Era Media Sosial, Line@ Berbayar, Dan Bijak Bersikap


Selamat datang di abad 21. Zaman dimana teknologi berkembang begitu pesat. Hampir setiap sendi kehidupan di dunia tak bisa dipisahkan dengan teknologi. Termasuk dalam berinteraksi, berkomunikasi dan menyampaikan informasi.

Teknologi informasi, tak bisa dipungkiri lagi bahwa saat ini manusia tidak bisa dilepaskan dengan Media Sosial (Medsos) atau Sosial Media (Sosmed). Entah untuk berinteraksi, bisnis, atau sekedar ngeksis.

Dalam bahasan ini, kita akan mengenal 2 era media sosial. Saya membagi dan mengelompokkan era media sosial menjadi 2 macam, yakni era “Media Sosial Modern“ dan “Media Sosial Klasik”.

Di era Media Sosial Modern, sebut saja medsos seperti Facebook, Twitter, Path, Instagram, Whats App (WA), maupun saudara kembar Line dan Line@ yang semuanya sangat mudah dimainkan dengan sentuhan jari tangan di layar sentuh ponsel. Atau, jika menengok jauh ke belakang pada era Media Sosial Klasik ada Friendster, Yahoo! Messenger, MySpace, dan sebagainya yang kebanyakan masih dimainkan di komputer pada saat itu sebelum teknologi layar sentuh mendominasi.

Dunia media sosial penuh dengan dinamika. Ada yang naik dan turun. Tak ada yang bisa menjamin siapa yang selamanya unggul. Friendster yang dulu sempat menjadi primadona anak muda meski hanya sekejab kalah pamor saat hadirnya Facebook yang menjadi awal era Media Sosial Modern dan booming di tahun 2009, tahun dimana SBY-Boediono memenangkan Pemilu kala itu.

Kehadiran Facebook dengan “update status”-nya dan fitur yang membuat orang bisa chating dengan beberapa orang sekaligus membuat medsos ini langsung digandrungi banyak orang dan menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan pengguna Facebook terbanyak di dunia.

Kemunculan Facebook inilah yang menjadi awal dimulainya era Media Sosial Modern. Di tahun 2009 dan seterusnya orang mulai sering update status, upload foto, saling nge-add, nge-like, comment, dan sebagainya.

Setelah Facebook lalu muncul medsos lain seperti Twitter, Path, Instagram, Whats App dan saudara kembar Line dan Line@ dengan berbagai macam fitur dan keunggulan yang dimiliki oleh masing-masing medsos.

LINE@ BERBAYAR (?)

Khusus untuk medsos yang terakhir disebut sebelumnya, yakni saudara kembar Line dan Line@, ada rumor yang cukup meresahkan bagi segenap penggunanya di Indonesia.

Rabu, 13 Juli 2016, tersebar kabar bahwa mulai tahun 2017, aplikasi penyedia layanan pesan singkat dari Jepang dengan ciri khas stickernya yang unyu-unyu ini akan mulai mengenakan tarif bagi penggunanya jika ingin menikmati layanan Line@ secara utuh. Biaya yang dikenakan paling sedikit adalah USD 50/bulan (Jika dirupiahkan dengan kurs per Juli 2016 kurang lebih Rp700ribu/bulan).

Kabar rumor Line@ berbayar dan petisi yang tersebar di media sosial
 

Biaya ini jelas tidak sedikit. Bagi kalangan mahasiswa misalnya, nominal Rp700 ribu sudah setara dengan biaya sewa kost kelas eksklusif tiap bulan, biaya hidup selama sebulan, atau bisa sepadan (bahkan lebih) dengan beasiswa yang didapat mahasiswa tiap bulannya.

Belum sampai disitu, beredar kabar lain bahwa biaya USD 50 akan berlipat seiring dengan bertambahnya jumlah followers. Dan, yang tak kalah meresahkan, jika tidak membayar USD 50, dan menggunakan paket free, pengguna Line@ hanya bisa posting beranda maksimal 4 kali/bulan.

Bagi anda yang memiliki Official Account (OA) pasti tahu dampaknya. Bayangkan saja, posting hanya 4 kali/bulan, berarti hanya 1 kali/pekan. Bagi pengelola medsos lembaga di kampusnya, seperti BEM, HM, UKM dan lain-lain mungkin akan berpikir dan memilah berkali-kali info mana yang akan di post. Alhasil, info di timeline bakal sepi dari postingan OA langganan mereka. Kecuali OA yang punya banyak uang untuk bayar.

Meski dirumorkan baru mulai tahun 2017, nyatanya beberapa OA mengalami kendala keterbatasan posting di beranda sejak 13 Juli 2016. 

Disisi lain, beberapa OA mengaku masih bisa posting beranda dengan normal hingga 30 Desember 2016 menggunakan free trial paket Basic Monthly Plan. Namun perlu memakai kartu kredit. Persoalannya, tidak semua orang punya kartu kredit. Jika demikian, harus pinjam kepada orang atau jasa penyedia pembayaran kartu kredit.

Pengguna OA sempat menilai ini adalah batasan yang memang dilakukan oleh pihak Line. Namun, LINE Indonesia melalui LINE EVENT pada 15 Juli 2016 Pukul 14.00 WIB mengeluarkan broadcast bahwa kendala ini disebabkan karena gangguan teknis pada sistem. Adanya broadcast tersebut sempat menjadi tanda tanya sebagian netizen kenapa perihal gangguan teknis bisa teratasi dengan kartu kredit.

Info dari Line terkait keterbatasan post di beranda Line@

Pengguna Line@ juga tak tinggal diam dan membuat petisi untuk ditandatangani terkait kabar Line@ akan berbayar ini. Berikut link petisinya :


Lantas, jika sudah masuk 2017, dan rumor ini benar, mau dibawa ke mana OA-OA yang selama ini sudah ngeksis? Dari kabar yang beredar, meski belum pasti, banyak OA yang sudah ancang-ancang dengan “hijrah” dan kembali ke medsos yang booming di era awal Media Sosial Modern seperti Facebook, Instagram, atau Twitter sebagai media sosial utamanya. Namun masih tetap mempertahankan akun OA-nya. Apalagi yang sudah punya banyak followers. Bahasa Jawa-nya “eman-eman” (sayang banget). Siapa tahu ke depan ada gunanya.

Beredarnya kabar Line@ akan berbayar ini memang menjadi keresahan bagi mereka yang memiliki OA. Tak bisa dipungkiri, Line@ memang sudah menjadi media popular anak muda di Indonesia untuk berbagai keperluan. Mulai dari bisnis, media informasi, maupun wadah menyalurkan kreativitas dan gagasan.

Hal itu dibuktikan dengan masuknya Indonesia sebagai salah satu dari empat pasar utama Line selain Jepang, Thailand dan Taiwan. Bahkan, Yasuo Sakuma, Portfolio Manager dari perusahaan investasi Bayview Asset Management mengatakan, dari 4 negara tersebut, hanya Indonesia yang punya ruang besar bagi pertumbuhan Line (Detik.com). Bisa dilihat, lagi-lagi Indonesia menjadi pasar utama bagi investor dunia.

BIJAK BERSIKAP

Jika Line@ memang berbayar, orang merasa tak sanggup membayar, bagaimana menyikapinya? Tindakan awal yang bisa dilakukan adalah melakukan apa saja untuk menyampaikan dampak yang dirasakan kepada pengambil kebijakan (dalam hal ini kepada pihak Line).

Hingga tulisan ini dibuat, langkah tersebut sudah dan sedang dilakukan dengan membuat petisi tadi. Meski tak menjamin, tapi cara inilah yang baru bisa dilakukan dengan mengumpulkan suara dukungan agar pihak Line tetap bersahabat dengan penggunanya, khususnya di Indonesia.

Apabila kita masuk ke ranah bisnis, setidaknya pengguna di Indonesia punya modal untuk merayu pihak Line. Disebutkan sebelumnya, Indonesia merupakan pasar utama Line. JIKA MAU, pengguna diseluruh Indonesia bisa saja “mengultimantum” Line dengan bersepakat tidak akan menggunakannya lagi. Sekiranya hal itu tak masalah bagi perekonomian Indonesia karena Line produk luar negeri (Jepang-red). Sekali lagi, JIKA MAU dan pengguna Line di Indonesia tidak keberatan.

Lantas, jika kemungkinan “terburuk” terjadi, Line@ benar-benar berbayar mulai 2017, pilihan free trial paket Basic Monthly Plan habis masanya, bagaimana selanjutnya?

Itu pertanyaan yang sekilas juga ada di benak saya. Karena saya juga mengelola suatu OA. Jadi sedikit banyak merasakan dampaknya. Meski begitu, saya tetap santai, terlebih sekedar media sosial, serta berusaha menyikapinya secara open mind dengan konsep belajar memaknai dan memahami suatu kejadian dari berbagai sudut pandang kehidupan.

Kita sebagai manusia yang dikaruniai akal pikiran, setidaknya bisa sedikit meluangkan waktu untuk berpikir, merenung sejenak, untuk menyikapi segala persoalan semacam ini dengan bijak.

Mari kita sikapi hal ini dengan sedikit menggunakan ilmu pengetahuan dan akal pikiran.

Dalam ilmu Fisika, kita mengenal adanya aksi dan reaksi. Disisi kehidupan lain, ada sebab dan akibat. Aksi-reaksi dan sebab-akibat adalah contoh dari 2 hal yang saling terkait. Suatu aksi akan menimbulkan reaksi, suatu sebab akan menimbulkan akibat. Itu artinya, apa yang ada di dunia ini sudah dirancang untuk diciptakan secara berpasang-pasangan. Lalu, apa tugas manusia terhadap skenario ini?

Jawabannya cukup mudah, salah satunya adalah untuk mengambil hikmah (pelajaran). Dengan cara apa? Berpikir, merenung, dan sebagainya sebagaimana yang sudah disebutkan tadi. Karena untuk tujuan itulah, manusia diberi akal supaya berpikir. Siapa lagi mahluk di dunia ini yang diberi akal selain manusia? Tidak ada. Itu artinya, manusia hendaknya menggunakan akal pikirannya dalam menyikapi hal-hal dunia.

Lantas timbul pertanyaan, “Apa hubungan Line@ berbayar dengan konteks berpasang-pasangan dan manusia berakal?”

Berpasang-pasangan dalam hal ini jika kita mau memahami bisa dimaknai sebagai hikmah dalam konteks sebab-akibat. Line@ berbayar sebagai sebab, intensitas penggunaan OA berkurang sebagai akibat.

Muncul pertanyaan lagi, “Lalu apa hikmahnya?"

Kadang, untuk mendapatkan hikmah atau pelajaran, kita harus berpikir terbuka dan memperhatikan sisi kehidupan yang lain. Jika sudah seperti itu, mau memahami, dan berpikir secara bijak, hikmah yang bisa dipetik dalam hal ini tentu ada. Salah satu contohnya, dengan berkurangnya intensitas penggunaan OA (atau secara general media sosial), seseorang bisa menggunakan waktu luangnya untuk lebih perhatian kepada lingkungan yang ada didekatnya.

Anda yang selalu mengikuti trend media sosial, setidaknya pernah mengetahui humoran seperti ini, “Media sosial itu mendekatkan yang jauh, dan menjauhkan yang dekat.” Bagi yang hobi main medsos setiap hari hendaknya paham maksudnya.

Coba simpulkan sendiri, bagaimana jika seseorang hanya sibuk dengan gadget-nya, sibuk memandangi ponsel, menari-narikan jari tangannya diatas layar sentuh, sedangkan disaat yang bersamaan, ia sedang berada disebuah pertemuan, entah itu makan bareng, diskusi, rapat, dan sebagainya.

Orang yang jaraknya sangat jauh berkilo-kilo meter darinya, seolah begitu dekat karena bisa dengan mudah berinteraksi lewat gadget. Namun, disaat yang bersamaan, teman kumpulnya yang hanya berjarak 5cm (maaf, bukan judul film) darinya, seolah menjadi jauh karena tak diperhatikan maupun diajak ngobrol.

Ini baru teman. Gimana jadinya kalau suami-istri? Bisa repot bin gawat rumah tangganya nanti. Jadi, jangan buat pendamping hidupmu cemburu gara-gara terlalu sibuk sama gadget.

Setidaknya, begitulah analogi yang bisa saya gambarkan tentang humoran tadi.

Ada lagi cerita, ini nyata, salah satu negara di Eropa, kalau tidak salah Jerman, harus membuat fasilitas publik berupa lampu lalu lintas yang ditanam di jalan gara-gara ada warganya yang meninggal tertabrak lantaran berjalan sambil menunduk memainkan gadget saat menyeberang.

Aspek lain, bagi OA kampus atau yang digunakan untuk berbisnis misalkan, masih ada medsos era Media Sosial Modern lainnya seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan sebagainya untuk menginfokan dan melakukan pemasaran. Bisa jadi, medsos-medsos yang sebelumnya sempat ditinggalkan penggunanya itu, akan kembali naik daun lantaran banyak yang “hijrah” dari Line@ dan menggunakan Facebook dkk kembali sebagai medsos utamanya karena tak ada pungutan biaya.

Mungkin, yang paling dibuat cemas dari rumor regulasi Line@ berbayar ini adalah OA bisnis, atau yang baru punya OA saja, sedangkan Facebook, Twitter, Instagram, belum ada.

Soal penghasilan, yakin saja rezeki akan terus mengalir bagi mereka yang selalu berusaha. Yang penting jangan diam di tempat meratapi nasib. Jika belum buat akun medsos selain OA Line@, coba segera buat. Promosikan akun medsos baru dengan broadcast link-nya melalui OA ketika jam-jam rehat. Masih kurang? Minta tolong lah kepada teman dekat dan relasi/jaringan yang dimiliki untuk membantu mempromosikan.

Kita yang hidup di kampus dan punya segudang pengalaman berorganisasi, pasti punya banyak relasi. Itu modal berharga. Modal itu gak cuma uang. Modal itu gak cuma materi. Pertemanan, kenalan, relasi, jaringan, konektivitas, wawasan, softskill dan keunggulan pribadi kita, itu semua bisa dijadikan modal.

Orang yang kreatif, ia tak akan tinggal diam begitu saja jika ada yang menghalangi langkahnya. Ia akan terus berusaha mencari jalan lain untuk bisa mencapai sesuatu yang ia inginkan.

PENUTUP

Sebagai konsumen, segala yang diterima tergantung dari produsen. Begitulah analogi dalam dunia bisnis yang dihadapi pengguna OA dari kabar rumor akan adanya Line@ berbayar ini. Pengguna OA di Indonesia ibarat konsumen, Line di Jepang ibarat produsen.

Petisi yang sudah dibuat memang bukan jaminan. Namun langkah itulah yang bisa dilakukan. Jika niatnya baik, semoga diberi hasil yang baik pula.

Apabila niatnya untuk tetap memberi manfaat dalam kebaikan, semoga menjadi nilai yang dipertimbangkan.

Sebagai penutup, apapun yang terjadi nanti, izinkan saya menuliskan pesan ini :

“Media sosial adalah dunia maya. Manusia hidup di dunia nyata. Alangkah bijaknya jika manusia “hidup” di dunia maya dengan sewajarnya, agar tidak melupakan kehidupan yang sebenarnya di dunia nyata.”

Sekian. Jika ada tulisan yang kurang berkenan mohon dimaafkan. Semoga bermanfaat. Salam…


Aji Kurniawan AP
Jurusan Ilmu Kelautan
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan
Universitas Diponegoro Semarang

[Foto Ilustrasi : thenextweb.com]


KAMPUSUNDIP.COM
- Ringan Mencerdaskan -
LINE : https://line.me/ti/p/%40mfz4715g