11 Warna Bendera

Representasi dari 11 fakultas di Undip

Patung Diponegoro (Pangeran Diponegoro)

Icon-nya Kampus Universitas Diponegoro

Tugu Bundaran Kampus Undip Tembalang

Pintu gerbang utama masuk kampus Undip Tembalang

Ruang Terbuka Hijau Kampus Undip

Menuju Kampus Undip yang Asri dan Sejuk untuk Aktivitas Mahasiswa dan Masyarakat Sekitar

Gedung Prof. Soedarto S.H

Pusat Kegiatan Seminar, Workshop, Seni, Verifikasi-Registrasi, dll

Gedung ICT Centre dan Laboratorium Terpadu

Pusat Informasi Dalam dan Luar Negeri, IT, dan Laboratorium Penelitian

Masjid Kampus (Maskam) Undip

Pusat Kegiatan Islam Mahasiswa (Kajian, Wisata Ruhani, Wisata Ilmu, Mentoring, TPQ, Muslimah Training, dll)

Rusunawa Undip

Fasilitas Tempat Tinggal yang disediakan Pihak Kampus Bagi Mahasiswa

SPBU Undip Tembalang

Stasiun Pengisian Bahan Bakar yang Terintegrasi di Dalam Area Kampus. Satu-satunya di Jawa Tengah

Rumah Sakit Nasional Diponegoro (RSND)

Rumah Sakit Universitas Milik Undip Berstandar Nasional. Satu-satunya di Jawa Tengah

'Futsal Indoor Stadium' Undip

Stadion Futsal Kampus Undip Berkelas Internasional. Satu-satunya di Jawa Tengah

Bendungan Waduk Undip

Mega Proyek Pembangunan Waduk Kampus Undip. Satu-satunya di Jawa Tengah

Waduk Undip (Waduk Pendidikan Diponegoro)

Area Konservasi, Wisata Pendidikan dan Penelitian Mahasiswa, Pembangkit Listrik, dll. Satu-satunya di Jawa Tengah

Stadion Sepakbola Undip

Pusat Kegiatan Olahraga Sepakbola di Kompleks Gelora Undip Tembalang, Semarang

Upacara PMB di Stadion Undip

Lebih Dari 50 Ribu Mahasiswa Menimba Ilmu di Kampus Undip

Upacara Penerimaan Mahasiswa Baru di Stadion Sepakbola Undip

Menerima rata-rata 10 Ribu Mahasiswa Baru Tiap Tahun

Widya Puraya

Salah Satu jantung Kampus Undip Tembalang (UPT Perpustakaan, LP2MP, Posko KKN, Lapangan Upacara, dll)

Mahasiswa Undip Temukan Solusi Antidiabetes dari Ekstrak Buah Mengkudu


SEMARANG, KampusUndip.com - Diabetes Melitus (DM) adalah kelainan metabolisme karbohidrat, dimana glukosa darah tidak dapat digunakan dengan baik sehingga menyebabkan keadaan hiperglikemia. DM dan penyakit dapat menimbulkan komplikasi yang spesifik akibat perjalanan penyakit seperti retinopati (bisa menyebabkan kebutaan), gagal ginjal, neuropati, ateroklerosis (bisa menyebabkan stroke), gangrene, dan penyakit arteria koronaria (Coronary artery disease).

Pada tahun 2011, Indonesia berada pada peringkat ke-10 untuk kasus diabetes tertinggi di dunia dengan jumlah penderita 7,2 juta jiwa dan pada tahun 2013 naik menjadi peringkat ke-7 dengan jumlah penderita mencapai 8,5 juta jiwa.

Menurut data sample registration survey pada artikel Kementerian Kesehatan bahwa pada tahun 2014 diabetes menjadi penyebab kematian terbesar ketiga di Indonesia sebesar 6,7% setelah stroke dan penyakit jantung koroner (PJK). Penyakit ini membunuh 3,8 juta orang per tahun dan dalam setiap 10 detik seorang penderita akan meninggal karena sebab-sebab yang terkait dengan diabetes.

Berawal dari permasalahan tersebut, Tim PKM-PE yang beranggotakan Maulina Susilaningtyas, Pelastri Rahayu dan Viqi Iddahan mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Diponegoro (Undip) dengan pembimbing dr. Siswi Jayanti, M.Sc meneliti kombinasi ekstrak buah mengkudu, kunyit dan bawang putih sebagai terapi penurun hiperglikemia.

Dari ketiga kombinasi tersebut memiliki kandungan masing-masing flavonoid pada buah mengkudu, kurkumin pada kunyit dan allicin pada bawang putih yang dapat mengurangi resistensi insulin pada penderita Diabetes Mellitus tipe 2.


Penelitian ini diuji cobakan kepada tikus wistar jantan dengan memberikan masing-masing kelompok kombinasi ekstrak mengkudu + kunyit, mengkudu + bawang putih, kunyit + bawang putih, dan kombinasi dari ketiga ekstrak mengkudu + kunyit + bawang putih.


Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi mengkudu + bawang putih dapat menurunkan kadar gula darah pada tikus wistar paling tinggi sebesar 42% dibandingkan kombinasi ekstrak yang lain.

PKM Undip Era Berseri, Terapi Anak Korban Verbal Abuse dengan Seni


SEMARANG, KampusUndip.com - Individu yang mengumpat dengan cara berkata kasar, jorok, dan tidak pantas merupakan fenomena yang kerap ditemukan. Namun, sulit rasanya untuk percaya bahwa anak-anak seusia sekolah kerap melakukan hal serupa. Anak-anak menyerap perbendaharaan kata melalui apa yang dilihat dan didengar melalui lingkungan sekitarnya.

Faktanya, lingkungan sekitar kurang mendukung tumbuh kembang anak-anak. Sebagai contoh, anak-anak yang tinggal di pinggiran kota besar, yang mana masyarakatnya rentan mengalami permasalahan sosial. Individu dewasa tersebut cenderung berperilaku secara “bebas” yang menyebabkan anak-anak di sekitarnya mengalami beberapa bentuk perlakuan yang mengarah pada kekerasan.

Kekerasan verbal maupun fisik memberi dampak yang cukup serius terhadap perkembangan psikologis anak seperti kemampuan regulasi emosi yang menimbulkan perilaku agresif. Sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa fenomena anak-anak di Indonesia yang meniru tindakan kekerasan secara verbal maupun fisik kerap ditemukan.

Tim PKM-M Universitas Diponegoro (Undip) Era Berseri mengupayakan sebuah program berbasis seni kepada anak-anak SD Servatius Semarang berusia 9-12 tahun yang rentan mengalami kekerasan verbal. Subjek diberi pendampingan dalam mengerjakan tugas-tugas khusus berbasis seni dengan melibatkan aktifitas seperti menggambar, mewarnai, menempel, hingga membuat prakarya dari barang bekas.


Selain itu, tim Era Berseri juga merancang sebuah modul interaktif agar subjek dapat mengerjakan secara mandiri kapanpun dan dimanapun, modul tersebut telah dirancang berisi tugas-tugas serta cuplikan motivasi dengan menyesuaiakan kondisi subjek. Subjek dalam menjalankan aktivitas seni tersebut tidak diharuskan memiliki keterampilan menggambar, kreativitas tertentu maupun kemampuan estetik.

Namun, tujuan dari intervensi ini adalah sebagai upaya pelatihan regulasi emosi dalam mengatasi amarah, ketegangan, rasa takut serta perasaan tidak tentram lainnya pada anak korban kekerasan verbal. Perasaan-perasaan tersebut timbul karena subjek kerap mengendap emosi kemarahan yang didapat dari lingkungannya dan sulit untuk mengungkapkan.


Dosen Pembimbing:
Dra. Frieda Nuzulia Ratna Hadiyati M.S.

Anggota Tim:
- Afaafa Yuniss Puspita                 
- Retno Utami
- Tirshavira Andaristi
- Yusrina Sabila Zaujati Hanifah 

Tagline: Keep Calm, and Let’s Grow with the Joy

Mahasiswa Undip Manfaatkan Kulit Singkong Atasi Pencemaran Limbah Tekstil


SEMARANG, KampusUndip.com - Masalah pencemaran di atas tentunya tidak asing bagi kita, bukan? Tingkat pencemaran tersebut sejalan dengan peningkatan sektor industri. Seperti yang kita ketahui bahwa Indonesia mengalami kemajuan yang sangat pesat di bidang industri, salah satunya pada industri tekstil. Kemajuan industri tekstil dapat meningkatkan jumlah limbah zat warna, namun seringkali pembuangan limbah kurang diperhatikan. Kita tahu bahwa pembuangan limbah zat warna ke sungai tersebut dapat mengakibatkan pencemaran dan berbahaya bagi kesehatan masyarakat. Penurunan kualitas air yang menyebabkan sungai tersebut tidak dapat dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Oleh karena itu, diperlukan solusi yang tepat untuk menangani pencemaran air sungai oleh limbah zat warna industri tekstil. 

Singkong (Manihot esculenta L.)  merupakan tanaman yang banyak ditemukan di Indonesia. Hal tersebut ditandai dengan meningkatnya produksi panen tanaman ini setiap tahunnya. Sejauh ini pemanfaatan singkong hanya terbatas sebagai bahan makanan pokok pengganti beras dan bahan mentah untuk berbagai produk olahan, sedangkan kulitnya seringkali dibuang. Padahal, kulit singkong mengandung senyawa pati yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber karbon dalam pembuatan material karbon nanodot atau yang lebih dikenal dengan C-dot melalui metode hidrothermal.

Berdasarkan permasalahan tersebut, mahasiswi Universitas Diponegoro (Undip), Kharisma Madda Ellyana, Kharisma Luthfiaratri Rahayu dan Ratri Febriastuti yang dibimbing dosen Kimia Undip, Drs. Abdul Haris, M.Si dalam Program Kreatifitas Mahasiswa berinovasi untuk mengatasi masalah pencemaran air sungai oleh limbah zat warna adalah pembuatan komposit TiO2/C-dot berbahan dasar kulit singkong (Manihot esculenta L.) sebagai material fotodegradasi limbah zat warna, khususnya senyawa methylene blue, di mana efektifitasnya diuji menggunakan instrumen spektrofotometer UV-Vis. Keunggulan dari inovasi ini adalah proses pembuatan komposit TiO2/C-dot yang mudah, sumber bahan baku yang murah dan melimpah, serta peningkatan kemampuan fotodegradasi terhadap senyawa methylene blue, sehingga dapat menjadi solusi untuk mengatasi permasalahan limbah zat warna industri batik.


Kharisma Madda, selaku ketua Tim mengungkapkan bahwa hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa TiO2/C-dot mampu mendegradasi limbah insdustri tekstil dengan efektivitas tinggi sehingga kulit singkong Cdot/TiO2 dapat dimanfaatkan sebagai penjernih limbah tekstil di sungai.

Stres Gara-Gara Kuliah? Kotak Semata Karya Mahasiswa Undip Solusinya


SEMARANG, KampusUndip.com - Tim PKM-PSH Kotak Semata dari Fakultas Psikologi UNDIP yang beranggotakan Anisa Kusumaningtyas, Ainaya Nuril Alifa,  dan Magdalena Margaretha yang dibimbing oleh Dr.phil Dian Veronika Sakti Kaloeti, S.Psi, M.Psi.

Salah satu fakultas di perguruan tinggi yang sering sekali mengalami stres akademik yaitu fakultas teknik. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Karpaga Vinayaga Educational Institute, menunjukkan bahwa 75% mahasiswa Fakultas Teknik mengalami stres yang berkaitan dengan masalah perkuliahan. (Vidya D.C dkk, 2017).

Dari data tersebut, dapat dilihat bahwa persoalan yang berkaitan dengan akademik merupakan salah satu penyebab utama timbulnya stres pada mahasiswa.

Cara yang dapat dilakukan untuk membantu menurunkan stres yaitu dengan memberikan upaya intervensi terhadap stres tersebut. Kami tertarik untuk melakukan penelitian mengenai efektivitas intervensi terhadap stres akademik mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Diponegoro (Undip). Dimana dalam penelitian ini intervensi yang diberikan kepada subjek penelitian yaitu berupa Kotak Semata (Semangat Bersama Kita).


Kotak Semata adalah bentuk intervensi psikologi dengan cara memberikan beberapa buah kotak sebagai tempat untuk mengumpulkan kertas yang bertuliskan tentang pengalaman stres yang dialami, strategi untuk menghilangkan stres dan kebersyukuran yang dirasakan oleh mahasiswa Fakultas Teknik dan akan menjadi suatu bentuk motivasi atau dorongan di saat mahasiswa stres dalam menjalani segala tuntutan akademis di perkuliahan. Dorongan ini adalah dorongan positif yang bersifat membangun.

PKM Undip Kalong Berdasi, Kaos Oblong Edukasi Gizi Masa Kini


SEMARANG, KampusUndip.com - Tim (Program Kreativitas Mahasiswa) PKM-Kewirausahaan Mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) yang diketuai  Lilis Wijayanti, dan beranggotakan Elma Aprilia, Fatmala Sinta Kartika, Resti Mawarni, Rindi Antika memanfaatkan kaos sebagai salah satu media promosi gizi kepada masyarakat.

Kaos merupakan pakaian sehari-hari yang banyak digunakan oleh masyarakat dari kalangan anak-anak hingga dewasa. Kaos dapat dimanfaatkan sebagai media promosi kesehatan seperti halnya pamplet maupun brosur. Kaos dengan edukasi gizi ini di namai Kalong Berdasi yang merupakan singkatan dari kaos oblong dengan edukasi gizi.

Kalong berdasi ini dibuat dari bahan kaos cotton combed 30s yang nyaman dipakai sehari-hari. Kainnya nyaman dipakai dan lembut, bahannya lebih kuat dan tidak mudah robek, tidak mudah kisut bila dicuci, tidak panas saat dipakai, menyerap keringat, dan tidak berbulu setelah dicuci. Selain itu bahan sablon yang digunakan merupakan sablon rubber dengan kualitas yang baik sehingga tahan pencucian berulang tanpa menghilangkan gambar pada kaos.






Kalong Berdasi memiliki sasaran promosi gizi di semua usia mulai dari anak-anak hingga dewasa. Desain kaos yang menghiasi Kalong Berdasi merupakan desain dengan tema edukasi gizi, seperti gambar hidup sehat dengan makanan sehat, konsumsi air putih, olahraga teratur, makan buah dan sayur, serta meningkatkan aktivitas fisik.




Dengan adanya kaos dengan edukasi kesehatan terutama tentang gizi ini diharapkan dapat membantu menggencarkan promosi kesehatan di bidang gizi serta memberikan manfaat kepada masyarakat agar dapat menerapkan kebiasaan hidup sehat dengan gizi yang seimbang.

S-Drafusi, Penurun Lemak Abdominal Inovatif Karya Mahasiswa Undip


SEMARANG, KampusUndip.com - Ayam broiler merupakan salah satu produk peternakan yang sangat diminati masyarakat Indonesia, seiring berkembangnya jaman tingkat konsumsinya semakin meningkat. Sehingga menimbulkan banyak peternakan ayam broiler di Indonesia. Salah satu alasan masyarakat memilih ayam broiler adalah masa memeliharanya yang lebih cepat dan tekstur daging yang lebih lunak dibandingkan dengan daging unggas lainnya. Waktu yang dibutuhkan untuk memelihara ayam broiler yaitu sekitar 35-40 hari untuk mendapatkan bobot 1,5 kg. Perilaku konsumsi masyarakat Indonesia saat ini adalah lebih menyukai pola sehat, sehingga dalam hal mengkonsumsi daging pun menyukai daging yang rendah lemak. Ayam broiler cenderung menimbun pakan yang dikonsumsinya menjadi lemak, sehingga jika pemeliharaan ayam broiler melebihi masa panennya akan menyebabkan penambahan lemak yang disimpan dibawah kulit dan dalam abdomen. Permasalah tersebut akan menyebabkan tingkat kesukaan masyarakat terhadap daging ayam broiler menjadi menurun dan akan merugikan para peternak.

Berawal dari permasalahan diatas timbulah sebuah gagasan dari TIM PKM PE dari Universitas Diponegoro (Undip) yang terdiri dari Intan Nur Fathur Rowi (Peternakan 2016), Imas Pupah Siti Alfauziah (Peternakan 2016) dan Diah Wulandari (Peternakan 2016) dengan dosen pembimbing Bapak Sugiharto, S.Pt., M.Sc., Ph.D untuk mengatasi permasalahan tersebut dengan membuat S-Drafusi (Skin Dragon Fruit Fermentation).



“S-Drafusi kami buat untuk memanfaatkan salah satu limbah pertanian yaitu kulit buah naga, dimana keberadaan buah naga di Indonesia sekarang melimpah. Sehingga tidak dapat dipungkiri lagi limbah yang ada akan melimpah. Gaagasan yang kita ciptakan juga akan menjawab permasalahan pengatasan limbah organik. Kulit buah naga yang kita manfaatkan berasal dari tempat-tempat yang memanfaatkan buah naga, seperti tukang jus, restaurant ataupun industri olahan buah naga lainnya. Kulit buah naga dilakukan perlakuan fermentasi yang ditambahkan dengan Bacillus sp. Alasan mengapa kita memanfaatkan kulit buah naga adalah karena kulit buah naga memiliki beberapa zat yang sangat penting seperti kandungan β-amirin, α-amirin, oktakosan, γ-sitosterol, oktadekan, l-tetrakosanol, heptakosan, kampesterol, antioksidan dan antibakteri. Antioksidan yang terkandung dalam kulit buah naga yang sangat tinggi mampu mendegradasikan lemak (Oktaviani, 2014). Pemberian antioksidan pada ransum ternak tidak dapat menurunkan performa ternak dan tidak mempengaruhi kandungan asam-asam lemak, pemberian antioksidan pada ternak dapat menurunkan lemak baik pada daging, hati, kulit maupun tunggir (Randa, 2007). Kombinasi antioksidan yang mengandung senyawa vitamin A, C dan E dapat mempertahankan stabilitas lipid daging (Randa, 2007)

Siskoponik Karya Mahasiswa Undip Solusi Tepat Pemberian Nutrisi Tanaman


SEMARANG, KampusUndip.com - Penyempitan lahan pertanian akibat pembangunan infrastruktur telah menjadi permasalahan yang berakibat pada penurunan produktivitas hasil pertanian khususnya pada komoditas sayuran. Usaha untuk mengatasi hal tersebut ialah dengan sistem budidaya hidroponik. Hidroponik merupakan salah satu solusi untuk mengatasi keterbatasan lahan di daerah perkotaan. Hidroponik sudah banyak dilakukan oleh masyarakat, namun dalam pengaplikasiannya banyak faktor yang menentukan keberhasilan dalam budidaya sayuran secara hidroponik, diantaranya ialah unsur hara, media tanam, oksigen dan air.

Pemberian nutrisi harus teratur sesuai dengan kepekatan yang dibutuhkan oleh setiap jenis tanaman. Menurut Kaunang et al. (2016) menyebutkan bahwa 70% masyarakat pengguna sistem hidroponik tidak memahami cara pemberian nutrisi sehingga pemberian nutrisi dilakukan hanya sebulan sekali. Selain itu, masyarakat memiliki kesibukannya masing-masing sehingga terkendala  dalam pengecekan nutrisi masih manual dan dilakukan setiap hari.

Berangkat dari permasalahan di atas, tiga mahasiwa Universitas Diponegoro (Undip) yaitu Syahrul Mubarok (Instrumentasi & Elektronika 2015), Dicky Wisnu Dwi Wahyudi (Instrumentasi & Elektronika 2015) dan Devy Octaviany (Agroekoteknologi 2015) yang tergabung dalam tim Program Kreativitas Mahsiswa Karsa Cipta (PKM-KC) serta Dosen Pembimbing Ir. Karno, M. Appl. Sc., PhD ini termotivasi untuk menciptakan solusi berupa SISKOPONIK “Sistem Kontrol Nutrisi dan pH Otomatis pada Hidroponik NFT untuk Sayuran”.


SISKOPONIK mengenalkan cara untuk menerapkan pemberian nutrisi secara tepat waktu, dengan sistem pemberitahuan komponen ketersediaan nutrisi dan pH yang otomatis sehingga dapat menyelesaikan permasalahan intensivitas pemberian nutrisi. Besaran set point pada sensor bisa diatur berdasarkan jenis tanaman yang akan ditanam pada hidroponik. Pembacaan sensor dan pengaturan set point ini akan menjadi acuan untuk melakukan pemberian nutrisi dan pH secara otomatis pada hidroponik. Pemantauan juga dilakukan secara real time, sehingga tidak perlu untuk dilakukannya pengecekan kandungan kualitas air pada hidroponik, karena sudah dilakukan monitoring oleh sistem secara otomatis.