11 Warna Bendera

Representasi dari 11 fakultas di Undip

Patung Diponegoro (Pangeran Diponegoro)

Icon-nya Kampus Universitas Diponegoro

Tugu Bundaran Kampus Undip Tembalang

Pintu gerbang utama masuk kampus Undip Tembalang

Ruang Terbuka Hijau Kampus Undip

Menuju Kampus Undip yang Asri dan Sejuk untuk Aktivitas Mahasiswa dan Masyarakat Sekitar

Gedung Prof. Soedarto S.H

Pusat Kegiatan Seminar, Workshop, Seni, Verifikasi-Registrasi, dll

Gedung ICT Centre dan Laboratorium Terpadu

Pusat Informasi Dalam dan Luar Negeri, IT, dan Laboratorium Penelitian

Masjid Kampus (Maskam) Undip

Pusat Kegiatan Islam Mahasiswa (Kajian, Wisata Ruhani, Wisata Ilmu, Mentoring, TPQ, Muslimah Training, dll)

Rusunawa Undip

Fasilitas Tempat Tinggal yang disediakan Pihak Kampus Bagi Mahasiswa

SPBU Undip Tembalang

Stasiun Pengisian Bahan Bakar yang Terintegrasi di Dalam Area Kampus. Satu-satunya di Jawa Tengah

Rumah Sakit Nasional Diponegoro (RSND)

Rumah Sakit Universitas Milik Undip Berstandar Nasional. Satu-satunya di Jawa Tengah

'Futsal Indoor Stadium' Undip

Stadion Futsal Kampus Undip Berkelas Internasional. Satu-satunya di Jawa Tengah

Bendungan Waduk Undip

Mega Proyek Pembangunan Waduk Kampus Undip. Satu-satunya di Jawa Tengah

Waduk Undip (Waduk Pendidikan Diponegoro)

Area Konservasi, Wisata Pendidikan dan Penelitian Mahasiswa, Pembangkit Listrik, dll. Satu-satunya di Jawa Tengah

Stadion Sepakbola Undip

Pusat Kegiatan Olahraga Sepakbola di Kompleks Gelora Undip Tembalang, Semarang

Upacara PMB di Stadion Undip

Lebih Dari 50 Ribu Mahasiswa Menimba Ilmu di Kampus Undip

Upacara Penerimaan Mahasiswa Baru di Stadion Sepakbola Undip

Menerima rata-rata 10 Ribu Mahasiswa Baru Tiap Tahun

Widya Puraya

Salah Satu jantung Kampus Undip Tembalang (UPT Perpustakaan, LP2MP, Posko KKN, Lapangan Upacara, dll)

Mahasiswa Undip Kenalkan Teknik Ecoprint Pembuatan Motif Batik Kontemporer


PEMALANG Mahasiswa KKN Tematik Tim II Universitas Diponegoro (Undip) Desa Cibelok berhasil gemerlapkan acara “Gebyar Batik Cibelok”, Kamis (22/08/2019).

Acara ini merupakan ajang untuk mengenalkan dan edukasi kepada masyarakat Desa Cibelok khususnya pengrajin batik dan ibu-ibu PKK perihal program-program yang diusung oleh mahasiswa KKN tematik Undip dalam menyelesaikan permasalahan Desa Cibelok Khusus kerajinan batik. Salah satu program yang menjadi daya tarik yang luar biasa dari pengrajin batik dan ibu - ibu PKK yang hadir adalah “Pembuatan Motif Batik Kontemporer Teknik Ecoprint”.

Program ini diusung oleh Sri Rezki Sakinah bersama temannya, Dyah Ayu Larasati dalam bentuk pembuatan Selendang Batik dan Outer Batik teknik ecoprint. Acara yang dimulai pada Pukul 12.30 - 16.30 WIB di aula balai desa Desa Cibelok ini terbagi atas dua sesi yakni penyampaian (Presentasi) program dan Praktik langsung terhadap program yang disampaikan.

Teknik ecoprint dalam membatik masih terdengar asing bagi pengrajin batik dan ibu - ibu PKK yang hadir, terbukti ketika Rezki dan Laras melontarkan pertanyaan tentang ecoprint peserta undangan menjawab tidak mengetahuinya.

Teknik ecoprint merupakan metode yang memanfaatkan dedaunan atau bunga sebagai bahan dasar pengganti bahan kimia yang biasa digunakan dalam proses pembuatan batik. Dengan teknik yang terbilang cukup unik, yakni mereplika tumbuhan ke dalam kain, ecoprint dapat menghasilkan karya batik yang memiliki nilai seni tersendiri, mampu menghasilkan ciptaan - ciptaan baru yang kreatif dan inovatif dalam rangka pemenuhan kebutuhan konsumen dan pasar.






Adapun alat dan bahan yang digunakan sangat sederhana dan prosedur pembuatannya juga tidak terlalu sulit. Penjelasan yang bersamaan dengan pemberian modul pembuatan motif batik kontemporer teknik ecoprint telah cukup sebagai bekal untuk ibu - ibu yang hadir untuk mempraktikannya sendiri disamping dengan pemberian praktik langsung juga sangat berperan penting.

Setelah sesi presentasi selesai, dilanjutkan dengan sesi praktik langsung teknik ecoprint. Dikarenakan terkenal sebagai teknik baru dalam membatik antusias ibu - ibu yang menghampiri stand ecoprint sangat luar biasa. Disamping memberikan pengarahan terhadap pengerjaanya, juga memperlihatkan produk yang telah berhasil dibuat melalui teknik ecoprint ini.
                       
Harapan kedepannya, semoga program KKN Tematik Tim II Batik Desa Cibelok ini dapat dijadikan masyarakat sebagai tumpuan untuk menghasilkan ciptaan - ciptaan baru yang kreatif dan inovatif dalam kerajinan batik sehingga mampu meningkatkan lapangan pekerjaan yang mendatangkan kesejahteraan masyarakat dan menciptakan masyarakat yang mandiri.


Oleh : Mahasiswa KKN Tematik Tim II Undip Ds. Cibelok, Kec. Taman, Kab. Pemalang

Bahas Pro-Kontra Legalisasi Ganja, UKM Peduli Napza Undip Gelar Diskusi


SEMARANG - UKM Peduli Napza Universitas Diponegoro (Undip) menyelenggarakan acara “NGOPI AROMA GANJA (Ngobrol Pintar Argumen Mahasiswa Akibat Gundah Gulana Legalisasi Ganja)” dengan tema Pesona Mariyuana Pengusik Kedamaian Negara (31/8/2019). Acara diskusi ini membahas mengenai pro kontra legalisasi ganja di Indonesia. Yang perlahan mulai memudar akan tetapi masih menjadi topik hangat di masyarakat.

Acara dimulai pukul 08.45 di Ruang Teater Perencanaan Wilayah Kota Universitas Diponegoro (Undip) dengan menghadirkan empat narasumber yang expert pada bidang kenarkobaan, hukum, kesehatan serta Lingkar Ganja Nusantara. Narasumber tersebut adalah Susanto,S.H., MM. (Kepala Bidang Pemberantasan dan Pemberdayaan Masyarakat BNNP Jawa Tengah), Leony Sondang Suryani, S.H. (Juara Lomba Debat Konstitusi Nasional tahun 2018), Saebani,S. KM., M. Kes (Dosen Toksikologi Forensik Universitas Diponegoro), dan Yohan Misero, S.H. (Lingkar Ganja Nusantara).

Diskusi ini dipandu oleh moderator Muhammad Khairunaim dengan dihadiri 80-an peserta yang berasal dari berbagai kalangan, baik dari mahasiswa masyarakat umum serta oraginasi-organisasi sosial di daerah Semarang. Bukan hanya itu karena acara ini merupakan satu-satunya acara yang berani mengangkat isu mengenai pro kontra legalisasi ganja, acara ini juga dihadiri mahasiswa dari luar kota yang benar-benar ingin menyaksikan dan berdiskusi dengan ahli pada bidangnya.

Pada sesi pertama ini setiap pembicara memaparkan pandangan mereka mengenai tema yang diangkat dalam acara berdasarkan bidang masing-masing. Moderator memantik jalannya sesi pertama ini dengan meminta penjelasan pada bidang kesehatan. Kemudian moderator melempar pertanyaan mengenai pandangan terhadap isu yang diambil pada acara kepada LGN.

“Charlotte Fiqi seorang anak yang menderita sindrom yang penyembuhannya menggunakan tanaman ganja yang diproduksi menjadi obat bernama charlotte swap. Dalam pelarangan tanaman ganja dalam peredarannya, maka orang akan tetap melakukan penyalagunaan dengan menggunakan ganja sintetis yang jauh lebih berbahaya. Penggunaan ganja di sini dilihat dalam medis yang diIndonesia sendiri tidak diperbolehkan, sedangkan dalam masyarakat ada penyakit yang memang disembuhkan dengan penggunaan tanaman ganja. Thailand serta Korea Selatan sudah melegalkan tanaman ganja namun dengan administrasi dimana masyarakat menggunakan tanaman ganja lewat pemerintah yang mengatur.Negara bagian AS yang menggunakan ganja lebih sedikit dalam overdosis dalam penggunaan opioid dibandingkan negara yang melarang penggunaan ganja dikarenakan penggunaan ganja dan opioid bersamaan membuat kecenderungan overdosis opioid berkurang. Ganja medis sudah ada dipatenkan oleh suatu perusahaan farmasi yang digunakan untuk pasien epilepsi yang mungkin di Indonesia dapat dilaksanakan dalam tahun yang akan datang,” ujar Yohan Misero, S.H. LGN Pusat.


BNN sebagai pencegah penyalahgunaan narkoba juga memberikan pandangannya mengenai tema yang diangkat dalam acara ini.

”Legalisasi ganja, dalam UU nomor 35 tahun 2009 dimana terjaminnya persediaan narkotika untuk medis dan melakukan pemberantasan terhadap penyalahgunaan zat narkotika. Legalisasi ganja dalam UU dimana memasukkan ganja dalam zat narkotika gol 1 yang termasuk kecanduaan golongan tinggi dimana siapapun yang melakukan penyalahgunaan akan di atur sesuai dengan UU pasal 127 dan rehab pasal 54 dan menentukan bentuk rehab dalam pasal 103. Ganja di Indonesia penggunaannya terbesar dari negara lain yang penggunaannya tentu dilarang di Indonesia sesuai hukum yang ada namun jika hal itu dilihat dalam tepat guna dalam kesehatan dan hal itu harus bisa dibuktikan dengan penelitian dan akibat dari penggunaan ganja dalam kesehatan efek yang terjadi dapat di atasi namun hal itu di Indonesia masih terlalu jauh sebelum pelegalan tersebut dapat dilakukan,” ujar Susanto, S.H., M.M. Kepala Bidang Pemberantasan dan Pemberdayaan Masyarakat BNNP Jawa Tengah.

Di sesi pertama ini diakhiri dengan pandangan hukum mengenai isu yang diangkat dalam tema acara ini. Di sesi kedua merupakan sesi diskusi, acara ini memiliki konsep diskusi dua arah dimana peserta juga dilibatkan untuk memberikan argumennya dalam acara ini. Karena kembali lagi acara ini berguna untuk menambah wawasan akademik bagi mahasiswa, dengan berdiskusi pada pakar masing-masing bidangnya.

Jalannya sesi kedua ini santai namun kritis pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan peserta sangat kritis dan menggali apa yang terjadi terhadap Tema ”Pesona Mariyuana Pengusik Kedamaian Negara”. Dengan pembicara yang expert peserta puas terhadap jawaban dari masing-masing pembicara.

Di sesi ketiga acara merupakan sesi tanya jawab, bagi peserta yang ingin menggali lebih dalam terhadap tema yang diangkat dalam acara ini menanyakan langsung dengan pembicara. Acara ditutup dengan Closing statement dari masing-masing pembiacara. Dalam intinya pro kontra legasasi ganja masih harus digodok untuk menghasilkan titik temu yang pasti.

Pembicara yang hadir sangat mengapresiasi acara ini karena merupakan acara pelopor diadakan dimana mempertemukan expert pada bidang hukum, kenarkobaan, kesehatan dan LGN yang membahas isu pro kontra legalisasi ganja.Serta acara ini merupakan acara yang diminati dikarenakan antusiasme pendaftar sangat tinggi bahkan sampai luar kota Semarang.

Ngopi Aroma Ganja?  Bukan Ngopi Biasa.
NOTULEN DAN MATERI DALAM ACARA INI DAPAT DIUNDUH DI

Kreatif, Mahasiswa Undip Ubah Daun Tebu Jadi Deterjen


PEKALONGAN - Inovasi dan ide kreatif pasti akan menghasilkan suatu hal yang tak terduga. Salah satunya adalah daun tebu bisa ‘disulap’ menjadi produk yang berguna bagi masyarakat.

Mahasiswa KKN Undip bisa membuktikan bahwa hal tersebut bisa terjadi. Daun tebu diolah kembali menjadi deterjen cuci.

Hal ini dikenalkan dalam kegiatan pendampingan ibu-ibu PKK yang diadakan di Balai Desa Karangdadap. Kegiatan yang diadakan pada tanggal 9 Agustus 2019 dihadiri oleh ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga)  Desa Karangdadap.

Deterjen yang dinamakan Delia ini dimanfaatkan untuk mencuci pakaian. Iin Ainun selaku pemateri dalam kegiata ini mengatakan, produk ini tercipta dari realita mengenai banyaknya lahan warga yang digunakan untuk menanam tebu dan setelah masa panen daun tebu yang dibakar dan oleh warga.

“Selama ini sampah daun tebu hanya dimanfaatkan sebagai pakan ternak, selain itu biasanya dibakar,” kata Iin.

Batang tebu yang diambil airnya untuk pembuatan gula ataupun minuman menghasilkan sisa daun tebu yang dibiarkan menjadi limbah. Daun tebu direbus kemudian diolah dengan mencampurkan soda abu, asam sitrat, remahan sabun batang, dan essential oil.


Antuasiasme sangat terasa dalam kegiatan tersebut, hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya ibu-ibu PKK yang datang dan berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.

Farida selaku peserta mengatakan bahwa terobosan yang dikenalkan oleh mahasiswa Undip ini sangatlah bagus karena mengenalkan alternatif bagi warga desa.

“Programnya sangat bagus, memberi tau ke orang desa kalau daun tebu itu bisa dibuat jadi deterjen,” ucap Farida.

Penulis : Lusia Kusumaratih P
Kontak : lusia.ratih (line)/lusiakusumaratih@gmail.com (gmail)

Pemanfaatan Genteng Bergelombang Sebagai Biofilter Air Kolam pada Budidaya Ikan


SEMARANG - Sebagian masyarakat Desa Dadapayam memiliki mata pencaharian sebagai pembudidaya dan pembibitan ikan lele.

Akan tetapi saat musim kemarau desa mengalami kekeringan sehingga para pembudidaya ikan lele jarang melakukan pergantian air dan mengakibatkan penurunan kualitas air.

Mahasiswa KKN Undip mengadakan program edukasi Pemanfaatan Genteng Bergelombang sebagai Biofilter Air Kolam pada Budidaya Ikan (6/9/2019).

Program ini dilakukan oleh salah satu mahasiswa KKN Undip, Alif Maulida Laili Amna, mahasiswa Oseanografi. Sasaran program ini adalah kelompok tani dan ternak Desa Dadapayam yang juga melakukan kegiatan budidaya ikan lele.


Kegiatan diawali dengan pembagian modul yang berisi materi dan cara pembuatan biofilter kemudian dilanjutkan dengan penyampaian materi mengenai cara pembuatan biofilter dan manfaatan penggunan biofilter baik untuk kegiatan budidaya dan partikel yang terperangkap dapat digunakan sebagai pupuk.

Para anggota KTT selama menyampaian materi terlihat antusias dan melakukan tanya jawab.

Harapannya dengan program tentang salah inovasi dalam penyaringan air dengan sistem biofilter sederhana yang dapat mengefisiensi penggunaan air untuk budidaya ikan serta menjaga kualitas air kolam budidaya.

Menengok Kegiatan Tim KKN Undip Desa Kedungpatangewu Pekalongan


Rumah Pangan Lestari, Sarana Penghijauan untuk Warga Desa Kedungpatangewu

PEKALONGAN - Mahasiswa Undip melakukan pelatihan terhadap masyarakat Desa Kedungpatangewu yang ditujukan pada Ibu-Ibu PKK. Pemaparan program pelatihan tersebut dilakukan oleh salah satu mahasiswa KKN Undip yaitu Cindy Deviana Hariadi, mahasiswa dari Program Studi Agroekoteknologi, Fakultas Peternakan dan Pertanian.

Pelatihan ini dilakukan bertempatan di rumah salah satu pengurus dari PKK Desa Kedungpatangewu yang dilaksanakan dari pukul 17.00 – 17.30 WIB, Senin (5/8/2019).

Pelatihan dilakukan berdasarkan permasalahan yang ada di desa Kedungpatangewu yaitu salah satunya adalah masalah limbah dari pengrajin tahu yang dibuang ke sungai tanpa adanya proses pengolahan terlebih dahulu, dan hal ini menyebabkan sungai di Desa Kedungpatangewu menjadi keruh.



Mahasiswa Undip membuat inovasi untuk memanfaatkan limbah tahu tersebut yaitu dengan dijadikan pupuk organik cair untuk tanaman. Pupuk organik cair berbahan dasar limbah tahu tersebut dibuat terlebih dahulu oleh mahasiswa dengan bahan yang diperoleh dari pengrajin tahu. Pembuatan pupuk membutuhkan waktu selama 2 minggu.

Setelah pupuk jadi, mahasiswa melakukan pemaparan dan mencontohkan kepada Ibu-Ibu PKK bagaimana cara membuat pupuk organik cair tersebut, cara aplikasi pupuk pada tanaman, dan juga memberikan sedikit pengetahuan tentang ilmu bidang pertanian.


Pelatihan pembuatan pupuk tersebut disambut dengan antusias oleh Ibu-Ibu PKK sehingga proses kegiatan berjalan dengan lancar. Banyak yang mengajukan beberapa pertanyaan kepada mahasiswa yang dapat dijawab dengan baik sehingga dapat menambah pengetahuan masyarakat desa.



Solusi Mutakhir dari Mahasiswi Undip Memecahkan Permasalahan Kesulitan Pakan Ternak di Musim Kemarau


PEKALONGAN - Mahasiswi KKN Undip Tim II mengadakan sosialisasi dan pendampingan terkait pembuatan pakan ternak ruminansia. Cara pembuatan pakan yang disampaikan oleh mahasiswi UNDIP ini merupakan pakan awetan atau pakan silase yang terbuat dari hijauan pakan segar, Selasa (6/8/2019).

Sosialisasi yang dilakukan pada malam hari pukul 20.00 WIB ini berjudul “Pendampingan dan Sosialisasi tentang Manfaat Pakan Silase serta Cara Pembuatan Pakan Silase sebagai Pakan Alternatif Ternak” oleh Diyan Ayu Puji Astutik dari Fakultas Peternakan dan Pertanian Undip yang bertempat di rumah salah satu Ketua RT di Desa Kedungpatangewu, Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan.

Hampir semua peternak yang ada di Desa Kedungpatangewu merupakan peternak Kambing dan Domba. Setelah dilakukannya survey pada minggu pertama pelaksanaan KKN ditemukan satu permasalahan serius yang dihadapi oleh para peternak. Permasalahan tersebut berhubungan dengan pakan yaitu sulitnya mencari pakan pada saat musim kemarau, padahal pada saat musim penghujan hijauan pakan yang ada sangatlah melimpah.

Hal ini lah yang membuat mahasiswi Undip untuk melakukan sosialisasi terkait tujuan, manfaat serta cara pembuatan pakan silase yang merupakan salah satu pakan alternatif untuk ternak ruminansia pada saat musim kemarau. Pada saat pelaksanaan mahasisiwi tersebut juga membawakan contoh pakan silase kepada peternak sehingga peternak tahu seperti apa nantinya pakan silase itu.


Pasca pelaksanaan sosialisasi diperoleh hasil bahwasanya para peternak sangat antusias dalam sosialisasi yang telah diberikan. Hal ini dibuktikan dengan pecahnya suasana tanya jawab yang dilakukan setelah sosialisasi. Para peternak menanyakan secara detail terkait cara pembuatan, manfaat, serta resiko yang ada terkait pembuatan pakan silase ini. Selain itu proses diskusi pun berlanjut dengan pembahasan terkait masalah peternakan yang dihadapi oleh peternak selama ini.

“Sosialisasi tentang pakan silase ini sangat bermanfaat sekali bagi peternak kambing di Desa Kedungpatangewu khususnya di Dusun Kebontengah ini, karena permasalahan peternak selama ini terkait susahnya mencari pakan di musim panas dapat diatasi sekarang” Ucap Bapak Khamim selaku ketua RT 10 Dusun Kebontengah. Beliau juga sangat antusias hingga rela menyediakan tempat untuk pelaksanaan sosialisasi.



Tim KKN Undip Kenalkan Desa Wisata untuk Menunjang Perekonomian Desa


PEKALONGAN - Senin (5/8/2019), Mahasiswi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Undip melakukan pemaparan mengenai Pengenalan Desa Wisata untuk Menunjang Perekonomian Desa bersama Perangkat Desa Kedungpatangewu. Pemaparan ini dilaksanakan di Balai Desa Kedungpatangewu, Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan dan dimulai pada pukul 09.00 WIB hingga Pukul 11.00 WIB.

Sosialisasi ini dilatarbelakangi oleh adanya potensi desa berupa jembatan gantung dan bendungan di Desa Kedungpatangewu yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan wisata. Pemaparan diawali dengan penjelasan mengenai pengertian desa wisata dan wisata pedesaan.

Desa Wisata sendiri merupakan suatu tempat yang memiliki ciri dan nilai tertentu yang dapat menjadi daya tarik khusus bagi wisatawan dengan minat khusus terhadap kehidupan pedesaan. Selanjutnya, materi dilanjutkan dengan penjelasan komponen – komponen apa saja yang terdapat di desa wisata yakni atraksi, fasilitas, aktivitas wisata, dan pengembangan umum.

Kemudian, perangkat desa diberi penjelasan mengenai manajemen produk desa wisata, karena untuk menjadi Desa Wisata yang memiliki daya saing dengan objek-objek wisata lain, diperlukan pengelolaan atau manajemen yang baik. Selain manajemen produk wisata, juga dibutuhkan manajemen pemasaran desa wisata, sumber daya manusia, dan pengembangan pariwisata berkelanjutan.

Manajemen pemasaran desa wisata harus memiliki tujuan dan alur pemasaran. Pada alur pemasaran harus ditentukan terlebih dahulu produk apa yang akan dipasarkan, target pasar yang akan dituju, dan harga yang akan diberlakukan. Sedangkan, didalam pengelolaan sumber daya manusia dibutuhkan struktur organisasi dan evaluasi secara berkala untuk mengetahui kinerja sumber daya manusia di desa wisata.

Dalam mengembangkan desa wisata, diperlukan pengelolaan yang memperhatikan aspek-aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi. Aspek-aspek ini terwakili dalam pengembangan pariwisata yang berkelanjutan. Demi kelangsungan Desa Wisata yang terus menerus, diperlukan pengelolaan pariwisata yang berkelanjutan.

Selanjutnya, pemaparan ditutup dengan sesi tanya jawab dan penyerahan modul pengembangan desa wisata kepada perangkat desa. Dengan adanya pemaparan ini diharapkan desa dapat membentuk desa wisata yang baik sehingga dapat menunjang perekonomian desa.



Berdayakan Orang Tua Tentang Tugas Perkembangan, Mahasiswi Undip Berikan Modul Developmental Checklist


PEKALONGAN - Minggu (28/7/2019), mahasiswi Undip berdayakan tentang pentingnya perkembangan bagi anak-anak pada Ibu-Ibu PKK. Pemberdayaan ini dilaksanakan dalam bentuk sosialisasi dengan judul “Step by Step: Pemberdayaan Orangtua terhadap Tugas Perkembangan Anak” oleh Rahma Zahidah Pertiwi dari Fakultas Psikologi Undip di Balai Desa Kedungpatangewu, Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan. Sosialisasi dimulai pada pukul 13.00 WIB waktu setempat, dengan sambutan dari Kepala Desa dan Ketua PKK.

Setelah dilakukan survey di Desa Kedungpatangewu, Kedungwuni, Pekalongan, mahasiswi mendapatkan informasi bahwa masih banyak warga di desa yang memiliki anak di bawah lima tahun (balita) dan merupakan orangtua muda. Hal ini lah yang memberikan ide bagi mahasiswi untuk melakukan pemberdayaan terkait tugas perkembangan, melihat pentingnya perkembangan bagi individu. Perkembangan merupakan periode waktu sedari bayi dalam kandungan hingga pada akhirnya kembali kepada Yang Maha Kuasa.


Selama periode waktu tersebut masa hidup individu dibagi ke dalam tahapan-tahapan yaitu Masa Bayi, Masa Kanak-kanak, Masa Remaja, Masa Dewasa, dan Masa Lansia. Individu dalam menjalani setiap tahapannya memiliki tugas perkembangan yang perlu dipenuhi agar memaksimalkan tumbuhkembang dalam diri individu. Setiap tugas perkembangan tersebut saling berkaitan, artinya ketika tugas disalah satu tahap tidak terpenuhi akan mempengaruhi tahap perkembangan berikutnya.

Kemudian mahasiswi juga menjelaskan manfaat dari mengetahui tugas perkembangan yang sesuai dengan tahapan yang sedang dialami oleh anak. Diantaranya adalah dapat mendeteksi kebutuhan anak. Orang tua menjadi lebih paham dan mengerti dalam mengedukasi anak dengan kemampuan yang dimiliki anak sesuai tahapannya.

Demi mendukung pemberdayaan ini mahasiswi juga memberikan modul berisikan tugas perkembangan anak disetiap umurnya mulai dari usia 0 tahun hingga 18 tahun. Orang tua dapat memberikan tanda ceklis di tugas perkembangan yang sudah terlaksana atau sudah dilewati oleh sang anak. Sehingga orangtua dapat mengantisipasi tugas perkembangan berikutnya yang perlu diperhatikan.



Mahasiswi KKN Undip Sulap Limbah Nasi Basi Menjadi Larutan yang Kaya Manfaat


PEKALONGAN - Senin, (5/8/2019) Salah satu mahasiswi KKN Tim II Undip, Desa Kedungpatangewu, Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan memaparkan sosialisasi mengenai pemanfaatan limbah rumah tangga nasi basi menjadi Pupuk Organik Cair. Limbah nasi basi merupakan limbah organik yang sangat sering dijumpai dan kerap terbuang begitu saja. Jika, dikelola dengan baik dan benar, limbah ini akan menimbulkan sekian manfaat bahkan bisa mengalirkan pundi-pundi rupiah.

Sosialisasi ini disampaikan oleh Raras Sekar Kinasih, mahasiswi Fakultas Peternakan dan Pertanian Jurusan Agribisnis. Kegiatan ini dilaksanakan di salah satu rumah anggota PKK pada forum rutin PKK.

Limbah merupakan sisa atau buangan dari hasil suatu proses produksi atau proses alami yang dianggap tidak bernilai dan tidak dapat dipergunakan. Limbah sendiri terbagi menjadi limbah organik dan anorganik. Limbah organik merupakan limbah yang masih dapat diuraikan kembali oleh bakteri dimana limbah tersebut umumnya berasal dari sisa aktivitas manusia atau hewan seperti sisa makanan.

Berdasarkan hasil survei dan observasi yang telah dilakukan tim KKN, Desa Kedungpatangewu memiliki persoalan terkait pengelolaan limbah atau sampah yang cenderung belum teratasi dengan baik dan benar. Tidak tersedianya TPS atau TPA menghambat pengelolaan limbah di desa ini.

Berbagai pandangan dan gagasan dituangkan oleh segenap mahasiswa tim KKN demi mendapat solusi dalam pemecahan masalah yang sudah ada sejak 10 tahun lalu ini. Salah satunya adalah melalui pemanfaatan limbah rumah tangga nasi basi yang menggunakan bantuan Mikroorganisme Lokal atau yang lebih dikenal dengan MOL.



Sosialisasi ini berjalan dengan lancar dan kondusif. Mayoritas audience yang hadir merupakan Ibu-Ibu yang cenderung menyukai kegiatan bercocok tanam skala kecil contohnya di pekarangan rumah sehingga, keberadaan pupuk atau larutan nutrisi ini memang cukup dibutuhkan dalam kegiatan bercocok tanam.

Selain dapat dimanfaatkan sebagai pupuk, larutan ini dapat dijadikan bioaktivator yang dapat membantu mempercepat penguraian pada proses fermentasi seperti saat pengomposan hingga mempercepat penguraian sampah. Antusiasme terlihat dari beberapa pertanyaan yang dilontarkan tentang keberlanjutan pemanfaatan limbah nasi basi ini. Anggota PKK terlihat cukup mulai tertarik untuk sedikit mengubah cara hidup dalam menjaga lingkungan dengan salah satunya melalui pengelolaan limbah dan penggunaan bahan non-kimia.

Menengok Cireng dan Natade Aloevera Ala Mahasiswa KKN Undip


KAB. SEMARANG – Minggu (28/7/2019) Mahsiswa KKN Undip Tim II mengadakan pelatihan pembuatan nata de alovera dan cireng ikan. Nata de Aloevera sendiri disampaikan oleh Sarsa mahasiwa Biologi.Ia memilih Nata de Alovera sebagai inovasi produk dari lidah buaya, produk ini dipilih karena dilihat banyaknya tanaman lidah buaya disekitar Desa Kebumen sehingga hal itu memudahkan masyarakat setempat apabila ingin menjadikan produk ini sebagai salah satu ciri khas produk di Desa Kebumen, Banyubiru.

Selain memberikan pelatihan mengenai pengolahan lidah buaya, Tim KKN Undip juga memberikan pelatihan mengolah cireng yang dicampur dengan ikan. Hal ini dilihat dari keunggulan dari Desa Kebumen sendiri yaitu banyaknya ikan disekitar desa, banyak masyarakat yang memiliki kolam ikan sendiri di masing-masing halaman belakang rumah warga setempat.

Salma dan Sarsa mengakui bahwa nata de aloevera dan cireng ikan adalah produk makanan yang mudah dibuat sehingga diharapkan ibu-ibu setempat mampu mengulangi pembuatannya lagi dengan panduan resep yang telah mereka bagikan.



Banyak sekali masyarakat yang antusias menyambut Tim KKN Undip, seperti yang dituturkan oleh Ibu Widya masyarakat setempat, ia mengatakan bahwa produk-produk yang di demonstrasikan oleh Sarsa dan Salma ini bisa menjadi pemicu kreativitas ibu-ibu setempat, produk-produk ini bisa saja menjadi peluang bisnis UMKM yang ada di desa mereka karena pengolahan yang mudah serta dirasa cukup menarik peminat.

Mahasiswa KKN Undip Ajak Siswa SD Widuri Pemalang Kelola Sampah Plastik


PEMALANG — Tingginya konsumsi plastik menjadikan Indonesia kini dalam posisi darurat sampah plastik. Pemerintah Indonesia pada tahun 2019 pun semakin menggencarkan aturan terkait pembatasan penggunaan kantong plastik guna menurunkan jumlah sampah plastik.

Berkaca dari permasalahan ini, para mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) Semarang yang tergabung dalam Tim II Kuliah Kerja Nyata (KKN) Undip 2019 Kelurahan Widuri Pemalang tergerak melakukan edukasi tentang sampah dan pengelolaannya kepada siswa-siswi sekolah dasar yang ada di Kelurahan Widuri, Kecamatan Pemalang, Kabupaten Pemalang. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari berturut-turut (6/8 s.d. 8/8) ini dilaksanakan secara bergilir di SD Negeri 01 Widuri, SD Negeri 02 Widuri, dan SD Negeri 03 Widuri.

Di hadapan siswa-siswi sekolah dasar, mahasiswa KKN Undip memperkenalkan kategori sampah anorganik dan organik beserta bahaya sampah plastik. Sebagai upaya mengatasi sampah plastik yang sudah tercipta, mereka mengajarkan bagaimana cara membuat ecobrick. Namun, mereka menegaskan bahwa ecobrick merupakan langkah terakhir jika memang telah tercipta sampah plastik. Mereka mengajak siswa-siswi untuk terbiasa membawa wadah makan dan minum pribadi guna mengurangi konsumsi plastik.

Terakhir, mereka mengajarkan bagaimana cara mencuci tangan yang baik dan benar. Tidak hanya lingkungan, kebersihan tubuh juga perlu dijaga. Mencuci tangan adalah salah satu upaya untuk melindungi diri dari kuman dan penyakit, terutama usai melakukan berbagai aktivitas, membuang sampah contohnya,

Melakukan edukasi tidaklah cukup, mahasiswa KKN Undip juga turut mengajak pihak sekolah untuk melakukan kerjasama dengan pedangan kaki lima di lingkungan sekolah, Kerjasama tersebut yaitu kesepakatan agar pedagang mengurangi penggunaan plastik saat berjualan.



Pembelian makanan dan minuman oleh siswa-siswi hanya akan dilayani pedagang jika membawa wadah makanan dan minuman pribadi, Dengan membawa wadah makanan dan minuman pribadi ketika membeli makanan dan minuman, siswa-siswi diharapkan dapat mengurangi pemakaian plastik.

Kegiatan ini disambut baik oleh pihak sekolah-sekolah di Widuri. Dindin Budi Suprayitno selaku Kepala Sekolah SD Negeri 02 Widuri mengapresiasi kegiatan yang diadakan Mahasiswa KKN Undip. Dindin mengatakan bahwa materi yang disampaikan mengenai sampah ini mendidik siswa agar menjaga kebersihan terutama di lingkungan sekolah serta meningkatkan kesadaran siswa untuk peduli terhadap lingkungan sekitarnya.

“Dari segi mendidiknya mengarah pada bagaimana anak-anak ini peduli terhadap lingkungan supaya mereka memiliki kehidupan yang sehat karena anak yang sehat tentu semua komponen bisa berfungsi maksimal baik pikiran maupun fisik,” tuturnya.
Ia pun berterimakasih kepada mahasiswa KKN Undip yang telah melakukan edukasi yang positif kepada anak didiknya. “Siswa memang perlu adanya didikan yang positif terutama mengenai kebersihan,” pungkasnya. 

Reporter :
Asma Muthiah Syahidah
Mahasiswa Tim II KKN Undip 2019 Kelurahan Widuri, Kecamatan Pemalang, Kabupaten Pemalang