Efektivitas Belajar Bersama


Sebagai seorang mahasiswa, sudah sewajarnya jika hari-hari kita selalu diisi dengan kegiatan yang berhubungan dengan tugas kuliah dari dosen. Mengenai hal ini, ada banyak tugas kuliah yang diterima, baik berupa tugas perorangan maupun tugas yang harus dikerjakan secara kelompok, dan tugas kelompok inilah yang jumlahnya lebih banyak.

Selain itu, dalam proses pembelajaran di ruang kuliah dosen tidak selalu menjelaskan materi dengan detail seperti guru SMA—atau bahkan guru Bimbel, dan hal tersebut menuntut mahasiswa untuk dapat memahami materi pelajaran secara mandiri. Mencari referensi sendiri, membaca sendiri, dan memahami sendiri. Padahal hal tersebut bukanlah perkara yang mudah, baik bagi mahasiswa baru yang memang butuh penyesuaian maupun bagi mahasiswa lama yang sudah berpengalaman. Untuk mengatasi kesulitan tersebut, dicapailah solusi melalui belajar bersama. Dengan demikian, ada dua hal yang dapat dicapai kaitannya dengan proses akademis melalui belajar bersama: mengerjakan tugas dan memahami materi.

Namun demikian, kenyataan yang terjadi tidak sesederhana itu. Belajar bersama tidak selalu memberi solusi, dan bahkan dapat menambah masalah. Itu terjadi jika di dalam forum tersebut mahasiswa lebih banyak ngobrol dan bercanda daripada belajar dan berdiskusi, sehingga kegiatan belajar bersama menjadi  hal yang sia-sia dan tidak ada faedahnya. “Kadang saya lebih memilih belajar sendiri daripada belajar bersama, apalagi jika belajar bersama itu hanya diisi dengan ngobrol dan bercanda.” Ujar Muhammad Mirza, mahasiswa jurusan Fisika Universitas Diponegoro.

Padahal, belajar bersama bukan hanya ajang kumpul dan bercanda bersama teman, tapi juga menjadi sarana efektif untuk meningkatkan pemahaman materi dan pengembangan kepribadian. Maka dari itu, dibutuhkan proses belajar bersama yang benar agar manfaat baik tersebut dapat dicapai. Belajar bersama dapat memberi manfaat berganda melalui melalui mekanisme multiplier effect jika dalam belajar itu terjadi proses give and take, saling memberi dan menerima penjelasan dari teman yang sudah paham. Sehingga yang sudah paham akan semakin paham dan yang belum akan menjadi paham.
Untuk mencapai kebaikan dari belajar bersama tersebut, setidaknya ada empat hal yang harus dipenuhi:

Pertama, niatkan hati untuk belajar bersama. Niat ini sangat penting, karena tanpa niat yang jelas kegiatan belajar bersama kemungkinan besar akan berakhir sebagai ajang ngobrol dan bercanda. Tentu saja bercanda di sela-sela waktu belajar memang dibutuhkan—asal tidak kelewat batas, terutama ketika rasa suntuk mulai datang. Namun, bercanda ini tidak perlu diniatkan dari awal, toh pada dasarnya ngobrol dan bercanda akan muncul secara alami ketika suasana belajar bersama mulai membosankan, dan itu memang dibenarkan selama tidak melewati batas. 

Kedua, tetapkan dengan jelas materi apa yang akan dibahas. Ini berguna agar waktu yang digunakan untuk belajar bersama menjadi efisien dan proses belajar menjadi tepat.

Ketiga, sebelum belajar bersama masing-masing mahasiswa harus sudah mempelajari materi yang akan dibahas. Ini harus dilakukan supaya terjadi diskusi aktif selama proses belajar bersama. Jika belajar bersama dilakukan sementara semua anggota belum mempelajari materi yang akan dibahas, maka yang terjadi adalah semuanya kebingungan dan solusi tidak dapat ditemukan.

Keempat, ingat tujuan awal. Ketika forum belajar bersama ini mulai melenceng arahnya, lebih banyak bercanda daripada belajar, ingat tujuan awal kalian ketika membentuk forum itu: belajar bersama, bukan bercanda bersama.

Semoga dengan empat hal tersebut forum belajar bersama menjadi solusi yang efektif dan bermanfaat bagi semuanya. Selamat belajar bersama! (KUC)

(Sumber gambar : motivasidiri99.blogspot.com)

Fajrul Falah
Jurusan Fisika 2015
Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro