Uji Kandungan Boraks Pada Seblak PIRC FKM Undip

Uji Kandungan Boraks Pada Seblak PIRC FKM Undip

SEMARANG (Kampusundip.com) - Unit Pelaksana Kegiatan (UPK) PIRC Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Diponegoro (Undip) melaksanakan salah satu program kerjanya yaitu Riset Almamater Satu (14/3). Pada riset almamater satu PIRC FKM Undip menjadikan seblak sebagai objek penelitian dengan topik kandungan boraks pada seblak. Uji Laboratorium ini dilaksanakan oleh divisi riset PIRC dan anggota PIRC lainnya. Penelitian yang diadakan di Laboratorium Gizi FKM ini diikuti oleh 25 anggota PIRC yang didelegasikan dari setiap divisi. Penelitian di laboratorium merupakan suatu hal yang baru bagi PIRC FKM Undip, mengingat pada tahun sebelumnya PIRC FKM Undip melakukan penelitian mengenai isu-isu kesehatan di kalangan mahasiswa hanya dengan metode kuisioner.

Penelitian yang meneliti kandungan borak pada seblak ini tentu menjadi daya tarik mahasiswa FKM. Pasalnya seblak adalah makanan yang tidak asing lagi bagi mahasiswa. Makanan seblak ini banyak kita jumpai di Tembalang. Penelitian ini dilakukan mengingat banyak bahan makanan yang beredar sekarang mengandung beberapa zat yang tidak boleh dikosumsi, apalagi bila dikonsumsi dalam jangka panjang ayang akan mengganggu kesehatan manusia.

Penelitian kandungan boraks pada seblak ini dilaksanakan dalam 2 termin. Termin pertama berlangsung dari jam 7.00 s/d selesai. Dan dilanjut termin yang kedua yang dimulai pukul 14.00 s/d selesai. Sampel penelitian diambil dari 5 pedagang seblak yang berbeda yang berada di wilayah Tembalang. Penelitian boraks ini merupakan penelitian kualitatif karena tidak mengukur berapa banyak kandungan boraks didalamnya melainkan hanya untuk mengetahui ada atau tidaknya boraks dalam seblak tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Uji Nyala.








Penelitian dengan metode nyala api dimulai dari menghaluskan seblak, dilanjutkan dengan menimbang seblak seberat 5 gram dan kemudian memasukkannya ke dalam oven selama kurang lebih 2 jam. Dilanjutkan dengan memasukannya ke dalam tanur yaitu pengabuan seblak yang telah di oven. Kemudian, setelah dari tanur di masukkan ke pendingin aggar kadar airnya tetap. Setelah itu, meneteskan H2SO4 dan metanol dengan perbandingan 2:1. Dan di bakar dengan korek api. Apabila warna apinya hijau menunjukka ada kandungan boraks di dalam seblak, namun sebaiknya jika warna apinya selain hijau berarti tidak ada kandungan boraks di dalamnya.

Dari penelitian yang dilakukan diketahui bahwa dari 5 sampel yang diambil nyala api tidak berwarna hijau, ini berarti bahwa di dalam seblak tersebut tidak mengandung boraks sehingga aman untuk dikonsumsi oleh mahasiswa. (KUC/Foto : Aprisaf)

- Ringan Mencerdaskan -