Pentingnya Ruang Terbuka Hijau Bagi Suatu Kota


Oleh : Jonathan Hardianto Wibisono, Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Undip 2015

Meningkatnya populasi manusia di dunia secara drastis telah menjadi permasalahan besar bagi kehidupan manusia di bumi. Jumlah penduduk bumi yang kini telah mencapai 7 milyar jiwa menciptakan ketidakseimbangan antara kebutuhan yang harus dipenuhi dengan sumberdaya alam dan lahan yang tersedia, sehingga melahirkan berbagai masalah sosial dan lingkungan. Akhir-akhir ini, telah terjadi penurunan kualitas udara dan air yang tinggi khususnya di daerah perkotaan. Pada awalnya, sebagian besar lahan perkotaan terdiri atas ruang terbuka hijau, namun seiring meningkatnya kebutuhan ruang untuk menampung kebutuhan manusia beserta aktivitasnya maka terjadilah alih guna ruang terbuka hijau secara besar-besaran.

Pengalihgunaan ruang terbuka hijau tersebut adalah akibat dari permintaan akan pemanfaatan lahan kota yang terus tumbuh dan bersifat akseleratif untuk untuk pembangunan berbagai fasilitas perkotaan, termasuk kemajuan teknologi, industri dan transportasi. Selain sering mengubah konfigurasi alami lahan, bentang alam perkotaan juga menyita lahan-lahan tersebut dan berbagai bentukan ruang terbuka lainnya. Kedua hal ini umumnya merugikan keberadaan RTH yang sering dianggap sebagai lahan cadangan dan tidak ekonomis.

Padahal, RTH memiliki fungsi yang mendasar atas kehidupan masyarakat di suatu kota. Adapun fungsi dari penataan Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan adalah:
a) Pengamanan keberadaan kawasan lindung perkotaan;
b) Pengendali pencemaran dan kerusakan tanah, air dan udara;
c) Tempat perlindungan plasma nutfah dan keanekaragaman hayati;
d) Pengendali tata air; dan
e) Sarana estetika kota.

Selain itu, RTH di suatu kota juga memiliki manfaat bagi penataan ruang di suatu kota. Manfaatnya bagi struktur ruang kota antara lain:
a) Sarana mencerminkan identitas daerah;
b) Sarana penelitian, pendidikan dan penyuluhan;
c) Sarana rekreasi aktif dan pasif serta interaksi sosial;
d) Meningkatkan nilai ekonomi lahan perkotaan;
e) Menumbuhkan rasa bangga dan meningkatkan prestise daerah;
f) Sarana aktivitas sosial bagi anak-anak, remaja, dewasa dan manula;
g) Sarana ruang evakuasi untuk keadaan darurat;
h) Memperbaiki iklim mikro; dan
i) Meningkatkan cadangan oksigen di perkotaan.

Fungsi ekologis dan fungsi tambahan (fungsi arsitektural, fungsi sosial, dan fungsi ekonomi) tersebut menjalin keterkaitan dengan aspek-aspek baik fisik maupun non-fisik dari sebuah kota. Fungsi dan manfaat daripada RTH dapat dirasakan secara signifikan manabila dalam suatu kota memiliki luas dan jumlah RTH yang memadahi.

Berdasarkan fungsi dan manfaat tersebut, diharapkan dalam waktu ke depan keberadaan RTH dapat dijadikan suatu prioritas. Selain berperan sebagai paru-paru kota, masih banyak fungsi lain yang menunjang segala aktivitas atau kegiatan bagi warga kota itu sendiri. Dibutuhkan kerjasama pemerintah dan masyarakat untuk melestarikan keberadaan dan keaslian fungsi daripada RTH itu sendiri untuk menciptakan suatu keseimbangan yang optimal dalam pembangunan berkelanjutan suatu kota.

Referensi:
Direktorat Jenderal Penataan Ruang Departemen Pekerjaan Umum. 2008.
Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan. dalam www.penataanruang.com

Undang-Undang No 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang