Pasca Demo UKT-SPI, Ini Jawaban Rektor Undip Dari Perancis


SEMARANG (Kampusundip.com) – Tak bisa ditemui peserta aksi Aliansi Mahasiswa Undip lantaran sedang berada di luar negeri, tepatnya di Perancis, Rektor Undip Prof. Yos Johan Utama memberikan jawabannya melalui pesan WhatsApp (WA).

Sebagaimana yang dikutip TRIBUNJATENG.COM, Sumbangan Pengembangan Institusi (SPI) tetap dibutuhkan universitas untuk peningkatan operasional, kualitas sarana dan prasarana, laboratorium, serta biaya penelitian dan kegiatan kemahasiswaan. Rektor menjelaskan di era demokrasi mahasiswa berhak menyampaikan aspirasi.

"Kebijakan SPI didasarkan ketentuan peraturan Menristekdikti 2015 dan hanya diberlakukan untuk jalur Ujian Mandiri (UM) yang diterima tahun 2016. Undip tetap melayani mahasiswa golongan tidak mampu melalui jalur bidik misi dan UKT golongan 1 dan 2 yang jumlahnya lebih dari 30 persen melalui jalur SNMPTN dan SBMPTN," tulis Rektor kepada Tribun Jateng.

Menurutnya, SPI diberlakukan di Ujian Mandiri (UM) karena jalur tersebut memang bukan jalur bersubsidi, sehingga wajib untuk membiayai sendiri sekaligus mensubsidi UKT golongan 1 hingga 7.

"Kebutuhan Subsidi Undip sendiri mencapai 400 Milyar, tetapi hanya dibantu 80 Milyar via Bantuan Operasional Perguruan Tinggi Negeri (BOPTN) jadi masih ada kekurangan 320 Milyar," tambah Rektor.


Rektor menambahkan, pada dasarnya ia sangat menghargai pendapat dan aspirasi mahasiswa. Namun ia juga memohon untuk menghitung kebutuhan Undip untuk menjadi Universitas yang maju dan berkelas dunia.

Seperti yang sudah diberitakan, dalam aksi yang digelar Selasa (5/4) di Widya Puraya, Aliansi Mahasiswa Undip memiliki 3 tuntutan, yakni menolak kenaikan UKT, menolak pengadaan SPI, dan transparansi dana dari rektorat. (KUC/Diolah dari TRIBUNJATENG.COM)

- Ringan Mencerdaskan -