Ini Tentang Kemanusiaan, Kawan!


400.000 orang tewas sejak perang Syria selama lima tahun silam. Itu bukan angka sedikit untuk korban perang. Bahkan menurut New York Times, lebih dari 100.000 orang adalah anak-anak yang meninggal di perang Suriah.
               
Akhir akhir ini banyak sekali video yang menggambarkan keadaan Aleppo, suatu kota di Suriah. Banyak dari mereka adalah para janda dan anak anak. Masya Allah, Mereka dihujani oleh bom saat sedang bermain ataupun menghafal Qur’an.

Ini adalah fenomena genosida di Abad Millenium. Pembantaian yang terjadi di Suriah sungguh sangat mengherankan. Dimana PBB? Dimana negara-negara Muslim? Dimana pemimpin-pemimpin Negara besar? Mereka hanya diam, menonton pemusnahan manusia terjadi di Suriah.
               
Masyarakat di Aleppo adalah para pengikut Nabi Muhammad, Mereka adalah muslim saudara-saudara kita. Mereka kelaparan, mereka tidak bisa tidur, mereka harus bersiaga jika ada bom yang diluncurkan oleh pesawat pesawat yang mengincar mereka.

Wahai kaum muslimin di Indonesia, penduduk muslim terbesar di dunia, Apakah kalian tidak sedih? Apakah kalian diam saja melihat manusia diperlakukan begitu hina? Ataukan kalian sedang terlena dengan kedamaian yang ada di Indonesia?

Oiya banyak yang berkata “Masih banyak urusan di Negri ini bung untuk diselesaikan, mengapa jauh jauh ke sana?”. Ya itu betul kawan, betul sekali. Banyak sekali masalah di negeri ini yang belum terselesaikan.

Tapi apakah kita perlu menyelesaikan semua masalah itu baru melihat atau menyadari bahwa anak anak, saudara saudara kita dibunuh, diperkosa, disiksa dengan kelaparan sehingga mati perlahan lahan? Belum sampai masalah negeri ini selesai, mereka sudah hilang kawan, mereka sudah dibumihanguskan. Dan ingat, hal tersebut bisa saja terjadi kepada kita suatu saat nanti.

Para masyarakat yang bertahan mereka hanya memegang teguh keimanan mereka, mereka bertahan tak lebih karena melawan kekufuran pemimpin yang terjadi di Suriah. Apakah pemimpin di Suriah dapat disebut pemimpin? Yang telah menewaskan anak-anak dan perempuan dengan bom-bom dari pesawat, sungguh pengecut. Ini bukan lagi soal Agama, bukan lagi soal perang saudara, ini adalah kejahatan kemanusiaan yang sedang terjadi.

Pemimpin negara negara besar diam membisu seolah menutup mata yang terjadi di suriah atau bahkan menonton sambil tertawa. Ya, pasti ada sangkut pautnya dengan politik, dan jika itu dibiarkan bukan hal yang tak mungkin kita juga akan terkena dampak suatu saat nanti. Mungkin kawan bisa mencari pidato Jend. Tertinggi TNI di acara BEM Seluruh Indonesia (BEM SI) bahwa Ancaman Perang bagi Indonesia, nyata adanya.

Mari rapatkan shaff kawan, bantu apa yang kita bisa. Setidaknya kita bisa berdo’a untuk mereka, berdo’alah sesudah shalat kalian, berdo’alah setiap saat kalian ingat tentang mereka. Sungguh mereka membutuhkan bantuan dari kita, sungguh.

Setidaknya dengan keberpihakan kita kepada mereka, mereka tak merasa sendiri sebagai manusia. Mereka adalah manusia sama seperti saya dan kalian. Tak selayaknya mereka mendapatkan kehinaan seperti itu disaat di negara lain hidup dengan damai, dapat dengan mudah makan, berkumpul dengan tawa, berlibur bersama keluarga atau bahkan menghambur-hamburkan uang dengan hal yang menurut saya tak berguna.

Jika kalian ingin lebih sedikit membantu dengan finansial dapat menyumbangkan ke https://kitabisa.com/helpsyria# , tentu kalian bebas menyumbangkan ke lembaga yang menurut kalian lebih kredibel. Saya hanya sedikit membantu memberikan informasi.

Tulisan saya hanya ingin mencurahkan betapa sedihnya hati terhadap kekejaman yang terjadi disana. Sungguh apa yang terjadi disana tak akan bisa digambarkan oleh kata-kata saja. Kawan bisa mencari sendiri di Youtube ataupun headline koran-koran dunia, itu pun juga tak bisa sepenuhnya menggambarkan bagaimana kekejaman terjadi disana.

Saya malu terhadap kaum muslim di Dunia
Saya malu terhadap PBB dengan sloganya mewujudkan perdamaian Dunia
Saya malu terhadap diri saya sendiri yang belum bisa apa apa untuk berkontribusi pada negara atau pun agama.

Saya kutipkan jargon masyarakat yang bertahan disana “Ya Allah Malna Ghairaka Ya Allah”. (Ya Allah kami tidak memiliki siapapun lagi selain engkau Ya Allah). Semoga kalian selalu dikuatkan imannya wahai saudara-saudaraku dan senantiasa kita selalu diberikan hidayah dan rahmat oleh-Nya.

“Pekalah wahai kaum muslimin, jika kau apatis kita mudah dipecah belah”
Dari seorang yang terus belajar.
Maaf jika ada salah salah kata.

-AS-


(Foto: FB/imgrum.net)