Terknologi Hasil Perikanan Universitas Diponegoro dimana mengajarkan bagaimana budidaya ikan yang baik serta pengolahan ikan menjadi produk yang bernilai lebih tinggi (added value).

Pondok Pesantren Kyai Galang Sewu menjadi sasaran lokasi utama dilakukannya pengabdian ini dikarenakan pondok tersebut berisikan mahasiswa/i. Mahasiswa/i sendiri memiliki peran dan fungsi tri darma di kehidupan masyrakat. FILLET sendiri bertujuan untuk di masa mendatang mahasiswa/i yang ada di Pondok Pesantren Kyai Galang Sewu dapat membuat lapangan kerja atau berwirausaha produk - produk  hasil perikanan dan juga lebih memanfaatkan hasil perikanan yang ada.


Rangkaian program FILLET terdiri atas pemaparan materi dari beberapa pembicara dan praktek pengolahan produk ikan. Materi yang dipaparkan yaitu mengenai Teknik Budidaya, Kualitas Air, dan Potensi Pengolahan Ikan yang Baik. Pada pengolahan produk ikan sendiri dilakukan praktek pembuatan abon dan nuget dari Ikan Lele. Pembuatan pada abon dan nuget Ikan Lele mirip dengan pembuatan abon dan nuget biasa.

Mahasiswa/i Pondok Pesantren Kyai Galang Sewu tampak antusias dari awal rangkaian hingga akhir.

"Seluruh peserta dari Pondok Pesantren Kyai Galang Sewu memberikan dukungan besar terhadap FILLET sendiri sehingga program ini dapat terlaksana dengan baik dan lancer," ucap Novita, selaku ketua tim PKM.